KISAH - KISAH MUALAF
Jip Hengky Jana P, M.B.A. : Sulit Memahami Doktrin Trinitas
Thursday, 20 October 2005 01:22 mualafindonesia
Meski
dilahirkan sebagai keturunan Tionghoa yang secara turun-temurun
menganut agama Budha, tetapi saya tidak mendalami ajaran agama nenek
moyang kami itu. Saya justru lebih paham ajaran gereja. Hal ini bisa
dimaklumi, karena masyarakat keturunan Tionghoa sekarang lebih banyak
yang meninggalkan agama nenek moyangnya, dan lebih memilih agama
Kristen sebagai pegangan hidupnya. Alasannya, karena agama Kristen
dianggap lebih ringan pelaksanaan ibadahnya.
Faktor itu pula yang
menyebabkan saya lebih banyak bergaul dengan kawan-kawan yang beragama
Kristen, balk yang Katolik Roma, Protestan, Pantekosta, Advent, dan
sebagainya. Selain itu, faktor pendidikan formal juga sangat
mempengaruhi keimanan saya. Saya semakin jauh dari wihara dan klenteng
(rumah ibadah orang Tionghoa).
Pendidikan formal saya, sejak TK
sampai SMA, saya ialui di lembaga pendidikan Katolik. Sampai usia
remaja, meski saya tak pernah dibaptis, tetapi saya sudah merasa
sebagai umat Kristen (Katolik) daripada sebagai jemaat wihara (umat
Budha).
Saya dilahirkan pada tanggal 21 Juni 1969 di Semarang,
Jawa Tengah. Keluarga saya keturunan Tionghoa yang sukses sebagai
pengusaha foto dan percetakan. Seperti umumnya masyarakat keturunan
Tionghoa, kedua orang tua saya memeluk agama nenek moyang yang telah
dianut turun temurun, yakni agama Budha.
Tidak berbeda dengan
keluarga Tionghoa yang lain, dalam hal pendidikan agarna, keluarga saya
juga tidak pernah menanamkan keimanan (agama Budha) yang mendalam. lni
barangkali sekadar tradisi saja bahwa nenek moyang kami mewariskan
kebudayaannya itu kepada keturunannya. Dalam ajaran agama Budha
sepertinya tidak ada norma-norma khusus yang mengatur pelaksanaan
ibadah. Ya, seperti aliran kepercayaan saja. Sehingga, tidak sedikit
orang Tionghoa yang notabene pemeluk agama Budha, tetapi masih meyakini
ajaran lain sebagai agamanya, umumnya agama Kristen.
Sebagai
anak sulung dari tiga bersaudara, kedua orang tua kami mengharapkan
agar saya berhasil dalam hidup dan menjadi teladan bagi kedua adik
saya. Sebab itulah, ketika mengijak usia 5 tahun saya dimasukkan ke
Taman Kanak Kanak favorit di kota Semarang, yakni TK Kanisius
Kebondalem, selama dua tahun. SD dan SMP pun saya tempuh di lembaga
yang sama.
Aktivis Gereja
Stammat SMP saya pun
melanjutkan studi di SMA Katolik Kebondalem. Lembaga pendidikan ini
termasuk paling dibanjiri peminat. Jadi, merupakan gengsi tersendiri
bila diterima di sekolah itu. Saat belajar di SMA itulah saya
benar-benar menjadi umat Katolik. Bukan lagi sebagai pemeluk Budha.
Kegiatan-kegiatan
gereja, baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakat selalu saya
ikuti dengan tekun. Saya tidak peduli, walaupun tidak pernah dibaptis.
Bahkan, di sekolah sava termasuk siswa yang aktif mengikuti kegiatan
keagamaan, baik di OSIS (seperti peringatan hari besar agama Kristen)
dan juga kegiatan misa di gereja atau kapel sekolah yang rutin diadakan
seminggu sekali.
Rupanya, Tuhan berkenan menolong saya dari
jalan yang sesat. Beberapa tahun yang lalu setelah saya tamat SMA, saga
sering merenung tentang ajaran trinitas yang menjadi landasan pokok
iman kristiani. Sava merasa sulit memahami ajaran itu. Teryata banyak
sekali kejanggalan yang saya temukan.
Mempelajari Islam
Tuhan
Yang Maha Agung membuka pintu hati saya. Di saat saya meragukan
kebenaran ajaran trinitas itu, saya seperti ditunjukkan untuk
mempelajari Islam sebagai perbandingan. Dan ternyata, masya Allah, luar
biasa. Dalam Al-Qur’an dan hadits telah diatur hukum bagi sekalian alam
yang benar adanya.
Tidak lama setelah mendalami kandungan
Al-Qur’an, saya secara rutin belajar agama (Islam) pada seorang guru
ngaji. Masih berstatus sebagai mahasiswa STIE-PPMTT (Pusat Pendidikan
Manajemen dan Teknik Terapan), saya mengucapkan ikrar dua kalimat
syahdat beserta seluruh keluarga.
Alhamdulillah, salah satu adik
saya, Jip Christianto Jana P, telah tamat dari Pondok Pesantren Modem
Gontor, jawa Timur, dan kini kuliah di Akademi Perindustrian Yogyakarta
Jurusan Teknik Mesin. Sedangkan adik saya yang bungsu, Jip Rudi Jana
P., kini rnasih belajar di Pondok Pesantren as-Salam Surakarta.
Sedangkan,
saya sendiri setelah menamatkan pendidikan manajemen dan meraih gelar
Master of Bussines Administration (M.B.A.), kini berwiraswasta di
bidang percetakan. Harapan saya, semoga keluarga kami senantiasa
diterangi petunjuk-Nya. Amin. (Kaswanto/Albaz - dari Buku "Saya memilih
Islam" Penyusun Abdul Baqir Zein, Penerbit Gema Insani Press website : http://www.gemainsani.co.id/)
Ireni (Ny. Han Hoo Lie): Calon Suster yang Membelot
Monday, 19 September 2005 11:48 mualafindonesia
SAYA
lahir dari keluarga Katolik yang taat, 45 tahun yang lalu di Surabaya,
Jawa Timur. Nama asli saya Han Hoo Lie, tapi biasa dipanggil Ireni.
Sejak kecil saya sudah mendalami agama. Ketika SD saya ikut privat
agama di biara, dan itu berlangsung hingga saya SMP kelas dua. Mungkin,
lantaran sering bergaul dengan para suster di biara itu, dalam diri
saya timbul keinginan untuk menjadi seorang suster (biarawati).
Dalam
pandangan saya, alangkah mulia dan sucinya seorang biarawati itu,
karena dia telah mengabdikan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Dengan
kesederhanaan hati dan penuh kasih sayang mereka membimbing orang
-orang ke arah iman Yesus Kristus. Sungguh, saya ingin sekali seperti
mereka. Keluarga saya mendukung sepenuhnya cita-cita saya itu.
Maka,
untuk mewujudkan cita-cita itu, sejak kecil saya sudah aktif dalam
kegiatan gereja. Karena aktivitas saya itulah, sejak kelas satu SMA
saya sudah terpilih sebagai Ketua Presidium Yunior Ligio Maria.
Organisasi ini bergerak dalam bidang karya, kerasulan, dan doa. Begitu
tamat SMA, saya langsung masuk ke sekolah susteran (biarawati) di
Bandung.
Selama menempuh pendidikan di sekolah biarawati itu,
selain mengikuti kuhah di biara seperti umumnya para calon suster
maupun suster muda, saya bersama salah seorang teman diberi tugas
khusus untuk kuliah di Institut Filsafat dan Teologia Bandung. Saya
tidak tahu mengapa saya yang diberi tugas itu. Memang saya akui, bahwa
di antara teman-teman di biara itu sayalah yang paling kritis. Kalau
ada sesuatu yang nnenurut logika saya tidak nalar, selalu saya
tanyakan. Itulah sifat saya sejak kecil.
Salah satu yang pernah
saya tanyakan adalah konsep trinitas (Tuhan Bapak, Tuhan Anak, dan Roh
Kudus). Juga status Yesus sebagai Tuhan-kalau memang Yesus itu
Tuhan-mengapa tatkala disalib is memanggil-manggil, "Eloy… Eloy…,
lama sabakhtani?" (Allah… Allah…, mengapa Engkau tinggalkan aku?
(Markus 15 ayat 33)).
Dari jawaban jawaban yang diberikan,
semuanya tidak memuaskan hati saya. Jika saya ingin bertanya lagi,
mereka selalu memotong, "Jangan dipertanyakan lagi, yang penting kamu
imam dan yakini dalam hati. Itu sudah cukup." Akhirnya saya diam,
meskipun belum puas. Karena Institut Filsafat dan Teologia ada mata
kuliah studi-perbandingan agama, maka saya pun mempelajari agama-agama
yang ada, termasuk Islam. Sejak saat itulah saya mulai
membanding-bandingkan, misalnya antara Islam dan agama saya.
Tidak
terhitung jumlahnya buku-buku Islam yang saya baca. Cuma, semua buku
itu karangan orang-orang di luar Islam. Entah mengapa, ada larangan
buku-buku Islam yang ditulis orang Islam masuk ke perpustakaan kami.
Untungnya, sejak berangkat dari Surabaya dulu saya sudah membawa
AlQur’an dan terjemahannya dari rumah. Saya juga heran, kok dulu sempat
membawa AI-Qur’an. Mungkin sudah takdir Allah.
Mempelajari Al Qur’an
Terjemahan
Al-Qur’an itulah yang kemudian saga pelajari secara sembunyi-sembunyi
di biara. Entah mengapa, saya begitu tertarik dengan Al-Qur’an itu.
Mungkin karena besarnya keinginan saya untuk membandingkannya dengan
Injil. Belum banyak yang saya pelajari, tiba-tiba saya menemukan surat
al-Ikhlas. "Katakanlah (hai Muhammad) Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah
adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada
beranak, dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang
setara dengan Dia "
Secara tidak sadar, setelah membaca surat
al-Ikhlas itu hati saya mengakui, inilah kosep ketuhanan yang sempurna:
sederhana tapi gamblang.
Meskipun demikian, bukan berarti
kemudian saya bergegas masuk Islam. Pengakuan akan kesempurnaan konsep
ketuhanan Islam itu hanya mengendap dalam pikiran. Saya pun terus
mempelajari Al-Qur’an hingga ketemu surat Al-Hujurat ayat 13. "Hai
manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan
perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya
kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang-orang yang mulia di antara
kamu di sisi Allah adalah orang-orang yang bertakwa."
Apa yang
tertangkap dalam pikiran saya pada waktu itu? Ah, Al-Qur’an ini
mengada-ada. Mana mungkin orang seluruh dunia disuruh saling
berkenalan? Tetapi anehnya, pikirani saya justru terangsang dengan ayat
tersebut. Saya ingin tahu apa maksud Al-Qur’an mengatakan seperti itu.
Sava berdialog dengan diri sendiri untuk mencari jawabannya. Saya
renung-renungkan, bukankah avat itu menunjukan bahwa Islam itu
universal. berlaku untuk semua bangsa dan suku?
Ialu berbagai
pertanyaan timbul dalam benak saya, siapakah pengarang Al-Qur’an itu,
dan sudah berapa kali mengalami penyempurnaan? Pertanyaan itu timbul
karena kitab-kitab suci yang lain sudah mengalami penyempumaan demi
penyempurnaan dari masa ke masa. Lalu, mengapa kitab suci ini diberi
nama Al-Qur’an?
Betapa terkejutnya saga setelah tahu dari
membaca buku bahwa Al-Qur’an itu tidak pernah mengalami penyempurnaan.
Demikian pula namanya bukan hasil pemberian seseorang sebagaimana Injil
yang nama-namanya diambil dari penulisnya. Al-Qur’an temyata wahyu
langsung dari Allah, dan Allah pula yang memberi nama kitab itu
Al-Qur’an.
Saya mulai yakin akan kebenaran Islam. bagi saya
Islam bukan agama buatan manusia yang bernama Muhammad sebagai mana
ditanamkan kepada saya sejak kecil. Islam adalah agama ciptaan Allah.
Masuk Islam
Namun
sampai sejauh itu, saya masih belum mau berikrar untuk menjadi seorang
muslim. Masih ada perasaan gengsi dalam diri saya. Sebab, image yang
tumbuh di lingkungan saya adalah bahwa umat Islam itu bodoh, miskin,
kumuh, dan suka amuk. Anggapan seperti itu tergurat kuat dalam benak
saya.
Namun, agaknya Tuhan punya ketentuan lain. Dalam suatu
perjalanan ke Bandung saya mengalami musibah kecelakaan. Karena
kecelakaan itu, mau tidak mau saya mengambil cuti dari biara, pulang ke
Surabaya. Setelah sembuh saya sempat kuliah di Jakarta mengambil
jurusan sosial kemasvarakatan. Mungkin karena banyak bergaul dengan
mahasiswa-mahasiswa Islam, penilaian saya terhadap Islam menjadi lebih
objektif. Dan, sejak itulah saya sudah tidak berniat lagi untuk kembali
ke biara. Saya merasa biara bukan tempat yang cocok buat saya. Maka,
pada saat pulang ke Surabaya saya segera memutuskan tidak akan kembali
ke biara.
Secara kebetulan, saat itu sava bermimpi yang sama
beberapa kali. Dalam mimpi saya itu, seolah-olah teman-teman di biara
berbaris ke suatu arah, sedangkan saya sendiri berbaris ke arah yang
berlawanan. Mimpi seperti itu berlangsung sampai beberapa hari.
Ditambah lagi, di dalam mimpi itu ada suara yang seakan-akan membisikan
bahwa umur saya tinggal 40 hari lagi.
Pada malam berikutnya
suara itu membisikan umur saya tinggal 39 hari. Setiap hari selalu
berkurang satu hari. Begitu seterusnya. Saya bertanya-tanya, apakah ini
suatu kebetulan atau firasat tertentu? Orang tua saya bingung ketika
saya ceritakan mimpi saya itu. Berbagai jalan mereka tempuh untuk
mengusir mimpi "aneh" itu. sampai-sampai orang tua saya
menyelenggarakan slametan bubur sengkolo. Maksudnya untuk menolak bala.
Akan
tetapi, walaupun sudah dislametin, toh malamnya tetap saja datang hal
yang sama seperti kemarin. Demikian pula hari-hari berikutnya , sampai
waktu 40 hari itu habis. Akhirnya saya berpikir praktis saja, "Apalah
artinya sebuah mimpi. Toh, saya masih hidup meski ‘umur’ saya telah
berakhir menurut numipi itu."
Namun, satu hal yang tidak bisa
saya ingkari adalah suara hati saya sendiri. Suara hati itu selalu
membisikkan, "Kalau memang kamu mengakui kebenaran Islam, mengapa kamu
tidak berahi dan tidak mampu memeluk agama Islam? Apakah selamanya kamu
akan mendustai nuranimu sendiri? Apakah kamu akan terus berada di
persimpangan jalan?" Itulah bisikan-bisikan suara hati saya.
Lama-lama
saya tak kuat lagi membohongi nurani saya sendiri. Akhirnya, sehari
menjelang puasa Ramadhan, tepatnya 11 tahun yang lalu saya pun berikrar
menjadi seorang muslim di Masjid al-Falah, Surabaya. Kini, sampai mati
pun saya ingin tetap sebagai muslim, meski rintangan menghadang jalan
hidup saya. (Bambang S / Albaz - dari Buku "Saya memilih Islam"
Penyusun Abdul Baqir Zein, Penerbit Gema Insani Press website : http://www.gemainsani.co.id/)
Last Updated ( Monday, 14 January 2008 10:08 )
Stefanus R Sumangkir (Mantan Pendeta) : Penggeliat Paguyuban Mualaf Tegal
Monday, 15 August 2005 08:00 mualafindonesia
Sudah
sekitar tiga tahun terakhir, Stefanus R Sumangkir, bergerak membangun
kelompok yang menjadi ajang berkumpulnya para mualaf (orang yang baru
masuk Islam), di Tegal, Jawa Tengah. Kelompok ini disebut sebagai
Paguyuban Mualaf Kallama. Kini anggotanya sudah mencapai 19 orang.
Kelompok itu berusaha untuk mandiri dengan berupaya semampunya. Dana
untuk organisasi didapat dari iuran anggota dan sumbangan dermawan.
”Paguyuban ini untuk ajang komunikasi dan juga wahana mendalami
Islam,” ujar Sumangkir.
Jalan yang ditempuh Sumangkir untuk
bisa membangun komunitas mualaf ini cukup berliku. Mulanya, Sumangkir
yang kini berusia 56 tahun itu adalah seorang penginjil. Ajaran Kristen
memang telah melekat pada keluarga Sumangkir sejak dia masih kecil.
Pada 1986-1987, Sumangkir dikirim untuk menuntut ilmu di sekolah
teologi di Malang, Jawa Timur. Ilmu-ilmu yang diperlukan untuk jadi
penginjil pun diserapnya. Hingga 1988, Sumangkir dipercaya Gereja
Maranatha Slawi untuk membimbing jemaat.
Dia sempat dikirim ke Desa
Karanggedang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, untuk misi pengkristenan.
Di desa yang mayoritas penduduknya eks-tapol Pulau Buru itu, Sumangkir
rajin mendekati warga agar masuk Kristen. Dengan semangat tinggi,
Sumangkir bisa meluluhkan sebagian hati warga sehingga ada yang memeluk
Kristen. Di Karanggedang ini, Sumangkir mengaku pertama kali mendapat
hidayah dari Tuhan. ”Saat saya menemui seorang yang akan kami
Kristenkan, orang itu bertanya kepada saya tentang Tuhan yang katanya
satu tetapi mencipta dua hukum. Contohnya tentang babi, di mana Kristen
menghalalkan dan Islam mengharamkan. Atas pertanyaan itu saya
kebingungan,” ujarnya mengenang.
Sejak itu dia mencoba membuka-buka
Injil yang menjadi pedoman bagi agama Kristen. Ternyata Surat Imamat 11
ayat 7 menyebutkan babi haram karena memiliki dua kuku yang terbelah.
Namun para pendeta Kristen, saat mengajar di gereja-gereja tak
menyatakan babi haram bagi umat Kristen. Beberapa tahun berlalu.
Sumangkir mendapat tugas mengajar di Gereja Maranata dan GPPS Budimulya
di Slawi, Kabupaten Tegal. Di situ Sumangkir berceramah di hadapan
jemaat tentang babi yang diharamkan. Ternyata ceramah itu menjadi tidak
berkenan bagi majelis gereja yang langsung menskorsnya. Nama Stepanus
Sumangkir dihapus dari daftar penceramah tanpa alasan.
Saat itu
Sumangkir tidak langsung berganti agama, namun tetap saja pada
pendirian sebagai penginjil. Secara mandiri dia aktif mencari sasaran
di tengah masyarakat yang miskin. Kehidupan sebagai penginjil cukup
menopang ekonominya pada waktu itu. Dua anaknya, Euneke Alfa Lidia (16
tahun) dan Critoper Pitagoras (13 tahun) bisa sekolah dan hidup layak.
Di tengah kegalauan jiwanya tentang keyakinan dalam beragama, Sumangkir
mendapat hidayah yang kedua. Kali ini lewat tayangan televisi Indosiar
yang memutar film Ramadhan berjudul Jamaludin Al Afghani. Film tentang
tokoh Islam itu mengetuk hati keluarga Sumangkir untuk memeluk Islam.
Dari sinilah ghirah Islamnya terus tumbuh, sampai akhirnya dia
membangun Paguyuban Mualaf Kallama.
Mulanya, kelompok ini menggelar
pengajian rutin setiap malam Senin, bertempat di rumah Sumangkir di
Jalan Murbei No 16, Kelurahan Kraton, Kecamatan Tegal Barat, Kota
Tegal. Mereka biasanya memanggil ustadz untuk menambah ilmunya. Anggota
paguyuban mualaf yang dipimpin Sumangkir terkadang harus lapang dada
diperlakukan tidak adil. Perlakuan seperti ini, misalnya, pernah
dialami Gunawan yang bekerja di sebuah toko emas di Kota Tegal. Sejak
lama Gunawan menjadi penganut Katolik yang taat, namun akhirnya dia
memilih masuk Islam. Saat masih memeluk Katolik, lingkungan tempatnya
bekerja terbilang kondusif. Namun, begitu Gunawan ketahuan setiap Jumat
pamit ke masjid untuk shalat Jumat, pemilik toko menjadi kurang
berkenan. Akhirnya Gunawan dipecat.
Karena kebutuhan ekonomi,
akhirnya para mualaf yang semula aktif mengikuti kegiatan pengajian
menjadi berkurang. ”Ya saya maklum, mereka harus bisa menghidupi
keluarga. Sehingga, mereka memilih keluar kota mencari pekerjaan,”
tutur Sumangkir. Sumangkir sendiri menggantungkan hidupnya sebagai
penceramah dibantu istrinya, Siti Fatimah, juga mualaf, yang tiap hari
berjualan nasi gudeg. Karena faktor kesibukan itu, aktivitas Paguyuban
Mualaf Kallama tak lagi rutin. Namun, Sumangkir tetap ingin
menjalankannya. Kini sedang dirintis agar paguyuban itu bisa menjadi
ajang usaha bersama.
Beberapa anggota yang memiliki keahlian akan
dirangkulnya. Sumangkir yang piawai dalam membuat papan reklame dan
sablon, akan merintis usaha dalam bidang tersebut. Cuma, katanya, kini
belum punya modal. Untuk membangun usaha reklame memang diperlukan
peralatan seperti kompresor, dan peralatan sablon yang harganya cukup
mahal. Bersama anggotanya, dia akan terus berupaya agar ada penghasilan
yang bisa menghidupi keluarganya dan Paguyuban Mualaf Kallama. Sumber :
Harian Republika, http://www.republika.co.id
Situa Ojak Hutagaol (H. Abd. Razak H.) : Menemukan Kebenaran dalam Islam
Monday, 11 July 2005 08:31 mualafindonesia
Saya,
ketika itu, begitu bangga menjadi umat kristiani. Bahkan, saya sering
mengejek umat Islam dengan kata-kata kotor. Bagi saya waktu itu, Islam
tak lebih sebagai agamanya orang-orang miskin yang kotor dan
menjijikkan. Tapi, setelah saya mengenal Islam lebih jauh dan mulai
bersahabat dengan orang Islam, baru saya mengerti bahwa Islam adalah
agama yang suci.
ISLAM adalah agama hakiki yang dapat dikaji dan
didiskusikan. Islam juga tak berseberangan dengan alam rasional
sehingga kebenaran dapat ditemukan dalam Islam. Nama saya sekarang H.
Abdul Razak Hutagaol (43), tapi sebelum Islam saya dikenal dengan nama
Situa Oak Hutagaol. Saya seorang aktivis Gereja HKBP (Huria Kristen
Batak Protestan) Tanjung Priok, Jakarta Utara. Saya menjadi muslim pada
tanggal 16 September 1997 di Masjid Syuhada, Yogyakarta. Alhamdulillah,
sebulan kemudian saya menunaikan ibadah umrah. Bahkan, setahun kemudian
saya menunaikan ibadah haji. (Amien, Red.)
Keluarga kami sangat
taat beragama. Papi saya adalah seorang akhvis gereja sehingga saya dan
seluruh keluarga selalu mempelajari agama. Teringat ketika masih kecil,
papi sering menyuruh saya untuk datang ke gereja. Bahkan kalau tak mau,
ia sering memarahi saya.
Proses awal saya masuk Islam, melalui
pengkajian pendalaman terhadap Alkitab (Bibel) yang saya bandingkan
dengan kitab suci Al-Qur’an. Temyata Al-Qur’an lebih konsisten, baik
dalam redaksi maupun ajarannya.
Saya, ketika itu, begitu bangga
menjadi umat kristiani. Bahkan, saya sering mengejek umat Islam dengan
kata-kata kotor. Bagi saya waktu itu, Islam tak lebih sebagai agamanya
orang-orang miskin yang kotor dan menjijikkan. Tapi, setelah saya
mengenal Islam lebih jauh dan mulai bersahabat dengan orang Islam, baru
saya mengerti bahwa Islam adalah agama yang suci.
Di antara perintah
(ayat) Injil yang tidak dipatuhi umat Kristen adalah soal keharusan
memakal kerudung bagi kaum wanitanya, termasuk perintah tak boleh
memakan daging babi, seperti tertuang dalam Injil Matius 5:17 dan
Imamat 11: 7. Umat Kristen tak mempedulikan larangan ini. Lain halnya
dengan Islam yang selalu menaati perintah tersebut.
Lalu masalah
teologi, yakni konsep ketuhanan yang sangat membingungkan dan tak masuk
akal, yaitu mengenai masalah trinitas (Tuhan Bapa, Tuhan Anak, dan Roh
Kudus). Jadi, menurut saya, falsafah Kristen itu sudah tak dapat
dipercaya.
Saya juga memperhatikan munculnya aliran (sekte) yang
ada di dalam agama Kristen Misalnya, ada pendeta di Guyana, Amerika
Latin, yang memerintahkan jemaatnya untuk melakukan bunuh diri massal,
dengan tujuan ingin bertemu Tuhan Ini menurut saya tak masuk akal. Tapi
dalam Islam, seperti di pesantren-pesantren atau di majelis-majelis
taklim, tak pernah ada hal semacam itu.
Sebab itu, saya bertekad
untuk mendalami Islam lebih jauh. Dan, ternyata Islam memberikan
cakrawala berpikir lebih rasional. Sehingga Islam itu bisa dikaji dan
didiskusikan seperti mengenai masalah haram, makruh, halal, dan
lainnya. Islam itu juga tak mengenal dogma-dogma.
Saya juga
teringat pada awal masuk Islam, ada kejadian aneh yang saya alami –
mungkin tidak ada orang yang percaya. Ceritanya terjadi ketika saya
sedang mengalami kesulitan ekonomi. Ada suara aneh dan sangat kasar
menyuruh saya untuk membaca Al-Qur’an dan melakukan shalat. Perintah
ini jelas sekali terdengar sampai tiga kali berturut-turut.
Saya
waktu itu dalam keadaan sadar. Saya tak mengerti, apakah suara itu
suara jin atau apa. Tapi, saya berpikir keras. Setelah proses mengkaji
itu, mungkin ini perintah Allah kepada saya. Kejadian ini seringkali
muncul ketika saya sedang dalam keadaan susah.
Saya
mengibaratkan kejadian yang selalu mendadak ini sebagai ilham kepada
saya. Apa yang selama ini saya anggap gaib, ternyata dapat saya
rasakan. Hingga akhirnya saya memilih Islam sebagai pegangan hidup.
Sebulan
kemudian, saya menjalankan ibadah umrah yang dibiayai oleh Haji
Darmanto. Selesai umrah, saya banyak belajar mendalami Islam dengan
bimbingan Ustadz Drs. H. Syamsul Arifin Nababan, pimpinan Yayasan
Pendidikan Muallaf. Saya juga terus mendalami Islam di yayasan
pendidikan Islam serta pesantren-pesantren lainnya.
Cobaan Iman
Setelah
masuk Islam, banyak pula cobaan yang menimpa saya. Di antaranya waktu
kembali dari ibadah umrah, saya ditangkap polisi atas tuduhan perbuatan
yang tidak menyenangkan atas pengaduan orang tua saya. Dan ternyata,
penangkapan itu dipimpin oleh ipar saya sendiri. Tapi akhirnya
persoalan selesai dan semuanya telah saya maafkan.
Sedangkan
orang tua saya sekarang ini masih belum bisa memaafkan saya. la belum
juga mau menjumpai saya, walaupun saya sudah melakukan kompromi dengan
berbagai pihak untuk mengadakan pertemuan itu. Tapi, sampai saat ini
belum berhasil. Mudah-mudahan Allah bisa memberikan hidayah kepadanya.
Saya
juga mengalami cobaan dalam hal ekonomi. Dulu, saya seorang kontraktor
yang sukses dan hidup sangat kecukupan. Tapi, sekarang ini saya diuji
Allah, dengan dihilangkan sebagian dari harta yang saya miliki.
Sekarang saya hidup sederhana.
Saya cukup pusing dengan sikap
anak-anak saya yang tidak mau menerima kenyataan ini. Mereka selalu
bertanya, "Mengapa dulu sebelum ayah masuk Islam hidup kita
berkecukupan, bisa punya mobil mewah, bisa beli apa yang diinginkan.
Tapi sekarang, setelah ayah masuk Islam hidup kita menjadi susah?"
Pertanyaan-pertanyaan
inilah yang membuat saya sedih. Bagaimana saya harus menerangkan kepada
anak-anak saya itu? Saya hanya bisa meneteskan air mata. Hanya bisa
memohon kepada Allah dan selalu berzikir dan terus berusaha. Karena
anak-anak saya belum bisa menerima Islam, sedangkan istri saya sudah
dapat menerima dan sudah saya islamkan.
Saya terus berusaha
membuktikan kepada anak-anak kami bahwa sebenarnya Islam itu tidak
membuat orang jadi melarat. Allah juga membuktikannya kepada saya
melalui rezeki yang tak diduga-duga. Ini saya yakini sebagai anugerah
Allah kepada saya. (dari Buku "Saya memilih Islam" Penyusun Abdul Baqir
Zein, Penerbit Gema Insani Press website : http://www.gemainsani.co.id/).
Last Updated ( Monday, 14 January 2008 10:23 )
Abraham David Mandey : Pendeta yang mendapat Hidayah Allah
Friday, 24 June 2005 10:00 mualafindonesia
Barangkali
tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa perjalanan hidupnya merupakan
suatu kasus yang langka dan unik. Betapa tidak, Abraham David Mandey
yang selama 12 tahun mengabdi di gereja sebagai "Pelayan Firman Tuhan
", istilah lain untuk sebutan pendeta, telah memilih Islam sebagai
"jalan hidup" akhir dengan segala risiko dan konsekuensinya. Di samping
itu, ia yang juga pernah menjadi perwira TNI-AD dengan pangkat mayor,
harus mengikhlaskan diri melepas jabatan, dan memulai karir dari bawah
lagi sebagai kepala keamanan di sebuah perusahaan swasta di Jakarta.
Cerita
Beliau ini, - mohon maaf - tidak bermaksud untuk menjelek-jelekan
Institusi tertentu karena apa yang telah terjadi Beliau terima dengan
ikhlas dan tawakal, Beliau hanya ingin menceritakan proses bagaimana
Beliau mendapat hidayah dan tantangannya sebagai mualaf - red.
Saya
terlahir dengan nama Abraham David di Manado, 12 Februari 1942.
Sedangkan, Mandey adalah nama fam (keluarga) kami sebagai orang
Minahasa, Sulawesi Utara. Saya anak bungsu dan tiga bersaudara yang
seluruhnya laki-laki. Keluarga kami termasuk keluarga terpandang, baik
di lingkungan masyarakat maupun gereja. Maklum, ayah saya yang biasa
kami panggil papi, adalah seorang pejabat Direktorat Agraria yang
merangkap sebagai Bupati Sulawesi pada awal revolusi kemerdekaan
Republik Indonesia yang berkedudukan di Makasar. Sedangkan, ibu yang
biasa kami panggil mami, adalah seorang guru SMA di lingkungan sekolah
milik gereja Minahasa.
Sejak kecil saya kagum dengan
pahlawan-pahlawan Perang Salib seperti Richard Lion Heart yang
legendaris. Saya juga kagum kepada Jenderal Napoleon Bonaparte yang
gagah perwira. Semua cerita tentang kepahlawanan, begitu membekas dalam
batin saya sehingga saya sering berkhayal menjadi seorang tentara yang
bertempur dengan gagah berani di medan laga.
Singkatnya, saya
berangkat ke Jakarta dan mendaftar ke Mabes ABRI. Tanpa menemui banyak
kesulitan, saya dinyatakan lulus tes. Setelah itu, saya resmi mengikuti
pendidikan dan tinggal di asrama. Tidak banyak yang dapat saya
ceritakan dari pendidikan militer yang saya ikuti selama 2 tahun itu,
kecuali bahwa disiplin ABRI dengan doktrin "Sapta Marga"-nya telah
menempa jiwa saya sebagai perwira remaja yang tangguh, berdisiplin, dan
siap melaksanakan tugas negara yang dibebankan kepada saya.
Meskipun
dipersiapkan sebagai perwira pada bagian pembinaan mental, tetapi dalam
beberapa operasi tempur saya selalu dilibatkan. Pada saat-saat operasi
pembersihan G-30S/PKI di Jakarta, saya ikut bergabung dalam komando
yang dipimpin Kol. Sarwo Edhie Wibowo (almarhum).
Setelah
situasinegara pulih yang ditandai dengan lahirnya Orde Baru tahun 1966,
oleh kesatuan saya ditugaskan belajar ke STT (Sekolah Tinggi Teologi)
milik gereja Katolik yang terletak di Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat.
Di STI ini, selama 5 tahun (1966-1972) saya belajar, mendalami,
mengkaji, dan diskusi tentang berbagai hal yang diperlukan sebagai
seorang pendeta. Di samping belajar sejarah dan filsafat agama Kristen.
STT juga memberikan kajian tentang sejarah dan filsafat agama-agama di
dumia, termasuk studi tentang Islam.
Menjadi Pendeta.
Sambil
tetap aktif d TNI-AD, oleh Gereja Protestan Indonesia saya ditugaskan
menjadi Pendeta II di Gereja P***** (edited) di Jakarta Pusat,
bertetangga dengan Masjid Sunda Kelapa. Di gereja inilah, selama kurang
lebih 12 tahun (1972-1984) saya memimpin sekitar 8000 jemaat yang
hampir 80 persen adalah kaum intelektual atau masyarakat elit.
Di
Gereja P***** (edited) ini, saya tumpahkan seluruh pengabdian untuk
pelayanan firman Tuhan. Tugas saya sebagai Pendeta II, selama
memberikan khutbah, menyantuni jemaat yang perlu bantuan atau mendapat
musibah, juga menikahkan pasangan muda-mudi yang akan berumah tangga.
Kendati
sebagai pendeta, saya juga anggota ABRI yang harus selalu siap
ditugaskan di mana saja di wilayah Nusantara. Sebagai perwira ABRI saya
sering bertugas ke seluruh pelosok tanah air Bahkan, ke luar negeri
dalam rangka tugas belajar dari markas, seperti mengikuti kursus staf
Royal Netherland Armed Forces di Negeri Belanda. Kemudian, pada tahun
1969 saya ditugaskan untuk mengikuti Orientasi Pendidikan Negara-negara
Berkembang yang disponsoni oleh UNESCO di Paris, Prancis.
Dilema Rumah Tangga
Kesibukkan
saya sebagai anggota ABRI ditambah tugas tugas gereja, membuat saya
sibuk luar biasa. Sebagaipendeta, saya lebih banyak memberikan
perhatian kepada jemaat. Sementara,kepentingan pribadi dan keluarga
nyaris tergeser. Istri saya, yang putri mantan Duta Besar RI di salah
satu negara Eropa, sering mengeluh dan menuntut agar saya memberikan
perhatian yang lebih banyak buat rumah tangga.
Tetapi yang
namanya wanita, umumnya lebih banyak berbicara atas dasar perasaan.
Karena melihat kesibukan saya yang tidak juga berkurang, ia bahkan
meminta agar saya mengundurkan diri dan tugas-tugas gereja, dengan
alasan supaya lebih banyak waktu untuk keluarga. Tenth saja saya tidak
dapat menerima usulannya itu. Sebagai seorang "Pelayan Firman Tuhan"
saya telah bersumpah bahwa kepentingan umat di atas segalanya.
Problem
keluarga yang terjadi sekitar tahun 1980 ini kian memanas, sehingga bak
api dalam sekam. Kehidupan rumah tangga saya, tidak lagi harmonis.
Masalah-masalah yang kecil dan sepele dapat memicu pertengkaran. Tidak
ada lagi kedamaian di rumah. Saya sangat mengkhawatirkan Angelique,
putri saya satu-satunya. Saya khawatir perkembangan jiwanya akan
terganggu dengan masalah yang ditimbulkan kedua orang tuanya. Oleh
karenanya, saya bertekad harus merangkul anak saya itu agar ia mau
mengerti dengan posisi ayahnya sebagai pendeta yang bertugas melayani
umat. Syukur, ia mau mengerti. Hanya Angeliquelah satu-satunya orang di
rumah yang menyambut hangat setiap kepulangan saya.
Dalam
kesunyian malam saat bebas dan tugas-tugas gereja, saya sering
merenungkan kehidupan ramah tangga saya sendiri. Saya sering berpikir,
buat apa saya menjadi pendeta kalau tidak mampu memberikan kedamaian
dan kebahagiaan buat rumah tangganya sendiri. Saya sering memberikan
khutbah pada setiap kebaktian dan menekankan hendaknya setiap umat
Kristen mampu memberikan kasih kepada sesama umat manusia. Lalu,
bagaimana dengan saya?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu semakin
membuat batin saya resah. Saya mencoba untuk memperbaiki keadaan.
Tetapi, semuanya sudah terlambat. Istri saya bahkan terang terangan
tidak mendukung tugas-tugas saya sebagai pendeta. Saya benar-benar
dilecehkan. Saya sudah sampal pada kesimpulan bahwa antara kami berdua
sudah tidak sejalan lagi.
Lalu, untuk apa mempertahankan rumah
tangga yang sudah tidak saling sejalan? Ketika niat saya untuk
"melepas" istri, saya sampaikan kepada sahabat-sahabat dekat saya
sesama pendeta, mereka umumnya menyarankan agar saya bertindak lebih
bijak. Mereka mengingatkan saya, bagaimana mungkin seorang pendeta yang
sering menikahkan seseorang, tetapi ia sendiri justru menceraikan
istrinya? Bagaimana dengan citra pendeta di mata umat? Begitu mereka
mengingatkan.
Apa yang mereka katakan semuanya benar. Tetapi,
saya sudah tidak mampu lagi mempertahankan bahtera rumah tangga. Bagi
saya yang terpenting saat itu bukan lagi persoalan menjaga citra
pendeta. Tetapi, bagaimana agar batin saya dapat damai. Singkatnya,
dengan berat hati saya terpaksa menceraikan istri saya. Dan, Angelique,
putri saya satu-satunya memilih ikut bersama saya.
Mencari Kedamaian
Setelah
kejadian itu, saya menjadi lebih banyak melakukan introspeksi. Saya
menjadi lebih banyak membaca literatur tentang filsafat dan agama.
Termasuk kajian tentang filsafat Islam, menjadi bahan yang paling saya
sukai. Juga mengkaji pemikiran beberapa tokoh Islam yang banyak
dilansir media massa.
Salah satunya tentang komentar K.H. E.Z.
Muttaqin (almarhum) terhadap krisis perang saudara di Timur Tengah,
seperti diYerusalem dan Libanon. Waktu itu (tahun 1983), K.H.E.Z.
Muttaqin mempertanyakan dalam khutbah Idul Fitrinya, mengapa Timur
Tengah selalu menjadi ajang mesiu dan amarah, padahal di tempat itu
diturunkan para nabi yang membawa agama wahyu dengan pesan kedamaian?
Saya
begitu tersentuh dengan ungkapan puitis kiai dan Jawa Barat itu.
Sehingga, dalam salah satu khutbah saya di gereja, khutbah Idul Fitni
K.H. E.Z. Muttaqin itu saya sampaikan kepada para jemaat kebaktian.
Saya merasakan ada kekagetan di mata para jemaat. Saya maklum mereka
terkejut karena baru pertama kali mereka mendengar khutbah dari seorang
pendeta dengan menggunakan referensi seorang kiai Tetapi, bagi saya itu
penting, karena pesan perdamaian yang disampaikan beliau amat manusiawi
dan universal.
Sejak khutbah yang kontroversial itu, saya banyak
mendapat sorotan. Secara selentingan saya pemah mendengar "Pendeta
Mandey telah miring." Maksudnya, saya dinilai telah memihak kepada
salah satu pihak. Tetapi, saya tidak peduli karena yang saya sampaikan
adalah nilai-nilai kebenaran.
Kekaguman saya pada konsep
perdamaian Islam yank diangkat oleh KH. E.Z. Muttaqin, semakin menarik
saya lebih kuat untuk mendalami konsepsi-konsepsi Islam lainnya. Saya
ibarat membuka pintu, lalu masuk ke dalamnya, dan setelah masuk, saya
ingin masuk lagi ke pintu yang lebih dalam. Begitulah perumpamaannya.
Saya semakin "terseret" untuk mendalami, konsepsi Islam tentang
ketuhanan dan peribadahan
Saya begitu tertarik dengan konsepsi
ketuhanan Islam yang disebut "tauhid". Konsep itu begitu sederhana,
lugas, dan tuntas dalam menjelaskan eksistensi Tuhan yang oleh orang
Islam disebut Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sehingga, orang yang paling
awam sekalipun akan mampu mencemanya. Berbeda dengan konsepsi ketuhanan
Kristen yang disebut Trinitas. Konsepsi ini begitu rumit, sehingga
diperlukan argumentasi ilmiah untuk memahaminya.
Akan halnya
konsepsi peribadatan Islam yang disebut syariat, saya melihatnya begitu
teratur dan sistematis. Saya berpikir seandainya sistemper ibadatan
yang seperti ini benar benar diterapkan, maka dunia yang sedang kacau
ini akan mampu di selamatkan.
Pada tahun 1982 itulah saya
benar-benar mencoba mendekati Islam. Selama satu setengah tahun saya
melakukar konsultasi dengan K.H. Kosim Nurzeha yang juga aktif di
Bintal (Pembinaan Mental) TNI-AD. Saya memang tidak ingin gegabah dan
tergesa-gesa, karena di samping saya seorang pendeta, saya juga seorang
perwira Bintal Kristen dilingkungan TNI-AD. Saya sudah dapat menduga
apa yang akan terjadi seandainya saya masuk Islam.
Tetapi, suara
batin saya yang sedang mencari kebenaran dan kedamaian tidak dapat
diajak berlama-lama dalam kebimbangan. Batin saya mendesak kuat agar
saya segera meraih kebenaran yang sudah saya temukan itu.
Oh,
ya, di samping Pak Kosim Nurzeha, saya juga sering berkonsultasi dengan
kolega saya di TNI-AD. Yaitu, Dra. Nasikhah M., seorang perwira Kowad
(Korps.Wanita Angkatan Darat) yang bertugas pada BAIS (Badan Intelijen
dan Strategi) ABRI.
Ia seorang muslimah lulusan UGM (Universilas
Gajah Mada) Yogyakarta, jurusan filsafat. Kepadanya saya sering
berkonsultasi tentang masalah-masalah pribadi dan keluarga. Ia sering
memberi saya buku-buku bacaan tentang pembinaan pribadi dan keluarga
dalam Islam. Saya seperti menemukan pegangan dalam kegundahan sebagai
duda yang gagal dalam membina rumah tangganya.
Akhirnya, saya
semakin yakin akan hikmah dibalik drama rumah tangga saya. Saya yakin
bahwa dengari jalan itu, Tuhan ingin membimbing saya ke jalan yang
lurus dan benar. Saya bertekad, apa pun yang terjadi saya tidak akan
melepas kebenaran yang telah saya raih ini.
Akhimya, dengan
kepasrahan yang total kepada Tuhan, pada tanggal 4 Mei 1984 saya
mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat dengan bimbingan Bapak K.H.
Kosim Nurzeha dan saksi Drs. Farouq Nasution di Masjid Istiqial. Allahu
Akbar. Hari itu adalah hari yang amat bersejarah dalam hidup saya. Han
saat saya menemukan diri saya yang sejati.
Menghadapi Teror
Berita
tentang keislaman saya ternyata amat mengejutkan kalangan gereja,
termasuk di tempat kerja saya di TNI-AD. Wajar, karena saya adalah
Kepala Bintal (Pembinaan Mental)Kristen TNI-AD dan di gereja, saya
adalah pentolan.
Sejak itu saya mulai memasuki pengalaman baru,
yaitu menghadapi tenor dan berbagai pihak. Telepon yang bernada ancaman
terus berdening. Bahkan, ada sekelompok pemuda gereja di Tanjung Priok
yang bertekad menghabisi nyawa saya, karena dianggapnya telah murtad
dan mempermalukan gereja.
Akan halnya saya, di samping
menghadapi teror, juga menghadapi persoalan yang menyangkut tugas saya
di TNI AD. DGI (Dewan Gereja Indonesia), bahkan menginim surat ke
Bintal TNT-AD, meminta agar saya dipecat dan kedinasan dijajaran ABRl
dan agar saya mempertanggungjawabkan perbuatan saya itu di hadapan
majelis gereja.
Saya tidak penlu menjelaskan secara detail
bagaimana proses selanjutnya, karena itu menyangkut rahasia Mabes ABRI.
Yang jelas setelah itu, saya menerima surat ucapan tenima kasih atas
tugas-tugas saya kepada negara, sekaligus pembebastugasan dan jabatan
saya di jajaran TNT-AD dengan pangkat akhir Mayor.
Tidak ada
yang dapat saya ucapkan, kecuali tawakal dan ménerima dengan ikhlas
semua yang tenjadi pada diri saya. Saya yakin ini ujian iman.
Saya
yang terlahir dengan nama Abraham David Mandey, setelah muslim menjadi
Ahmad Dzulkiffi Mandey, mengalami ujian hidup yang cukup berat.
Alhamdulillah, berkat kegigihan saya, akhirnya saya diterima bekerja di
sebuab perusahaan swasta. Sedikit demi sedikit kanin saya terus
menanjak. Setelah itu, beberapa kali saya pindah kerja dan menempati
posisi yang cukup penting. Saya pennah menjadi Manajer Divisi Utama FT
Putera Dharma. Pernah menjadi Personel/General Affairs Manager Hotel
Horison, tahun 1986-1989, Dan, sejak tahun 1990 sampai sekarang saya
bekerja di sebuah bank terama di Jakarta sebagai Safety & Security
Coordinator.
Kini, keadaan saya sudah relatif baik, dan saya
sudah meraih semua kebahagiaan yang selama sekian tahun saya rindukan.
Saya sudah tidak lagi sendiri, sebab Dra. Nasikhah M, perwira Kowad
itu, kini menjadi pendamping saya yang setia, insya Allah selama hayat
masih di kandung badan. Saya menikahinya tahun 1986. Dan, dan perikahan
itu telah lahir seorarig gadis kedil yang manis dan lucu, namariya
Achnasya. Sementara, Angelique, putri saya dari istri pertama, sampai
hari ini tetap ikut bersama saya, meskipun ia masih tetap sebagai
penganut Protestan yang taat.
Kebahagiaan saya semakin bertambah
lengkap, tatkala saya mendapat kesempatan menunaikan ibadah haji ke
Tanah Suci bersama istri tercinta pada tahun 1989.
Last Updated ( Monday, 14 January 2008 10:20 )
G.M. Sudarta : Kembali kepada Keagungan Islam
Monday, 13 June 2005 21:00 mualafindonesia
Nama
saya Geradus Mayela Sudarta, biasa disingkat G.M. Sudarta. Saya lahir
pada hari Rabu Kliwon di Desa Kauman, Klaten, Jawa Tengah tepatnya pada
20 February 1948. Saya putra bungsu dari pasangan Hardjowidjoyo dan
Sumirah.
Keluarga besar saya, separo Katolik dan separo Islam. Ayah
saya Islam Kejawen atau kebatinan, sedangkan ibu saya muslimah. Sejak
kecil sebenarnya saya sudah bersyahadat, tapi dalam bahasa Jawa. Meski
kemudian ketika menjelang remaja saya dipermandikan (dibaptis). Ini
mungkin karena pengaruh adik-adik ayah (paman) yang beragama Katolik.
Saya sering ikut ke Gereja bersama mereka. Karena seringnya ke Gereja,
saya pernah berujar, "Mendengarkan lagu Gregorian itu sama indahnya
seperi mendengar Adzan.".
Walaupun saya sudah dibaptis dan sering
diajak ke Gereja, namun saya seperti tidak beragama Kristen Katolik
saja, saya juga merasa sudah begitu akrab dengan agama Islam. Ibu dan
saudara-saudara ibu, juga berasala dari keluarga muslim, jadi dapat
saya katakan saya sudah begitu akrab dengan Islam.
Ketika saya di
SMP saya bahkan pernah menjadi Ketua Rating PII (Pelajar Islam
Indonesia) di sekolah. Ketika SMA, saya terlbat dalam pendirian Teater
Akbar bersama Deddy Soetomo. Kebetulan, anggotanya kebanyakan dari PII.
Teater yang saya dirikan sering menjuarai Festival HSBI (Himpunan Seni
Budaya Islam).
Teater kami sering membawakan naskah-naskah karya
ARifin C. Noer, salah satunya adalah naskah yang berjudul Amniah.
Naskah ini sering kami pentaskan. Bahkan dalam Kongres PII, Teater
Akbar menjadi juara pada festival seninya.
Akibat kemenangan ini,
sebuah surat kabar terbitan Semarang menulis, tidak semua anggota
Teater Akbar orang muslim. Posisi saya dalam teater ini menjadi serba
salah. Padahal saya hanya penata panggung dan kadang-kadang figuran.
Pernyataan surat kabar ini pastilah ditujukan kepada saya.
Bagi
saya, ini bukan masalah, dalam hal ini saya beruntung dibela oleh
sastrawan O’Galelano. Menurutnya yang penting adalah estetika nya.
Muslim atau bukan, yang penting bagus.
Selain aktif di dunia teater,
saya juga bergaul dengan teman-teman muslim. Dari sanalah saya mulai
membaca buku tentang keagamaan. Selain itu, saya juga membaca buku-buku
Tan Malaka dan sejenisnya, serta buku yang lebih bersifat
eksistensialis. Saya selalu bertanya, sehingga saya makin berfikir
untuk mencari sebab dan akibat kehidupan.
Saya hidup untuk apa ?
apalagi anggota Pelukis Rakyat banyak mempengarushi saya, sehingga saya
bersimpati pada perjuangan mereka, karena ada sebagian anggota yang
ikut menjawab pertanyaan saya. Tapi, itu tidak begitu lama. Akhirnya
saya terus berfikir untuk mencari tahu. Saya pernah berfikir, Tuhan
adxa atau tidak ada, tidak menjadi soal.
Sering Ziarah
Untuk
menjawab itu, saya sering pergi kebeberapa makan Sunan (Wali). Saya
sering tidur di makam Syekh Maulana Yusuf di Banten, makam Sunan Kudus,
bahkan sampai ke Gresik. Namun, pertanyaan itu makin gencar dalam hati
saya, walaupun saya sadar tidak akan terjawab. Saya banyak mencari-cari
terutama hal-hal yang musykil.
Perjalanan ziarah itu bukanlah untuk
mencari apa-apa. Bahkan saya tidak tahu untuk apa. Pertanyaan itulah
yang menuntun saya mengunjungi atau menziarahi makam para sunan, bahkan
sampai tidur disana. Yang jelas saya mencari pertanyaan yang tidak
pernah terjawab tentang Tuhan.
Dari perjalanan mengunjungi makam
para wali itu, saya pernah mengalaim kejadian aneh. Di saat saya
mengunjungi makan Syekh Maulana Yusuf di Banten, saya di datangi
seorang Arab berbaju putih dan bersorban, dengan logat yang kaku ia
berbicara tentang nabi Isa AS. Orangnya pintar sekali.
Selanjutnya
orang itu menjabat tangan saya, anehnya bau wanginya selama satu minggu
tidak hilang, walaupun sering saya cuci. Dari situ saya mencari orang
itu sampai ke Kudus dan tempat lain. Saya mencari orang itu tapi tidak
ketemu.
Walaupun saya bukan seorang muslim, namun mengunjungi makam
para wali sangat berarti bagi saya. Selain mencari jawaban atas hakikat
hidup, sekaligus juga untuk mencari inspirasi dalam usaha kerja saya
sebagai sorang kartunis (Aktif dalam Harian Kompas http://www.kompas.co.id , Red).
Dari
perjalan ziarah inilah, saya menemukan kedamaian dan ketenangan. Banyak
hal yang saya temukan. Yang jelas saya kini mendapatkan ketenangan.
Walaupun saya masih dalam tahap mempelajari Islam, namun saya sudah
mendapatkan karunia itu. Oleh Tuhan saya dititipi sepasang anak kembar.
Dari
semua itu semakin menyadarkan saya, bahwa pegangan yang sederhana
tetapi mempunyai kekuatan yang luar biasa adalah agama. dan doa kita
itu pasti diterima dan dikabulkan Tuhan.
Agama, inilah jawaban yang
saya terima dari perjalanan saya mengunjungi makam para wali untuk
mencari hakikat hidup. Saya benar-benar disadarkan akan pentingnya
sebuah pegangan hidup; Agama - yang menjadi pegangan mengarungi lautan
kehidupan.
Masuk Islam
Dari apa yang telah dititipkan Tuhan
pada saya — sepasang anak kembar — saya kembali disadarkan oleh rasa
keberagamaan saya. Aryo Damar, anak saya yang laki-laki, sejak berusia
tiga bulan sampai sekarang, bila ada adzan Magrib di televisi, ia tidak
mau melepaskan diri dari depan kaca televisi. Kalaupun sedang menangis,
ia berhenti dahulu untuk mendengarkan adzan. Kejadian ini saya rekam
dan saya abadikan dalam kaset video. Kelakuan anak saya ini semakin
memperingatkan dan membuat saya yakin bahwa pegangan paling sederhana
dan mempunyai kekuatan adalah Agama.
Akhirnya, saya putuskan untuk
menerima apa yang terjadi pada diri saya. Saya mengikrarkan diri
menjadi seorang muslim, dengan kata lain menerima Islam. Perpindahan
saya menjadi seorang muslim ini disambut baik oleh teman-teman saya dan
mereka memberi beberapa buku agama, tafsir Al-Qur’an dan buku Fiqih
Sunnah karya SAayid Sabiq lengka 12 jilid. Bahkan yang aneh ada teman
saya yang memberikan AL-Qur’an jauh sebelum saya mengucapkan dua
kalimah syahadat. Mungkin ia sudah mendapat firasat.
Selain itu,
banyak pula teman-teman saya yang menyatakan penyesalannya atas
keputusan saya itu. Mereka menyesali perubahan yang terjadi pada diri
saya. Namun itu tidak membuat saya mundur. Saya tetap berkeyakinan
untuk menjadi seorang muslim.
Islam bagi saya adalah agama yang
memiliki toleransi paling tinggi. Dengan Islam saya menjadi lebih
mantap memastikan pegangan hidup. Kini saya banyak belajar dari istri
untuk mendalami agama terutama belajar Al-Qur’an. Selain kepada
teman-teman saya juga sering mendiskusikan dengan para tokoh agama .
Hal ini saya maksudkan untuk memantapkan keimanan saya. (Hamzah,
mualaf.com)
Last Updated ( Saturday, 19 January 2008 11:00 )
sumber : www.mualaf.com