arsip

agamaislam wrote on Feb 9, edited on Feb 9
kevinaritonang
kevinaritonang wrote today at 1:25 AM
Waktu
itu ada pertanyaan saya yang belum dijawab, jawabannya udh ada? Anda
janji lho mau jawab. Ini kata anda,"tentang Dajjal sekarang belum bisa
saya jelaskan, nanti akan saya jelaskan jika informasinya sudah
lengkap." Kayaknya sudah cukup lama, pasti udah ketemu jawabannya.
Dan
ini pertanyaan saya waktu itu: Apakah benar di akhir jaman yang akan
menghadapi Dajjal adalah Nabi Isa? Teman saya orang pesantren bilang
seperti itu soalnya. Dan dimanakah Nabi Muhammad pada waktu itu terjadi?
Saya
tidak ngetes, saya mau tahu apa sebenarnya yang terdapat di Quran anda
mengenai hal ini. Just to remind you because I still waiting for the
answer. Thx…………………….terimakasih sebelumnya,mohon maaf
saya baru bisa jawab sekarang :

1. Tanda2 kiamat memang dengan munculnya dajjal.

Nabi bersabda : 6756. Dari Abu Hurairah, bahwa sesungguhnya Rasulullah
saw. Bersabda: "tidaklah hari kiamat tiba sehingga dua golongan besar
(pasukan Ali dan pasukan Mu`awiyah) berperang, dimana terjadi
pembunuhan (korban) besar diantara keduanya, sedang seruan keduanya
adalah satu (yaitu Islam). Dan (kiamat itu tidak datang) sehingga
dibangkitkan dajjal-dajjal para pendusta yang mendekati (jumlah) tiga
puluh orang dimana semuanya menyatakan dirinya sebagai utusan Allah.
Dan (kiamat itu tidak datang) sehingga ilmu di cabut, banyak terjadi
gempa bumi, waktu berdekatan, fitnah-fitnah bermunculan dan banyak
pembunuhan. Dan sehingga harta melimpah pada kamu harta itu membanjir
hingga menyusahkan pemilik harta itu, siapakah yang akan menerima
shadakahnya, dan sehingga ia menawarkan hartanya itu maka orang yang
ditawari mengatakan, "aku tidak membutuhkan harta itu", dan sehingga
manusia berlomba menjulangkan bangunan; dan sehingga orang laki-laki
lewat pada kubur orang laki-laki maka ia berkata, "Duhai a kiranya aku
berada ditempatnya (jadi mayit)", dan sehingga matahari muncul dari
barat. Maka apabila matahari muncul (dari barat) dan orang-orang
melihatnya maka mereka beriman semuanya; maka itulah masa tidaklah
bermanfaat iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum itu, atau
dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Dan pastilah
kiamat itutiba sedang dua orang laki-laki membentangkan pakaiannya
didepannya (supaya dibeli) maka keduanya tidak jadi mengadakan jual
beli pula keduanya tidak melipatnya; pastilah kiamat itu datang sedang
orang laki-laki bertandang pada air susu untanya maka dia tidak
meminumnya; pastilah kiamat itu datang sedang ia memperbaiki telaganya
maka ia tidak memberi minum darinya; dan pastilah kiamat itu terjadi
sedang ia sungguh telah mengangkat suapan makannya kemulutnya maka ia
tidak memakannya".
(HR: Bukhari)

2. Tentang nabi isa saya hanya menemukan hadist sebagai berikut :

6651.
Dari Abdullah Ibn Umar ra., bahwa sesungguhnya Rasulullah saw.
bersabda: "Aku bermimpi tadi malam di sisi Ka`bah, maka aku aku melihat
seorang laki-laki berkulit sawo matang, sebagai yang paling bagus dari
kulit sawo matang orang laki-laki yang pernah kamu lihat, berambut
panjang (melewati cuping telinga), sebagai yang paling yang bagus dari
panjangnya rambut yang pernah kamu lihat, sungguh dia menyisirnya
sedangkan ia menetes (dari kepala), dalam keadaannya dipapah pada dua
orang laki-laki –atau pada pundak dua orang laki-laki– sedang thawaf
di Baitullah, Ka`bah. Maka aku bertanya, "Siapakah itu?" Maka dikatakan
(kepadaku bahawa dia adalah) "Al-Masih (Isa) Ibnu Maryam". Dan
tiba-tiba aku (bertemu) dengan seorang laki-laki yang berambut
keriting, sangat keriting rambutnya, mata yang kanan buta, matanya itu
seperti buah anggur yang menonjol. Maka aku bertanya, "Siapakah itu?".
Maka dikatakan (kepadaku bahwa dia adalah) "Al-Masih Dajjal".
(HR: Bukhari)

3.
Tentang dimana nabi muhammad ketika itu tidak ada keterangan yg jelas
dari link hadist saya,. yg jelas menurut saya nabi muhaamad ketika itu
tetap masih di alam barzah

4. Tidak ada  ayat Al Quran yg menjelasakan tentang dajjal

5.
Kesimpulan : menurut saya kecil kemungkinan kebenaran pendapat teman
anda tersebut karena melihat minimnya sabda Nabi tentang masalah
tersebut

ceprotceprot wrote on Feb 9
Kalo memang hadits itu tidak ada, lalu mengapa kok sampai difatwakan dan kemudian heboh, cek link ini http://news.bbc.co.uk/1/hi/world/middle_east/6681511.stm

Hadist itu dari sahih muslim lho, Coba cek lagi link ini http://www.usc.edu/dept/MSA/fundamentals/hadithsunnah/muslim/008.smt.html

Tuhanku
adalah yang menciptakan dunia ini dan semakin aku berpikir, maka
Tuhanku bukan Allah Swt yg ada di Qur’an seperti yang aku yakini
dulunya, karena sete;ah aku cari2 info ternyata Allah SWT hanya hasil
rekayasa seseorang. Masak Allah SWT membagi bagi harta rampasan…?
Yang membagi bagi harta jarahan itu manusia, bukan Tuhan. Apa perlu aku
kasih ayatnya..?

Dari jawaban2 yang kamu berikan dalam diskusi
dengan netter2 lainnya, kamu cuman bisa copy paste dan tidak pernah
menggunakan otak untuk berpikir.

Lebih baik tidak bertuhan bila harus menyembah Tuhan yang tidak punya power sama sekali dan ngurusi perkawinan nabinya saja.

kevinaritonang wrote on Feb 9
Waktu
itu ada pertanyaan saya yang belum dijawab, jawabannya udh ada? Anda
janji lho mau jawab. Ini kata anda,"tentang Dajjal sekarang belum bisa
saya jelaskan, nanti akan saya jelaskan jika informasinya sudah
lengkap." Kayaknya sudah cukup lama, pasti udah ketemu jawabannya.
Dan
ini pertanyaan saya waktu itu: Apakah benar di akhir jaman yang akan
menghadapi Dajjal adalah Nabi Isa? Teman saya orang pesantren bilang
seperti itu soalnya. Dan dimanakah Nabi Muhammad pada waktu itu
terjadi?
Saya tidak ngetes, saya mau tahu apa sebenarnya yang
terdapat di Quran anda mengenai hal ini. Just to remind you because I
still waiting for the answer. Thx

agamaislam wrote on Feb 8
ceprotceprot
ceprotceprot wrote today at 9:20 AM
hadis
tentang susu menyusui tidak ada di link kamu, bukan berarti hadis tsb
tidak ada kan..?……………..memang hadist tersebut TIDAK ADA OM
…..lihat : http://hadith.al-islam.com/bayan/SrchRslt.asp?l=Ind&strFormAlert=Masukkan+kalimat+yang+dicar.&strFormAlert2=Tentukan+tema+cari&strSpecialAlert=Tidak+boleh+memasukkan+tanda+khusus&Image.x=0&Image.y=0&SearchText=susu.
……… penerbit situs bukan sembarangan : Kerajaan Arab Saudi
Kementerian Urusan Keislaman, Wakaf, Dakwah dan
Penyuluhan………hadist yg anda pungut itu tidak jelas asal usulnya
dan tidakmungkin nabi bersabda seperti itu. Banyak orientalis yg
menerjemahkan hadist dengan tujuan menjelek2 dan merusak citra islam +
memberikan interpretasi yg salah tentang hadist ……… mirip dg
watak yg suka memungngut hadist2 yg palsu dan kaga
jelasjuntrungnya…….kok hadist2 nabi yg lain yang hebat2 kok kaga
anda otak atik ?

Bayangkan Ibu kamu disedot susunya sama
laki-laki lain hanya untuk membuat laki laki tsb menjadi muhrimnya,
apakah bapak kamu tidak ngamuk…?…….yah dari situ kan anda bisa
melihat dan jika anda waras , jelas hadist itu tidak mungkin dan tidak
masuk akal jika diucapkan oleh nabi muhammmad……..wong nabi muhammad
sendiri sudah bersabda jangan berdua2 dg lain jenis yg ketiganya adalah
syaitan.

itulah salah satu "KEINDAHAN" islam…bisa menyedot
susu siapa saja…………disitulah letak keindahan ketolollan anda
dalam menilai apakah hadis itu memang dari nabi muhammad atau bukan.
Saya yakin 100 % anda memang bisa menyedot susu siapa saja………..

dari
pernyataan 2 anda saya menilai anda bukan beragama islam dan dulunya
juga anda bukan beragama islam………..kenapa pertanyaan saya tidak
anda jawab :siapa tuhan anda,apa pegangan kitab suci anda , bagaimana
cara anda beribadah ? kok 2 kali saya tanya tidak dijawab ?

 

ceprotceprot wrote on Feb 8
hadis tentang susu menyusui tidak ada di link kamu, bukan berarti hadis tsb tidak ada kan..?

Bayangkan
Ibu kamu disedot susunya sama laki-laki lain hanya untuk membuat laki
laki tsb menjadi muhrimnya, apakah bapak kamu tidak ngamuk…?

itulah salah satu "KEINDAHAN" islam…bisa menyedot susu siapa saja..

agamaislam wrote on Feb 7
ceprotceprot
ceprotceprot wrote today at 9:38 AM
Aku menemukan hadist ini,

http://www.usc.edu/dept/MSA/fundamentals/hadithsunnah/muslim/008.smt.h tml

Book 008, Number 3427:
Umm
Salama said to ‘A’isha (Allah be pleased with her): A young boy who is
at the threshold of puberty comes to you. I, however, do not like that
he should come to me, whereupon ‘A’isha (Allah be pleased with her)
said: Don’t you see in Allah’s Messenger (may peace be upon him) a
model for you? She also said: The wife of Abu Hudhaifa said: Messenger
of Allah, Salim comes to me and now he is a (grown-up) person, and
there is something that (rankles) in the mind of Abu Hudhaifa about
him, whereupon Allah’s Messenger (may peace be upon him) said: Suckle
him (so that he may become your foster-child), and thus he may be able
to come to you (freely).

Terjemahan:
Umm Salam berkata pada
Aisha: Seorang anak muda menjelang akil balik datang padamu. Namun aku
tidak suka dia datang padaku. Mendengar itu Aisha berkata: Tidakkah kau
mencontoh pada rasul Allah? Lalu dia berkata: Istri Abu Hudhaifa
bekata, "Rasul Allah, Salim datang padaku dan dia sekarang seorang
lelaki dewasa, dan ada sesuatu yang mengganggu pikiran Abu Hudhaifa
tentang dia." Mendengar itu rasul Allah berkata, "Susuilah dia (supaya
dia menjadi anak angkatmu) dan karena itu dia bisa bebas
mengunjungimu………………………..hadist ini tidak diketemukan
dalam link saya……………

dan lucunya Perintah menyusui tsb difatwakan, please check this link
http://news.bbc.co.uk/1/hi/world/middle_east/6681511.stm

luar biasa..!!! konyol
ceprotceprot
ceprotceprot wrote on Feb 6
kamu
mengatakan tidak ada ancaman bagi yang mau murtad dan tidak ada paksaan
dalam agama islam, lalu hadits ini memerintahkan apa..?

http://www.muslimaccess.com/sunnah/hadeeth/bukhari/052.html
Sahih Bukhari Volume, Book 52, Number 260:

Narrated Ikrima:

Ali
burnt some people and this news reached Ibn ‘Abbas, who said, "Had I
been in his place I would not have burnt them, as the Prophet said,
‘Don’t punish (anybody) with Allah’s Punishment.’ No doubt, I would
have killed them, for the Prophet said, ‘If somebody (a Muslim)
discards his religion, kill him.’ "

terjemahan :
Ali membakar
beberapa orang dan berita ini terdengar oleh Ibn ‘Abbas, yang
berkata,”Jika aku berada di posisinya, aku tidak akan membakar mereka,
seperti yang dikatakan sang Nabi,’Jangan hukum (siapapun) dengan
Hukuman Allah.’ Tidak ragu lagi, aku sudah akan membunuh mereka, karena
Nabi berkata,’Jika seseorang (Muslim) meninggalkan agamanya, bunuh
dia.’”………………………………… tentang murtad :

54
Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad
dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah
mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah
lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap
orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut
kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah,
diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas
(pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.(QS. 5:54)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Maa-idah 54
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ
فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ
عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي
سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ
يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (54)
Dalam ayat itu
terkandung berita tantangan yang akan terjadi, yaitu akan murtadnya
nanti sebahagian orang mukmin. Mereka akan keluar dari Islam dengan
terang-terangan. Keluarnya mereka dari Islam tidaklah akan membahayakan
orang mukmin, tetapi sebaliknyalah yang akan terjadi, yaitu Allah akan
menggantinya dengan orang-orang yang lebih kuat imannya dan lebih baik
amal perbuatannya sebagai pengganti mereka yang murtad itu.
Menurut
riwayat Ibnu Jarir dari Qatadah, dia menceritakan bahwa setelah Allah
menurunkan ayat ini, diketahuilah bahwa akan terjadi beberapa kelompok
manusia akan murtad, yaitu keluar dari agama Islam. Peristiwa itu
kemudian benar-benar terjadi, ketika Nabi Muhammad saw. berpulang ke
rahmatullah, maka pada waktu itu murtadlah sebagian orang dari Islam,
terkecuali dari tiga tempat, yaitu penduduk Madinah, penduduk Mekah dan
penduduk Bahrain. Di antara tanda-tanda murtad mereka ialah bahwa
mereka tidak mau lagi mengeluarkan zakat. Mereka mengatakan, "Kami akan
tetap bersalat, tetapi kami tidak mau mengeluarkan zakat. Demi Allah,
tidak boleh dirampas harta kami." Maka khalifah Abu Bakar ketika itu
terpaksa mengambil tindakan keras. Orang-orang yang murtad itu
diperangi, sehingga di antara mereka ada yang mati, ada yang terbakar
dan ada pula yang ditangkap, sehingga akhirnya mereka kembali bersedia
membayar zakat.
Peristiwa terjadinya orang-orang murtad ini sudah
banyak sekali. Di dalam sejarah disebutkan bahwa pada masa Nabi
Muhammad saw. masih hidup telah terjadi tiga kali peristiwa orang-orang
murtad, yaitu:
1. Golongan Bani Mudhij yang dipelopori oleh
Zulkhimar, yaitu Al-Aswad Al-Ansy seorang tukang tenung. Dia mengaku
sebagai nabi di negeri Yaman, akhirnya dia dihancurkan Allah, dibunuh
oleh Fairuz Ad-Dailami.
2. Golongan Bani Hanifah, yaitu kaum
Musailamah Al-Kazzab. Musailamah mengaku dirinya sebagai nabi. Pernah
dia berkirim surat kepada Nabi Muhammad saw. mengajak beliau untuk
membagi dua kekuasaan di negeri Arab. Dia memerintah separoh negeri dan
Nabi Muhammad saw. memerintah yang separoh lagi. Nabi Muhammad saw.
membalas suratnya itu dengan mengatakan bahwa bumi ini adalah kepunyaan
Allah dan Allah akan mempusakakan bumi ini kepada siapa yang
dikehendaki di antara hamba-Nya dan bahwa kemenangan terakhir akan
berada pada orang yang bertakwa kepada-Nya. Akhirnya Musailamah
diperangi oleh Khalifah Abu Bakar dan ia mati dibunuh oleh Wahsyi yang
dulu pernah membunuh Hamzah, paman Nabi pada perang Uhud.
3.
Golongan Bani Asad, pemimpinnya bernama Tulaihah bin Khuwailid, dia
juga mengaku dirinya menjadi nabi, maka Aba Bakar memerangi dengan
memberitahukan Khalid bin Walid untuk membunuhnya. Dia mundur dan lari
ke negeri Syam dan akhirnya dia kembali menjadi seorang muslim yang
baik.
Sesudah Nabi Muhammad saw. meninggal, yaitu pada masa Khalifah
Abu Bakar, banyak benar terjadi golongan-golongan yang murtad terdiri
dari 7 golongan, yaitu:
1. Ghathafan
2. Bani Khuza`ah
3. Bani Salim
4. Bani Yarbu’
5. Sebagian Bani Tamim
6. Kindah
7. Bani Bakr
Orang-orang
yang menggantikan orang-orang murtad itu, selalu mengatakan kebenaran
dan membantu perjuangan Islam, ditandai oleh Allah dengan enam sifat
yang penting, yaitu:
1. Allah mencintai mereka karena keimanan dan keyakinan mereka dalam berjuang.
2. Mereka cinta kepada Allah karena perintah Allah lebih diutamakan dari urusan-urusan yang lain.
3. Mereka bersikap lemah-lembut terhadap orang mukmin.
4. Terhadap orang kafir mereka bersikap keras dan tegas.
5.
Berjihad fisabilillah, yaitu bersungguh-sungguh dalam menegakkan agama
Allah, mau berkorban dengan harta dan dirinya dan tidak takut berperang
menghadapi musuh agama.
6. Mereka tidak takut terhadap cacian dan
celaan, tidak takut kepada gertakan dan ancaman. Sebab mereka
senantiasa dalam beramal, berjuang, buka mencari pujian dan sanjungan
manusia, bukan juga mencari pangkat dan kedudukan dan bukan pula
mencari nama dan tuah. Yang mereka cari hanyalah keridaan Allah semata.
Sifat-sifat
yang tersebut itu adalah karunia Allah kepada hamba-Nya yang diberikan
kepada siapa yang dikehendaki. Dengan sifat-sifat itulah derajat
seseorang menjadi tinggi dan mulia di hadapan manusia, dan lebih-lebih
di hadapan Allah yang mempunyai karunia yang besar. Semuanya itu akan
dapat diperoleh dengan jalan mendekatkan diri kepada-Nya serta
memperbanyak ibadah dan bersyukur.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Maa-idah 54
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ
فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ
عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي
سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ
يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (54)
(Hai
orang-orang yang beriman! Siapa yang murtad) yartadda pakai idgam atau
tidak; artinya murtad atau berbalik (di antara kamu dari agamanya)
artinya berbalik kafir; ini merupakan pemberitahuan dari Allah swt.
tentang berita gaib yang akan terjadi yang telah terlebih dahulu
diketahui-Nya. Buktinya setelah Nabi Muhammad saw. wafat segolongan
umat keluar dari agama Islam (maka Allah akan mendatangkan) sebagai
ganti mereka (suatu kaum yang dicintai oleh Allah dan mereka pun
mencintai-Nya) sabda Nabi saw., "Mereka itu ialah kaum orang ini,"
sambil menunjuk kepada Abu Musa Al-Asyari; riwayat Hakim dalam sahihnya
(bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin dan bersikap keras)
atau tegas (terhadap orang-orang kafir. Mereka berjihad di jalan Allah
dan tidak takut akan celaan orang yang suka mencela) dalam hal itu
sebagaimana takutnya orang-orang munafik akan celaan orang-orang kafir.
(Demikian itu) yakni sifat-sifat yang disebutkan tadi (adalah karunia
Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Allah
Maha Luas) karunia-Nya (lagi Maha Mengetahui) akan yang patut
menerimanya. Ayat ini turun ketika Ibnu Salam mengadu kepada
Rasulullah, "Wahai Rasulullah! Kaum kami telah mengucilkan
kami!"…………………..di ayat ini tidak ada perintah untuk
membunuh orang murtad …………

Hadis Sahih Bukhari, Volume 1, Book 2, Number 24:
Narrated Ibn ‘Umar:
Allah’s
Apostle said: "I have been ordered (by Allah) to fight against the
people until they testify that none has the right to be worshipped but
Allah and that Muhammad is Allah’s Apostle, and offer the prayers
perfectly and give the obligatory charity, so if they perform a that,
then they save their lives an property from me except for Islamic laws
and then their reckoning (accounts) will be done by Allah."

Terjemahan :
Dikisahkan oleh Ibn ‘Umar:
Rasul
Allah berkata, “Aku telah diperintahkan (oleh Allah) untuk memerangi
orang2 sampai mereka mengaku bahwa tidak ada yang patut disembah selain
Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah, dan melakukan sembahyang dengan
sempurna dan membayar zakat, sehingga jika mereka melakukan hal itu,
maka selamatlah nyawa dan harta mereka dariku kecuali dari hukum2 Islam
dan amal mereka akan dihitung oleh
Allah.”……………………………………..

=============================================

…………Tidak
ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas
jalan yang benar daripada jalan yang salah. Karena itu barangsiapa yang
ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia
telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.
Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(QS. 2:256)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 256
لَا
إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ
يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ
بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
(256)
Ada suatu riwayat tentang sebab turunnya ayat ini, seorang
lelaki bernama Abu Al-Husain dari keluarga Bani Salim Ibnu Auf
mempunyai dua orang anak lelaki yang telah memeluk agama Nasrani
sebelum Nabi Muhammad saw. diutus Tuhan sebagai nabi. Kemudian kedua
anak itu datang ke Madinah (setelah datangnya agama Islam), maka ayah
mereka selalu meminta agar mereka masuk agama Islam dan ia berkata
kepada mereka, "Saya tidak akan membiarkan kamu berdua, hingga kamu
masuk Islam." Mereka lalu mengadukan perkaranva itu kepada Rasulullah
saw. dan ayah mereka berkata, "Apakah sebagian dari tubuhku akan masuk
neraka?" Maka turunlah ayat ini, lalu ayah mereka membiarkan mereka itu
tetap dalam agama semula.
Jadi, tidak dibenarkan adanya paksaan.
Kewajiban kita hanyalah menyampaikan agama Allah kepada manusia dengan
cara yang baik dan penuh kebijaksanaan serta dengan nasihat-nasihat
yang wajar sehingga mereka masuk agama Islam dengan kesadaran dan
kemauan mereka sendiri.
Apabila kita sudah menyampaikan kepada
mereka dengan cara yang demikian tetapi mereka tidak juga mau beriman
itu bukanlah urusan kita melainkan urusan Allah swt. Kita tidak boleh
memaksa mereka. Dalam ayat yang lain Allah swt. telah berfirman yang
artinya, "Apakah Engkau ingin memaksa mereka hingga mereka itu menjadi
orang-orang yang beriman?"
Dengan datangnya agama Islam, maka jalan
yang benar sudah tampak dengan jelas dan dapat dibedakan dari jalan
yang sesat. Maka tidaklah boleh adanya pemaksaan untuk beriman karena
iman tersebut adalah keyakinan dalam hati sanubari dan tak seorang pun
dapat memaksa hati seorang untuk meyakini sesuatu apabila ia sendiri
tidak bersedia.
Ayat-ayat Alquran yang menerangkan kenabian Muhammad
saw. sudah cukup jelas. Maka terserahlah kepada setiap orang apakah ia
akan beriman atau kafir setelah kita menyampaikan ayat-ayat itu kepada
mereka. Inilah etika dakwah Islam. Adapun suara-suara yang mengatakan
bahwa agama Islam dikembangkan dengan pedang itu hanyalah omong kosong
dan fitnahan belaka. Umat Islam di Mekah sebelum berhijrah ke Madinah
hanya melakukan salat dengan cara sembunyi dan mereka tidak mau
melakukan secara demonstratif terhadap kaum kafir. Ayat ini turun
kira-kira pada tahun ketiga sesudah hijrah, yaitu setelah umat Islam
memiliki kekuatan yang nyata dan jumlah mereka telah bertambah banyak
namun mereka tidak diperbolehkan melakukan paksaan terhadap orang-orang
yang bukan muslim, baik paksaan secara halus apalagi dengan kekerasan.
Adapun
peperangan yang telah dilakukan umat Islam, baik di Jazirah Arab maupun
di negeri-negeri lain seperti di Mesir, Persia dan sebagainya, itu
hanyalah semata-mata suatu tindakan bela diri terhadap
serangan-serangan kaum kafir kepada mereka, dan untuk mengamankan
jalannya dakwah Islam. Sehingga orang-orang kafir itu dapat dihentikan
dari kezaliman, memfitnah dan mengganggu umat Islam karena menganut dan
melaksanakan agama mereka dan agar kaum kafir itu dapat menghargai
kemerdekaan pribadi dan hak-hak asasi manusia dalam menganut keyakinan.
Di
daerah-daerah yang telah dikuasai kaum muslimin, orang-orang yang belum
menganut agama Islam diberi hak dan kemerdekaan untuk memilih apakah
mereka akan memeluk agama Islam ataukah akan tetap dalam agama mereka.
Jika mereka memilih untuk tetap dalam agama semula, maka mereka
diharuskan membayar "jizyah", yaitu semacam pajak sebagai imbangan dari
perlindungan yang diberikan pemerintah Islam kepada mereka. Dan
keselamatan mereka di jamin sepenuhnya asal mereka tidak melakukan
tindakan-tindakan yang memusuhi Islam dan umatnya.
Ini juga
merupakan suatu bukti yang jelas bahwa umat Islam tidak melakukan
paksaan, bahkan tetap menghormati kemerdekaan beragama, walaupun
terhadap golongan minoritas yang berada di daerah-daerah kekuasaan
mereka. Sebaliknya dapat kita lihat dari bukti-bukti sejarah, baik pada
masa dahulu, maupun pada zaman modern sekarang ini, betapa malangnya
nasib umat Islam apabila mereka menjadi golongan minoritas pada suatu
negara.
Ayat ini selanjutnya menerangkan, bahwa siapa-siapa yang
sudah tidak lagi percaya kepada tagut, atau tidak lagi menyembah
patung, atau benda yang lain, melainkan beriman dan menyembah Allah
semata-mata, maka ia telah mendapatkan pegangan yang kokoh, laksana
tali yang kuat yang tak akan putus. Dan iman yang sebenarnya adalah
iman yang diyakini dalam hati, diucapkan dengan lidah dan diiringi
dengan perbuatan. Itulah sebabnya, maka pada akhir ayat, Allah
berfirman yang artinya, "Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
Artinya Allah senantiasa mendengar apa yang diucapkan dan Dia lalu
mengetahui apa yang diyakini dalam hati, dan apa yang diperbuat oleh
anggota badan. Dan Allah akan membalas amal seseorang sesuai dengan
iman, perkataan dan perbuatan mereka masing-masing.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Baqarah 256
لَا
إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ
يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ
بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
(256)
(Tidak ada paksaan dalam agama), maksudnya untuk memasukinya.
(Sesungguhnya telah nyata jalan yang benar dari jalan yang salah),
artinya telah jelas dengan adanya bukti-bukti dan keterangan-keterangan
yang kuat bahwa keimanan itu berarti kebenaran dan kekafiran itu adalah
kesesatan. Ayat ini turun mengenai seorang Ansar yang mempunyai
anak-anak yang hendak dipaksakan masuk Islam. (Maka barang siapa yang
ingkar kepada tagut), maksudnya setan atau berhala, dipakai untuk
tunggal dan jamak (dan dia beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia
telah berpegang kepada simpul tali yang teguh kuat) ikatan tali yang
kokoh (yang tidak akan putus-putus dan Allah Maha Mendengar) akan
segala ucapan (Maha Mengetahui) segala perbuatan.

kamu juga
mengatakan karena islam, maka perempuan bisa menjadi pemimpin, tapi
hadits dibawah ini mengatakan sebaliknya. berarti, perempuan bisa
menjadi pemimpin bukan karena akibat islam tapi karena system suatu
negara mengijinkan perempuan untuk menjadi
pemimpin………………..memang bisa tapi kemampuannya dibanding
dengan laki2 secara kodrat jelas lebih lemah dibandingkan dengan
laki2.. …….lihat penjelasan tambahan dibawah ……..

Sahih Bukhari Volume 5, Book 59, Number 709:
Narrated Abu Bakra:
During
the days (of the battle) of Al-Jamal, Allah benefited me with a word I
had heard from Allah’s Apostle after I had been about to join the
Companions of Al-Jamal (i.e. the camel) and fight along with them. When
Allah’s Apostle was informed that the Persians had crowned the daughter
of Khosrau as their ruler, he said, "Such people as ruled by a lady
will never be successful."

Terjemahan :
Diriwayatkan oleh Abu Bakra:
Selama
hari-hari peperangan di Al-Jamal, Allah memberikan anugrah melalui
sebuah kalimat yang aku dengar dari Nabi Allah setelah aku begabung
dengan pasukan di Al-Jamal (pasukan ber-Unta) dan berperang bersama
mereka. Ketika itu Nabi Allah diberitahu bahwa bangsa Persia telah
mengangkat putri dari Khosrau sebagai pemimpin, Nabi Allah
berkata,”Orang-orang yang dipimpin oleh wanita tidak akan pernah
berhasil.”…………………..wanita jelas secara kodrat lebih lemah
dari laki2. Kepala rumah tangga adalah laki2 Yang mencari nafkah adalah
laki. Wanita sudah kodratnya tiap bulan mendapat datang bulan / mens,
hamil, ngidam, melahirkan, menyusui anak, merawat dan mendidik anak
Jadi waktu dan tenaganya lebih banyak tercurah untuk hal2 seperti itu.
ini jelas kemampuannya dalam memimpin jika dibandingkan dengan laki 2
lebih lemah. Saya ingin tanya anad kenapa tuhan tidak pernah menurunkan
nabi / rasul sebagai pemimpin dari jenis kelamin wanita ? itu karena
wanita secara kodrat banyak emmiliki kelemahan dibanding laki…..ok
….sudah mengerti om ?

ceprotceprot wrote on Feb 7
Aku menemukan hadist ini,

http://www.usc.edu/dept/MSA/fundamentals/hadithsunnah/muslim/008.smt.h tml

Book 008, Number 3427:
Umm
Salama said to ‘A’isha (Allah be pleased with her): A young boy who is
at the threshold of puberty comes to you. I, however, do not like that
he should come to me, whereupon ‘A’isha (Allah be pleased with her)
said: Don’t you see in Allah’s Messenger (may peace be upon him) a
model for you? She also said: The wife of Abu Hudhaifa said: Messenger
of Allah, Salim comes to me and now he is a (grown-up) person, and
there is something that (rankles) in the mind of Abu Hudhaifa about
him, whereupon Allah’s Messenger (may peace be upon him) said: Suckle
him (so that he may become your foster-child), and thus he may be able
to come to you (freely).

Terjemahan:
Umm Salam berkata
pada Aisha: Seorang anak muda menjelang akil balik datang padamu. Namun
aku tidak suka dia datang padaku. Mendengar itu Aisha berkata: Tidakkah
kau mencontoh pada rasul Allah? Lalu dia berkata: Istri Abu Hudhaifa
bekata, "Rasul Allah, Salim datang padaku dan dia sekarang seorang
lelaki dewasa, dan ada sesuatu yang mengganggu pikiran Abu Hudhaifa
tentang dia." Mendengar itu rasul Allah berkata, "Susuilah dia (supaya
dia menjadi anak angkatmu) dan karena itu dia bisa bebas mengunjungimu.

dan lucunya Perintah menyusui tsb difatwakan, please check this link
http://news.bbc.co.uk/1/hi/world/middle_east/6681511.stm

luar biasa..!!! konyol

ceprotceprot wrote on Feb 6
kamu
mengatakan tidak ada ancaman bagi yang mau murtad dan tidak ada paksaan
dalam agama islam, lalu hadits ini memerintahkan apa..?

http://www.muslimaccess.com/sunnah/hadeeth/bukhari/052.html
Sahih Bukhari Volume, Book 52, Number 260:

Narrated Ikrima:

Ali
burnt some people and this news reached Ibn ‘Abbas, who said, "Had I
been in his place I would not have burnt them, as the Prophet said,
‘Don’t punish (anybody) with Allah’s Punishment.’ No doubt, I would
have killed them, for the Prophet said, ‘If somebody (a Muslim)
discards his religion, kill him.’ "

terjemahan :
Ali membakar
beberapa orang dan berita ini terdengar oleh Ibn ‘Abbas, yang
berkata,”Jika aku berada di posisinya, aku tidak akan membakar mereka,
seperti yang dikatakan sang Nabi,’Jangan hukum (siapapun) dengan
Hukuman Allah.’ Tidak ragu lagi, aku sudah akan membunuh mereka, karena
Nabi berkata,’Jika seseorang (Muslim) meninggalkan agamanya, bunuh
dia.’”

Hadis Sahih Bukhari, Volume 1, Book 2, Number 24:
Narrated Ibn ‘Umar:
Allah’s
Apostle said: "I have been ordered (by Allah) to fight against the
people until they testify that none has the right to be worshipped but
Allah and that Muhammad is Allah’s Apostle, and offer the prayers
perfectly and give the obligatory charity, so if they perform a that,
then they save their lives an property from me except for Islamic laws
and then their reckoning (accounts) will be done by Allah."

Terjemahan :
Dikisahkan oleh Ibn ‘Umar:
Rasul
Allah berkata, “Aku telah diperintahkan (oleh Allah) untuk memerangi
orang2 sampai mereka mengaku bahwa tidak ada yang patut disembah selain
Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah, dan melakukan sembahyang dengan
sempurna dan membayar zakat, sehingga jika mereka melakukan hal itu,
maka selamatlah nyawa dan harta mereka dariku kecuali dari hukum2 Islam
dan amal mereka akan dihitung oleh Allah.”

kamu juga
mengatakan karena islam, maka perempuan bisa menjadi pemimpin, tapi
hadits dibawah ini mengatakan sebaliknya. berarti, perempuan bisa
menjadi pemimpin bukan karena akibat islam tapi karena system suatu
negara mengijinkan perempuan untuk menjadi pemimpin.

Sahih Bukhari Volume 5, Book 59, Number 709:
Narrated Abu Bakra:
During
the days (of the battle) of Al-Jamal, Allah benefited me with a word I
had heard from Allah’s Apostle after I had been about to join the
Companions of Al-Jamal (i.e. the camel) and fight along with them. When
Allah’s Apostle was informed that the Persians had crowned the daughter
of Khosrau as their ruler, he said, "Such people as ruled by a lady
will never be successful."

Terjemahan :
Diriwayatkan oleh Abu Bakra:
Selama
hari-hari peperangan di Al-Jamal, Allah memberikan anugrah melalui
sebuah kalimat yang aku dengar dari Nabi Allah setelah aku begabung
dengan pasukan di Al-Jamal (pasukan ber-Unta) dan berperang bersama
mereka. Ketika itu Nabi Allah diberitahu bahwa bangsa Persia telah
mengangkat putri dari Khosrau sebagai pemimpin, Nabi Allah
berkata,”Orang-orang yang dipimpin oleh wanita tidak akan pernah
berhasil.”.

n4n4p4tri4 wrote on Feb 5
ma’assalam……… syukur alhamdulillah masi baek sllu dlm lindungan NYA.
makasih ja yah…
salam ukhuwah…..

agamaislam wrote on Feb 4
ceprotceprot
delete reply
ceprotceprot wrote on Feb 3
Kamu
mengatakan aku sesat, menurutku saat ini aku tidak
sesat,………….justru anda sesat karena anda tidak
beragama……siapa tuhan anda dan kitab suci apa yg jadi pegangan anda
? ……. justru pada waktu aku di islam aku merasa diriku sangat benci
terhadap orang lain yang non muslim padahal mereka tidak salah
apapun……..kenapa anda benci ? kita tidak perlu benci kepada mereka
selama mereka tidak menyerang / memerangi kita sebagai umat
islam……….anda salah kaprah…….tidak ada tuh ajaran islam yg
mengajarkan membenci mereka selama mereka bersikap damai dengan
kita……….anda yg salah …jangan salahkan islam……

terima kasih atas kisah2 mualaf yang kamu copy paste itu dan menambah referensiku juga
Sebagai perbandingan, aku juga punya kisah kisah murtadin atas orang orang dibawah ini,
Salman Rushdie,
Mark A Gabriel,
Anwan Shaik,
Ali Sina,
Nonie Darwish,
Walid Shoebat
Ayaan Hirsi Ali,
Hamran Ambrie,

mereka
semua orang terpelajar dan bila kamu belum tahu, kamu bisa cari mereka
di google……………..sudah saya gogle sebagain tidak
ketemu…..kebanyakan mereka murtad karena kesalah dalam menafsirkan
suatu ayat didalam al quraan…………..itulah tanda keawaman mereka
dalam memahami ayat2 al quraan tersebut………..
Aku sedang
mempelajari mengapa orang terpelajar seperti mereka meninggalkan islam,
tentunya ada sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani mereka dan
hal itu yang sekarang mengusik hati nurani ku juga………..itu hak
anda…….. Bila tidak ada ancaman di islam untuk orang yang murtad,
mungkin akan buanyak yang meninggalkan islam…………..siapa yg
ngancam…..mau murtad ? murtad aja……………tidak ada paksaan
dalam agama Islam…………… . Mungkin juga sudah banyak yang
meninggalkan islam tapi secara diam diam……………mau murtad
ribuan orang juga bukan masalah bagi saya,…… masing2 akan
mempertaggungjawabkan semua yg telah diperbuatnya di hadapan Tuhan Yang
Maha Esa kelak……..100 % nggak ada masyalah sama sekali bagi
saya………..Ok ?

mediabilhikmah wrote on Feb 3
Anda
tidak perlu emosi. Jutaan netter islam di belakang anda. Mereka juga
manusia, tetaplah berbuat baik. Anda perlu membaca kristologi dan
buku-buku tingkah laku sex para pastor, diantaranya dalam
www.pakdenono.com dan lain-lain, semoga membantu. Terimakasih.

mediabilhikmah wrote on Feb 3
Assalamu’alaikum.
Jalin Ukhuwah, Perkuat Persatuan, Rapatkan Barisan. Mari kita beri
pengertian orang-orang yang masih terbelenggu dalam kegelapan hati
dalam kekafiran. Dengan Hikmah. Ingatlah, bahwa Umar bin Khatab dahulu
adalah musuh islam, tetapi karena hidayah dari Allah, menjadi salah
satu Khulafaur Rasyidin. Semoga hidayah Allah datang pada orang-orang
yang masih terbutakan. Dan dapat mempelajari Islam secara benar dari
lubuk hati paling dalam. Amiin.

ceprotceprot wrote on Feb 3
Kamu
mengatakan aku sesat, menurutku saat ini aku tidak sesat, justru pada
waktu aku di islam aku merasa diriku sangat benci terhadap orang lain
yang non muslim padahal mereka tidak salah apapun

terima kasih atas kisah2 mualaf yang kamu copy paste itu dan menambah referensiku juga
Sebagai perbandingan, aku juga punya kisah kisah murtadin atas orang orang dibawah ini,
Salman Rushdie,
Mark A Gabriel,
Anwan Shaik,
Ali Sina,
Nonie Darwish,
Walid Shoebat
Ayaan Hirsi Ali,
Hamran Ambrie,

mereka semua orang terpelajar dan bila kamu belum tahu, kamu bisa cari mereka di google.
Aku
sedang mempelajari mengapa orang terpelajar seperti mereka meninggalkan
islam, tentunya ada sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani mereka
dan hal itu yang sekarang mengusik hati nurani ku juga. Bila tidak ada
ancaman di islam untuk orang yang murtad, mungkin akan buanyak yang
meninggalkan islam. Mungkin juga sudah banyak yang meninggalkan islam
tapi secara diam diam.

agamaislam wrote on Feb 3
KISAH - KISAH MUALAF

Jip Hengky Jana P, M.B.A. : Sulit Memahami Doktrin Trinitas
Thursday, 20 October 2005 01:22 mualafindonesia
   
Meski
dilahirkan sebagai keturunan Tionghoa yang secara turun-temurun
menganut agama Budha, tetapi saya tidak mendalami ajaran agama nenek
moyang kami itu. Saya justru lebih paham ajaran gereja. Hal ini bisa
dimaklumi, karena masyarakat keturunan Tionghoa sekarang lebih banyak
yang meninggalkan agama nenek moyangnya, dan lebih memilih agama
Kristen sebagai pegangan hidupnya. Alasannya, karena agama Kristen
dianggap lebih ringan pelaksanaan ibadahnya.
Faktor itu pula yang
menyebabkan saya lebih banyak bergaul dengan kawan-kawan yang beragama
Kristen, balk yang Katolik Roma, Protestan, Pantekosta, Advent, dan
sebagainya. Selain itu, faktor pendidikan formal juga sangat
mempengaruhi keimanan saya. Saya semakin jauh dari wihara dan klenteng
(rumah ibadah orang Tionghoa).

Pendidikan formal saya, sejak TK
sampai SMA, saya ialui di lembaga pendidikan Katolik. Sampai usia
remaja, meski saya tak pernah dibaptis, tetapi saya sudah merasa
sebagai umat Kristen (Katolik) daripada sebagai jemaat wihara (umat
Budha).

Saya dilahirkan pada tanggal 21 Juni 1969 di Semarang,
Jawa Tengah. Keluarga saya keturunan Tionghoa yang sukses sebagai
pengusaha foto dan percetakan. Seperti umumnya masyarakat keturunan
Tionghoa, kedua orang tua saya memeluk agama nenek moyang yang telah
dianut turun temurun, yakni agama Budha.

Tidak berbeda dengan
keluarga Tionghoa yang lain, dalam hal pendidikan agarna, keluarga saya
juga tidak pernah menanamkan keimanan (agama Budha) yang mendalam. lni
barangkali sekadar tradisi saja bahwa nenek moyang kami mewariskan
kebudayaannya itu kepada keturunannya. Dalam ajaran agama Budha
sepertinya tidak ada norma-norma khusus yang mengatur pelaksanaan
ibadah. Ya, seperti aliran kepercayaan saja. Sehingga, tidak sedikit
orang Tionghoa yang notabene pemeluk agama Budha, tetapi masih meyakini
ajaran lain sebagai agamanya, umumnya agama Kristen.

Sebagai
anak sulung dari tiga bersaudara, kedua orang tua kami mengharapkan
agar saya berhasil dalam hidup dan menjadi teladan bagi kedua adik
saya. Sebab itulah, ketika mengijak usia 5 tahun saya dimasukkan ke
Taman Kanak Kanak favorit di kota Semarang, yakni TK Kanisius
Kebondalem, selama dua tahun. SD dan SMP pun saya tempuh di lembaga
yang sama.

Aktivis Gereja

Stammat SMP saya pun
melanjutkan studi di SMA Katolik Kebondalem. Lembaga pendidikan ini
termasuk paling dibanjiri peminat. Jadi, merupakan gengsi tersendiri
bila diterima di sekolah itu. Saat belajar di SMA itulah saya
benar-benar menjadi umat Katolik. Bukan lagi sebagai pemeluk Budha.

Kegiatan-kegiatan
gereja, baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakat selalu saya
ikuti dengan tekun. Saya tidak peduli, walaupun tidak pernah dibaptis.
Bahkan, di sekolah sava termasuk siswa yang aktif mengikuti kegiatan
keagamaan, baik di OSIS (seperti peringatan hari besar agama Kristen)
dan juga kegiatan misa di gereja atau kapel sekolah yang rutin diadakan
seminggu sekali.

Rupanya, Tuhan berkenan menolong saya dari
jalan yang sesat. Beberapa tahun yang lalu setelah saya tamat SMA, saga
sering merenung tentang ajaran trinitas yang menjadi landasan pokok
iman kristiani. Sava merasa sulit memahami ajaran itu. Teryata banyak
sekali kejanggalan yang saya temukan.

Mempelajari Islam

Tuhan
Yang Maha Agung membuka pintu hati saya. Di saat saya meragukan
kebenaran ajaran trinitas itu, saya seperti ditunjukkan untuk
mempelajari Islam sebagai perbandingan. Dan ternyata, masya Allah, luar
biasa. Dalam Al-Qur’an dan hadits telah diatur hukum bagi sekalian alam
yang benar adanya.

Tidak lama setelah mendalami kandungan
Al-Qur’an, saya secara rutin belajar agama (Islam) pada seorang guru
ngaji. Masih berstatus sebagai mahasiswa STIE-PPMTT (Pusat Pendidikan
Manajemen dan Teknik Terapan), saya mengucapkan ikrar dua kalimat
syahdat beserta seluruh keluarga.

Alhamdulillah, salah satu adik
saya, Jip Christianto Jana P, telah tamat dari Pondok Pesantren Modem
Gontor, jawa Timur, dan kini kuliah di Akademi Perindustrian Yogyakarta
Jurusan Teknik Mesin. Sedangkan adik saya yang bungsu, Jip Rudi Jana
P., kini rnasih belajar di Pondok Pesantren as-Salam Surakarta.

Sedangkan,
saya sendiri setelah menamatkan pendidikan manajemen dan meraih gelar
Master of Bussines Administration (M.B.A.), kini berwiraswasta di
bidang percetakan. Harapan saya, semoga keluarga kami senantiasa
diterangi petunjuk-Nya. Amin. (Kaswanto/Albaz - dari Buku "Saya memilih
Islam" Penyusun Abdul Baqir Zein, Penerbit Gema Insani Press website : http://www.gemainsani.co.id/)

Ireni (Ny. Han Hoo Lie): Calon Suster yang Membelot
Monday, 19 September 2005 11:48 mualafindonesia
   
SAYA
lahir dari keluarga Katolik yang taat, 45 tahun yang lalu di Surabaya,
Jawa Timur. Nama asli saya Han Hoo Lie, tapi biasa dipanggil Ireni.
Sejak kecil saya sudah mendalami agama. Ketika SD saya ikut privat
agama di biara, dan itu berlangsung hingga saya SMP kelas dua. Mungkin,
lantaran sering bergaul dengan para suster di biara itu, dalam diri
saya timbul keinginan untuk menjadi seorang suster (biarawati).

Dalam
pandangan saya, alangkah mulia dan sucinya seorang biarawati itu,
karena dia telah mengabdikan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Dengan
kesederhanaan hati dan penuh kasih sayang mereka membimbing orang
-orang ke arah iman Yesus Kristus. Sungguh, saya ingin sekali seperti
mereka. Keluarga saya mendukung sepenuhnya cita-cita saya itu.

Maka,
untuk mewujudkan cita-cita itu, sejak kecil saya sudah aktif dalam
kegiatan gereja. Karena aktivitas saya itulah, sejak kelas satu SMA
saya sudah terpilih sebagai Ketua Presidium Yunior Ligio Maria.
Organisasi ini bergerak dalam bidang karya, kerasulan, dan doa. Begitu
tamat SMA, saya langsung masuk ke sekolah susteran (biarawati) di
Bandung.

Selama menempuh pendidikan di sekolah biarawati itu,
selain mengikuti kuhah di biara seperti umumnya para calon suster
maupun suster muda, saya bersama salah seorang teman diberi tugas
khusus untuk kuliah di Institut Filsafat dan Teologia Bandung. Saya
tidak tahu mengapa saya yang diberi tugas itu. Memang saya akui, bahwa
di antara teman-teman di biara itu sayalah yang paling kritis. Kalau
ada sesuatu yang nnenurut logika saya tidak nalar, selalu saya
tanyakan. Itulah sifat saya sejak kecil.

Salah satu yang pernah
saya tanyakan adalah konsep trinitas (Tuhan Bapak, Tuhan Anak, dan Roh
Kudus). Juga status Yesus sebagai Tuhan-kalau memang Yesus itu
Tuhan-mengapa tatkala disalib is memanggil-manggil, "Eloy… Eloy…,
lama sabakhtani?" (Allah… Allah…, mengapa Engkau tinggalkan aku?
(Markus 15 ayat 33)).

Dari jawaban jawaban yang diberikan,
semuanya tidak memuaskan hati saya. Jika saya ingin bertanya lagi,
mereka selalu memotong, "Jangan dipertanyakan lagi, yang penting kamu
imam dan yakini dalam hati. Itu sudah cukup." Akhirnya saya diam,
meskipun belum puas. Karena Institut Filsafat dan Teologia ada mata
kuliah studi-perbandingan agama, maka saya pun mempelajari agama-agama
yang ada, termasuk Islam. Sejak saat itulah saya mulai
membanding-bandingkan, misalnya antara Islam dan agama saya.

Tidak
terhitung jumlahnya buku-buku Islam yang saya baca. Cuma, semua buku
itu karangan orang-orang di luar Islam. Entah mengapa, ada larangan
buku-buku Islam yang ditulis orang Islam masuk ke perpustakaan kami.
Untungnya, sejak berangkat dari Surabaya dulu saya sudah membawa
AlQur’an dan terjemahannya dari rumah. Saya juga heran, kok dulu sempat
membawa AI-Qur’an. Mungkin sudah takdir Allah.

Mempelajari Al Qur’an

Terjemahan
Al-Qur’an itulah yang kemudian saga pelajari secara sembunyi-sembunyi
di biara. Entah mengapa, saya begitu tertarik dengan Al-Qur’an itu.
Mungkin karena besarnya keinginan saya untuk membandingkannya dengan
Injil. Belum banyak yang saya pelajari, tiba-tiba saya menemukan surat
al-Ikhlas. "Katakanlah (hai Muhammad) Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah
adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada
beranak, dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang
setara dengan Dia "

Secara tidak sadar, setelah membaca surat
al-Ikhlas itu hati saya mengakui, inilah kosep ketuhanan yang sempurna:
sederhana tapi gamblang.

Meskipun demikian, bukan berarti
kemudian saya bergegas masuk Islam. Pengakuan akan kesempurnaan konsep
ketuhanan Islam itu hanya mengendap dalam pikiran. Saya pun terus
mempelajari Al-Qur’an hingga ketemu surat Al-Hujurat ayat 13. "Hai
manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan
perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya
kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang-orang yang mulia di antara
kamu di sisi Allah adalah orang-orang yang bertakwa."

Apa yang
tertangkap dalam pikiran saya pada waktu itu? Ah, Al-Qur’an ini
mengada-ada. Mana mungkin orang seluruh dunia disuruh saling
berkenalan? Tetapi anehnya, pikirani saya justru terangsang dengan ayat
tersebut. Saya ingin tahu apa maksud Al-Qur’an mengatakan seperti itu.
Sava berdialog dengan diri sendiri untuk mencari jawabannya. Saya
renung-renungkan, bukankah avat itu menunjukan bahwa Islam itu
universal. berlaku untuk semua bangsa dan suku?

Ialu berbagai
pertanyaan timbul dalam benak saya, siapakah pengarang Al-Qur’an itu,
dan sudah berapa kali mengalami penyempurnaan? Pertanyaan itu timbul
karena kitab-kitab suci yang lain sudah mengalami penyempumaan demi
penyempurnaan dari masa ke masa. Lalu, mengapa kitab suci ini diberi
nama Al-Qur’an?

Betapa terkejutnya saga setelah tahu dari
membaca buku bahwa Al-Qur’an itu tidak pernah mengalami penyempurnaan.
Demikian pula namanya bukan hasil pemberian seseorang sebagaimana Injil
yang nama-namanya diambil dari penulisnya. Al-Qur’an temyata wahyu
langsung dari Allah, dan Allah pula yang memberi nama kitab itu
Al-Qur’an.

Saya mulai yakin akan kebenaran Islam. bagi saya
Islam bukan agama buatan manusia yang bernama Muhammad sebagai mana
ditanamkan kepada saya sejak kecil. Islam adalah agama ciptaan Allah.

Masuk Islam

Namun
sampai sejauh itu, saya masih belum mau berikrar untuk menjadi seorang
muslim. Masih ada perasaan gengsi dalam diri saya. Sebab, image yang
tumbuh di lingkungan saya adalah bahwa umat Islam itu bodoh, miskin,
kumuh, dan suka amuk. Anggapan seperti itu tergurat kuat dalam benak
saya.

Namun, agaknya Tuhan punya ketentuan lain. Dalam suatu
perjalanan ke Bandung saya mengalami musibah kecelakaan. Karena
kecelakaan itu, mau tidak mau saya mengambil cuti dari biara, pulang ke
Surabaya. Setelah sembuh saya sempat kuliah di Jakarta mengambil
jurusan sosial kemasvarakatan. Mungkin karena banyak bergaul dengan
mahasiswa-mahasiswa Islam, penilaian saya terhadap Islam menjadi lebih
objektif. Dan, sejak itulah saya sudah tidak berniat lagi untuk kembali
ke biara. Saya merasa biara bukan tempat yang cocok buat saya. Maka,
pada saat pulang ke Surabaya saya segera memutuskan tidak akan kembali
ke biara.

Secara kebetulan, saat itu sava bermimpi yang sama
beberapa kali. Dalam mimpi saya itu, seolah-olah teman-teman di biara
berbaris ke suatu arah, sedangkan saya sendiri berbaris ke arah yang
berlawanan. Mimpi seperti itu berlangsung sampai beberapa hari.
Ditambah lagi, di dalam mimpi itu ada suara yang seakan-akan membisikan
bahwa umur saya tinggal 40 hari lagi.

Pada malam berikutnya
suara itu membisikan umur saya tinggal 39 hari. Setiap hari selalu
berkurang satu hari. Begitu seterusnya. Saya bertanya-tanya, apakah ini
suatu kebetulan atau firasat tertentu? Orang tua saya bingung ketika
saya ceritakan mimpi saya itu. Berbagai jalan mereka tempuh untuk
mengusir mimpi "aneh" itu. sampai-sampai orang tua saya
menyelenggarakan slametan bubur sengkolo. Maksudnya untuk menolak bala.

Akan
tetapi, walaupun sudah dislametin, toh malamnya tetap saja datang hal
yang sama seperti kemarin. Demikian pula hari-hari berikutnya , sampai
waktu 40 hari itu habis. Akhirnya saya berpikir praktis saja, "Apalah
artinya sebuah mimpi. Toh, saya masih hidup meski ‘umur’ saya telah
berakhir menurut numipi itu."

Namun, satu hal yang tidak bisa
saya ingkari adalah suara hati saya sendiri. Suara hati itu selalu
membisikkan, "Kalau memang kamu mengakui kebenaran Islam, mengapa kamu
tidak berahi dan tidak mampu memeluk agama Islam? Apakah selamanya kamu
akan mendustai nuranimu sendiri? Apakah kamu akan terus berada di
persimpangan jalan?" Itulah bisikan-bisikan suara hati saya.

Lama-lama
saya tak kuat lagi membohongi nurani saya sendiri. Akhirnya, sehari
menjelang puasa Ramadhan, tepatnya 11 tahun yang lalu saya pun berikrar
menjadi seorang muslim di Masjid al-Falah, Surabaya. Kini, sampai mati
pun saya ingin tetap sebagai muslim, meski rintangan menghadang jalan
hidup saya. (Bambang S / Albaz - dari Buku "Saya memilih Islam"
Penyusun Abdul Baqir Zein, Penerbit Gema Insani Press website : http://www.gemainsani.co.id/)
Last Updated ( Monday, 14 January 2008 10:08 ) 

Stefanus R Sumangkir (Mantan Pendeta) : Penggeliat Paguyuban Mualaf Tegal
Monday, 15 August 2005 08:00 mualafindonesia
   
Sudah
sekitar tiga tahun terakhir, Stefanus R Sumangkir, bergerak membangun
kelompok yang menjadi ajang berkumpulnya para mualaf (orang yang baru
masuk Islam), di Tegal, Jawa Tengah. Kelompok ini disebut sebagai
Paguyuban Mualaf Kallama. Kini anggotanya sudah mencapai 19 orang.
Kelompok itu berusaha untuk mandiri dengan berupaya semampunya. Dana
untuk organisasi didapat dari iuran anggota dan sumbangan dermawan.
”Paguyuban ini untuk ajang komunikasi dan juga wahana mendalami
Islam,” ujar Sumangkir.

Jalan yang ditempuh Sumangkir untuk
bisa membangun komunitas mualaf ini cukup berliku. Mulanya, Sumangkir
yang kini berusia 56 tahun itu adalah seorang penginjil. Ajaran Kristen
memang telah melekat pada keluarga Sumangkir sejak dia masih kecil.
Pada 1986-1987, Sumangkir dikirim untuk menuntut ilmu di sekolah
teologi di Malang, Jawa Timur. Ilmu-ilmu yang diperlukan untuk jadi
penginjil pun diserapnya. Hingga 1988, Sumangkir dipercaya Gereja
Maranatha Slawi untuk membimbing jemaat.
Dia sempat dikirim ke Desa
Karanggedang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, untuk misi pengkristenan.
Di desa yang mayoritas penduduknya eks-tapol Pulau Buru itu, Sumangkir
rajin mendekati warga agar masuk Kristen. Dengan semangat tinggi,
Sumangkir bisa meluluhkan sebagian hati warga sehingga ada yang memeluk
Kristen. Di Karanggedang ini, Sumangkir mengaku pertama kali mendapat
hidayah dari Tuhan. ”Saat saya menemui seorang yang akan kami
Kristenkan, orang itu bertanya kepada saya tentang Tuhan yang katanya
satu tetapi mencipta dua hukum. Contohnya tentang babi, di mana Kristen
menghalalkan dan Islam mengharamkan. Atas pertanyaan itu saya
kebingungan,” ujarnya mengenang.
Sejak itu dia mencoba membuka-buka
Injil yang menjadi pedoman bagi agama Kristen. Ternyata Surat Imamat 11
ayat 7 menyebutkan babi haram karena memiliki dua kuku yang terbelah.
Namun para pendeta Kristen, saat mengajar di gereja-gereja tak
menyatakan babi haram bagi umat Kristen. Beberapa tahun berlalu.
Sumangkir mendapat tugas mengajar di Gereja Maranata dan GPPS Budimulya
di Slawi, Kabupaten Tegal. Di situ Sumangkir berceramah di hadapan
jemaat tentang babi yang diharamkan. Ternyata ceramah itu menjadi tidak
berkenan bagi majelis gereja yang langsung menskorsnya. Nama Stepanus
Sumangkir dihapus dari daftar penceramah tanpa alasan.
Saat itu
Sumangkir tidak langsung berganti agama, namun tetap saja pada
pendirian sebagai penginjil. Secara mandiri dia aktif mencari sasaran
di tengah masyarakat yang miskin. Kehidupan sebagai penginjil cukup
menopang ekonominya pada waktu itu. Dua anaknya, Euneke Alfa Lidia (16
tahun) dan Critoper Pitagoras (13 tahun) bisa sekolah dan hidup layak.
Di tengah kegalauan jiwanya tentang keyakinan dalam beragama, Sumangkir
mendapat hidayah yang kedua. Kali ini lewat tayangan televisi Indosiar
yang memutar film Ramadhan berjudul Jamaludin Al Afghani. Film tentang
tokoh Islam itu mengetuk hati keluarga Sumangkir untuk memeluk Islam.
Dari sinilah ghirah Islamnya terus tumbuh, sampai akhirnya dia
membangun Paguyuban Mualaf Kallama.
Mulanya, kelompok ini menggelar
pengajian rutin setiap malam Senin, bertempat di rumah Sumangkir di
Jalan Murbei No 16, Kelurahan Kraton, Kecamatan Tegal Barat, Kota
Tegal. Mereka biasanya memanggil ustadz untuk menambah ilmunya. Anggota
paguyuban mualaf yang dipimpin Sumangkir terkadang harus lapang dada
diperlakukan tidak adil. Perlakuan seperti ini, misalnya, pernah
dialami Gunawan yang bekerja di sebuah toko emas di Kota Tegal. Sejak
lama Gunawan menjadi penganut Katolik yang taat, namun akhirnya dia
memilih masuk Islam. Saat masih memeluk Katolik, lingkungan tempatnya
bekerja terbilang kondusif. Namun, begitu Gunawan ketahuan setiap Jumat
pamit ke masjid untuk shalat Jumat, pemilik toko menjadi kurang
berkenan. Akhirnya Gunawan dipecat.
Karena kebutuhan ekonomi,
akhirnya para mualaf yang semula aktif mengikuti kegiatan pengajian
menjadi berkurang. ”Ya saya maklum, mereka harus bisa menghidupi
keluarga. Sehingga, mereka memilih keluar kota mencari pekerjaan,”
tutur Sumangkir. Sumangkir sendiri menggantungkan hidupnya sebagai
penceramah dibantu istrinya, Siti Fatimah, juga mualaf, yang tiap hari
berjualan nasi gudeg. Karena faktor kesibukan itu, aktivitas Paguyuban
Mualaf Kallama tak lagi rutin. Namun, Sumangkir tetap ingin
menjalankannya. Kini sedang dirintis agar paguyuban itu bisa menjadi
ajang usaha bersama.
Beberapa anggota yang memiliki keahlian akan
dirangkulnya. Sumangkir yang piawai dalam membuat papan reklame dan
sablon, akan merintis usaha dalam bidang tersebut. Cuma, katanya, kini
belum punya modal. Untuk membangun usaha reklame memang diperlukan
peralatan seperti kompresor, dan peralatan sablon yang harganya cukup
mahal. Bersama anggotanya, dia akan terus berupaya agar ada penghasilan
yang bisa menghidupi keluarganya dan Paguyuban Mualaf Kallama. Sumber :
Harian Republika, http://www.republika.co.id

Situa Ojak Hutagaol (H. Abd. Razak H.) : Menemukan Kebenaran dalam Islam
Monday, 11 July 2005 08:31 mualafindonesia
   
Saya,
ketika itu, begitu bangga menjadi umat kristiani. Bahkan, saya sering
mengejek umat Islam dengan kata-kata kotor. Bagi saya waktu itu, Islam
tak lebih sebagai agamanya orang-orang miskin yang kotor dan
menjijikkan. Tapi, setelah saya mengenal Islam lebih jauh dan mulai
bersahabat dengan orang Islam, baru saya mengerti bahwa Islam adalah
agama yang suci.
ISLAM adalah agama hakiki yang dapat dikaji dan
didiskusikan. Islam juga tak berseberangan dengan alam rasional
sehingga kebenaran dapat ditemukan dalam Islam. Nama saya sekarang H.
Abdul Razak Hutagaol (43), tapi sebelum Islam saya dikenal dengan nama
Situa Oak Hutagaol. Saya seorang aktivis Gereja HKBP (Huria Kristen
Batak Protestan) Tanjung Priok, Jakarta Utara. Saya menjadi muslim pada
tanggal 16 September 1997 di Masjid Syuhada, Yogyakarta. Alhamdulillah,
sebulan kemudian saya menunaikan ibadah umrah. Bahkan, setahun kemudian
saya menunaikan ibadah haji. (Amien, Red.)

Keluarga kami sangat
taat beragama. Papi saya adalah seorang akhvis gereja sehingga saya dan
seluruh keluarga selalu mempelajari agama. Teringat ketika masih kecil,
papi sering menyuruh saya untuk datang ke gereja. Bahkan kalau tak mau,
ia sering memarahi saya.

Proses awal saya masuk Islam, melalui
pengkajian pendalaman terhadap Alkitab (Bibel) yang saya bandingkan
dengan kitab suci Al-Qur’an. Temyata Al-Qur’an lebih konsisten, baik
dalam redaksi maupun ajarannya.
Saya, ketika itu, begitu bangga
menjadi umat kristiani. Bahkan, saya sering mengejek umat Islam dengan
kata-kata kotor. Bagi saya waktu itu, Islam tak lebih sebagai agamanya
orang-orang miskin yang kotor dan menjijikkan. Tapi, setelah saya
mengenal Islam lebih jauh dan mulai bersahabat dengan orang Islam, baru
saya mengerti bahwa Islam adalah agama yang suci.
Di antara perintah
(ayat) Injil yang tidak dipatuhi umat Kristen adalah soal keharusan
memakal kerudung bagi kaum wanitanya, termasuk perintah tak boleh
memakan daging babi, seperti tertuang dalam Injil Matius 5:17 dan
Imamat 11: 7. Umat Kristen tak mempedulikan larangan ini. Lain halnya
dengan Islam yang selalu menaati perintah tersebut.

Lalu masalah
teologi, yakni konsep ketuhanan yang sangat membingungkan dan tak masuk
akal, yaitu mengenai masalah trinitas (Tuhan Bapa, Tuhan Anak, dan Roh
Kudus). Jadi, menurut saya, falsafah Kristen itu sudah tak dapat
dipercaya.

Saya juga memperhatikan munculnya aliran (sekte) yang
ada di dalam agama Kristen Misalnya, ada pendeta di Guyana, Amerika
Latin, yang memerintahkan jemaatnya untuk melakukan bunuh diri massal,
dengan tujuan ingin bertemu Tuhan Ini menurut saya tak masuk akal. Tapi
dalam Islam, seperti di pesantren-pesantren atau di majelis-majelis
taklim, tak pernah ada hal semacam itu.

Sebab itu, saya bertekad
untuk mendalami Islam lebih jauh. Dan, ternyata Islam memberikan
cakrawala berpikir lebih rasional. Sehingga Islam itu bisa dikaji dan
didiskusikan seperti mengenai masalah haram, makruh, halal, dan
lainnya. Islam itu juga tak mengenal dogma-dogma.

Saya juga
teringat pada awal masuk Islam, ada kejadian aneh yang saya alami –
mungkin tidak ada orang yang percaya. Ceritanya terjadi ketika saya
sedang mengalami kesulitan ekonomi. Ada suara aneh dan sangat kasar
menyuruh saya untuk membaca Al-Qur’an dan melakukan shalat. Perintah
ini jelas sekali terdengar sampai tiga kali berturut-turut.

Saya
waktu itu dalam keadaan sadar. Saya tak mengerti, apakah suara itu
suara jin atau apa. Tapi, saya berpikir keras. Setelah proses mengkaji
itu, mungkin ini perintah Allah kepada saya. Kejadian ini seringkali
muncul ketika saya sedang dalam keadaan susah.

Saya
mengibaratkan kejadian yang selalu mendadak ini sebagai ilham kepada
saya. Apa yang selama ini saya anggap gaib, ternyata dapat saya
rasakan. Hingga akhirnya saya memilih Islam sebagai pegangan hidup.

Sebulan
kemudian, saya menjalankan ibadah umrah yang dibiayai oleh Haji
Darmanto. Selesai umrah, saya banyak belajar mendalami Islam dengan
bimbingan Ustadz Drs. H. Syamsul Arifin Nababan, pimpinan Yayasan
Pendidikan Muallaf. Saya juga terus mendalami Islam di yayasan
pendidikan Islam serta pesantren-pesantren lainnya.

Cobaan Iman

Setelah
masuk Islam, banyak pula cobaan yang menimpa saya. Di antaranya waktu
kembali dari ibadah umrah, saya ditangkap polisi atas tuduhan perbuatan
yang tidak menyenangkan atas pengaduan orang tua saya. Dan ternyata,
penangkapan itu dipimpin oleh ipar saya sendiri. Tapi akhirnya
persoalan selesai dan semuanya telah saya maafkan.

Sedangkan
orang tua saya sekarang ini masih belum bisa memaafkan saya. la belum
juga mau menjumpai saya, walaupun saya sudah melakukan kompromi dengan
berbagai pihak untuk mengadakan pertemuan itu. Tapi, sampai saat ini
belum berhasil. Mudah-mudahan Allah bisa memberikan hidayah kepadanya.

Saya
juga mengalami cobaan dalam hal ekonomi. Dulu, saya seorang kontraktor
yang sukses dan hidup sangat kecukupan. Tapi, sekarang ini saya diuji
Allah, dengan dihilangkan sebagian dari harta yang saya miliki.
Sekarang saya hidup sederhana.

Saya cukup pusing dengan sikap
anak-anak saya yang tidak mau menerima kenyataan ini. Mereka selalu
bertanya, "Mengapa dulu sebelum ayah masuk Islam hidup kita
berkecukupan, bisa punya mobil mewah, bisa beli apa yang diinginkan.
Tapi sekarang, setelah ayah masuk Islam hidup kita menjadi susah?"

Pertanyaan-pertanyaan
inilah yang membuat saya sedih. Bagaimana saya harus menerangkan kepada
anak-anak saya itu? Saya hanya bisa meneteskan air mata. Hanya bisa
memohon kepada Allah dan selalu berzikir dan terus berusaha. Karena
anak-anak saya belum bisa menerima Islam, sedangkan istri saya sudah
dapat menerima dan sudah saya islamkan.

Saya terus berusaha
membuktikan kepada anak-anak kami bahwa sebenarnya Islam itu tidak
membuat orang jadi melarat. Allah juga membuktikannya kepada saya
melalui rezeki yang tak diduga-duga. Ini saya yakini sebagai anugerah
Allah kepada saya. (dari Buku "Saya memilih Islam" Penyusun Abdul Baqir
Zein, Penerbit Gema Insani Press website : http://www.gemainsani.co.id/).
Last Updated ( Monday, 14 January 2008 10:23 )

Abraham David Mandey : Pendeta yang mendapat Hidayah Allah
Friday, 24 June 2005 10:00 mualafindonesia
   
Barangkali
tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa perjalanan hidupnya merupakan
suatu kasus yang langka dan unik. Betapa tidak, Abraham David Mandey
yang selama 12 tahun mengabdi di gereja sebagai "Pelayan Firman Tuhan
", istilah lain untuk sebutan pendeta, telah memilih Islam sebagai
"jalan hidup" akhir dengan segala risiko dan konsekuensinya. Di samping
itu, ia yang juga pernah menjadi perwira TNI-AD dengan pangkat mayor,
harus mengikhlaskan diri melepas jabatan, dan memulai karir dari bawah
lagi sebagai kepala keamanan di sebuah perusahaan swasta di Jakarta.
Cerita
Beliau ini, - mohon maaf - tidak bermaksud untuk menjelek-jelekan
Institusi tertentu karena apa yang telah terjadi Beliau terima dengan
ikhlas dan tawakal, Beliau hanya ingin menceritakan proses bagaimana
Beliau mendapat hidayah dan tantangannya sebagai mualaf - red.
Saya
terlahir dengan nama Abraham David di Manado, 12 Februari 1942.
Sedangkan, Mandey adalah nama fam (keluarga) kami sebagai orang
Minahasa, Sulawesi Utara. Saya anak bungsu dan tiga bersaudara yang
seluruhnya laki-laki. Keluarga kami termasuk keluarga terpandang, baik
di lingkungan masyarakat maupun gereja. Maklum, ayah saya yang biasa
kami panggil papi, adalah seorang pejabat Direktorat Agraria yang
merangkap sebagai Bupati Sulawesi pada awal revolusi kemerdekaan
Republik Indonesia yang berkedudukan di Makasar. Sedangkan, ibu yang
biasa kami panggil mami, adalah seorang guru SMA di lingkungan sekolah
milik gereja Minahasa.

Sejak kecil saya kagum dengan
pahlawan-pahlawan Perang Salib seperti Richard Lion Heart yang
legendaris. Saya juga kagum kepada Jenderal Napoleon Bonaparte yang
gagah perwira. Semua cerita tentang kepahlawanan, begitu membekas dalam
batin saya sehingga saya sering berkhayal menjadi seorang tentara yang
bertempur dengan gagah berani di medan laga.

Singkatnya, saya
berangkat ke Jakarta dan mendaftar ke Mabes ABRI. Tanpa menemui banyak
kesulitan, saya dinyatakan lulus tes. Setelah itu, saya resmi mengikuti
pendidikan dan tinggal di asrama. Tidak banyak yang dapat saya
ceritakan dari pendidikan militer yang saya ikuti selama 2 tahun itu,
kecuali bahwa disiplin ABRI dengan doktrin "Sapta Marga"-nya telah
menempa jiwa saya sebagai perwira remaja yang tangguh, berdisiplin, dan
siap melaksanakan tugas negara yang dibebankan kepada saya.

Meskipun
dipersiapkan sebagai perwira pada bagian pembinaan mental, tetapi dalam
beberapa operasi tempur saya selalu dilibatkan. Pada saat-saat operasi
pembersihan G-30S/PKI di Jakarta, saya ikut bergabung dalam komando
yang dipimpin Kol. Sarwo Edhie Wibowo (almarhum).

Setelah
situasinegara pulih yang ditandai dengan lahirnya Orde Baru tahun 1966,
oleh kesatuan saya ditugaskan belajar ke STT (Sekolah Tinggi Teologi)
milik gereja Katolik yang terletak di Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat.
Di STI ini, selama 5 tahun (1966-1972) saya belajar, mendalami,
mengkaji, dan diskusi tentang berbagai hal yang diperlukan sebagai
seorang pendeta. Di samping belajar sejarah dan filsafat agama Kristen.
STT juga memberikan kajian tentang sejarah dan filsafat agama-agama di
dumia, termasuk studi tentang Islam.

Menjadi Pendeta.

Sambil
tetap aktif d TNI-AD, oleh Gereja Protestan Indonesia saya ditugaskan
menjadi Pendeta II di Gereja P***** (edited) di Jakarta Pusat,
bertetangga dengan Masjid Sunda Kelapa. Di gereja inilah, selama kurang
lebih 12 tahun (1972-1984) saya memimpin sekitar 8000 jemaat yang
hampir 80 persen adalah kaum intelektual atau masyarakat elit.

Di
Gereja P***** (edited) ini, saya tumpahkan seluruh pengabdian untuk
pelayanan firman Tuhan. Tugas saya sebagai Pendeta II, selama
memberikan khutbah, menyantuni jemaat yang perlu bantuan atau mendapat
musibah, juga menikahkan pasangan muda-mudi yang akan berumah tangga.

Kendati
sebagai pendeta, saya juga anggota ABRI yang harus selalu siap
ditugaskan di mana saja di wilayah Nusantara. Sebagai perwira ABRI saya
sering bertugas ke seluruh pelosok tanah air Bahkan, ke luar negeri
dalam rangka tugas belajar dari markas, seperti mengikuti kursus staf
Royal Netherland Armed Forces di Negeri Belanda. Kemudian, pada tahun
1969 saya ditugaskan untuk mengikuti Orientasi Pendidikan Negara-negara
Berkembang yang disponsoni oleh UNESCO di Paris, Prancis.

Dilema Rumah Tangga

Kesibukkan
saya sebagai anggota ABRI ditambah tugas tugas gereja, membuat saya
sibuk luar biasa. Sebagaipendeta, saya lebih banyak memberikan
perhatian kepada jemaat. Sementara,kepentingan pribadi dan keluarga
nyaris tergeser. Istri saya, yang putri mantan Duta Besar RI di salah
satu negara Eropa, sering mengeluh dan menuntut agar saya memberikan
perhatian yang lebih banyak buat rumah tangga.

Tetapi yang
namanya wanita, umumnya lebih banyak berbicara atas dasar perasaan.
Karena melihat kesibukan saya yang tidak juga berkurang, ia bahkan
meminta agar saya mengundurkan diri dan tugas-tugas gereja, dengan
alasan supaya lebih banyak waktu untuk keluarga. Tenth saja saya tidak
dapat menerima usulannya itu. Sebagai seorang "Pelayan Firman Tuhan"
saya telah bersumpah bahwa kepentingan umat di atas segalanya.

Problem
keluarga yang terjadi sekitar tahun 1980 ini kian memanas, sehingga bak
api dalam sekam. Kehidupan rumah tangga saya, tidak lagi harmonis.
Masalah-masalah yang kecil dan sepele dapat memicu pertengkaran. Tidak
ada lagi kedamaian di rumah. Saya sangat mengkhawatirkan Angelique,
putri saya satu-satunya. Saya khawatir perkembangan jiwanya akan
terganggu dengan masalah yang ditimbulkan kedua orang tuanya. Oleh
karenanya, saya bertekad harus merangkul anak saya itu agar ia mau
mengerti dengan posisi ayahnya sebagai pendeta yang bertugas melayani
umat. Syukur, ia mau mengerti. Hanya Angeliquelah satu-satunya orang di
rumah yang menyambut hangat setiap kepulangan saya.

Dalam
kesunyian malam saat bebas dan tugas-tugas gereja, saya sering
merenungkan kehidupan ramah tangga saya sendiri. Saya sering berpikir,
buat apa saya menjadi pendeta kalau tidak mampu memberikan kedamaian
dan kebahagiaan buat rumah tangganya sendiri. Saya sering memberikan
khutbah pada setiap kebaktian dan menekankan hendaknya setiap umat
Kristen mampu memberikan kasih kepada sesama umat manusia. Lalu,
bagaimana dengan saya?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu semakin
membuat batin saya resah. Saya mencoba untuk memperbaiki keadaan.
Tetapi, semuanya sudah terlambat. Istri saya bahkan terang terangan
tidak mendukung tugas-tugas saya sebagai pendeta. Saya benar-benar
dilecehkan. Saya sudah sampal pada kesimpulan bahwa antara kami berdua
sudah tidak sejalan lagi.

Lalu, untuk apa mempertahankan rumah
tangga yang sudah tidak saling sejalan? Ketika niat saya untuk
"melepas" istri, saya sampaikan kepada sahabat-sahabat dekat saya
sesama pendeta, mereka umumnya menyarankan agar saya bertindak lebih
bijak. Mereka mengingatkan saya, bagaimana mungkin seorang pendeta yang
sering menikahkan seseorang, tetapi ia sendiri justru menceraikan
istrinya? Bagaimana dengan citra pendeta di mata umat? Begitu mereka
mengingatkan.

Apa yang mereka katakan semuanya benar. Tetapi,
saya sudah tidak mampu lagi mempertahankan bahtera rumah tangga. Bagi
saya yang terpenting saat itu bukan lagi persoalan menjaga citra
pendeta. Tetapi, bagaimana agar batin saya dapat damai. Singkatnya,
dengan berat hati saya terpaksa menceraikan istri saya. Dan, Angelique,
putri saya satu-satunya memilih ikut bersama saya.

Mencari Kedamaian

Setelah
kejadian itu, saya menjadi lebih banyak melakukan introspeksi. Saya
menjadi lebih banyak membaca literatur tentang filsafat dan agama.
Termasuk kajian tentang filsafat Islam, menjadi bahan yang paling saya
sukai. Juga mengkaji pemikiran beberapa tokoh Islam yang banyak
dilansir media massa.

Salah satunya tentang komentar K.H. E.Z.
Muttaqin (almarhum) terhadap krisis perang saudara di Timur Tengah,
seperti diYerusalem dan Libanon. Waktu itu (tahun 1983), K.H.E.Z.
Muttaqin mempertanyakan dalam khutbah Idul Fitrinya, mengapa Timur
Tengah selalu menjadi ajang mesiu dan amarah, padahal di tempat itu
diturunkan para nabi yang membawa agama wahyu dengan pesan kedamaian?

Saya
begitu tersentuh dengan ungkapan puitis kiai dan Jawa Barat itu.
Sehingga, dalam salah satu khutbah saya di gereja, khutbah Idul Fitni
K.H. E.Z. Muttaqin itu saya sampaikan kepada para jemaat kebaktian.
Saya merasakan ada kekagetan di mata para jemaat. Saya maklum mereka
terkejut karena baru pertama kali mereka mendengar khutbah dari seorang
pendeta dengan menggunakan referensi seorang kiai Tetapi, bagi saya itu
penting, karena pesan perdamaian yang disampaikan beliau amat manusiawi
dan universal.

Sejak khutbah yang kontroversial itu, saya banyak
mendapat sorotan. Secara selentingan saya pemah mendengar "Pendeta
Mandey telah miring." Maksudnya, saya dinilai telah memihak kepada
salah satu pihak. Tetapi, saya tidak peduli karena yang saya sampaikan
adalah nilai-nilai kebenaran.

Kekaguman saya pada konsep
perdamaian Islam yank diangkat oleh KH. E.Z. Muttaqin, semakin menarik
saya lebih kuat untuk mendalami konsepsi-konsepsi Islam lainnya. Saya
ibarat membuka pintu, lalu masuk ke dalamnya, dan setelah masuk, saya
ingin masuk lagi ke pintu yang lebih dalam. Begitulah perumpamaannya.
Saya semakin "terseret" untuk mendalami, konsepsi Islam tentang
ketuhanan dan peribadahan

Saya begitu tertarik dengan konsepsi
ketuhanan Islam yang disebut "tauhid". Konsep itu begitu sederhana,
lugas, dan tuntas dalam menjelaskan eksistensi Tuhan yang oleh orang
Islam disebut Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sehingga, orang yang paling
awam sekalipun akan mampu mencemanya. Berbeda dengan konsepsi ketuhanan
Kristen yang disebut Trinitas. Konsepsi ini begitu rumit, sehingga
diperlukan argumentasi ilmiah untuk memahaminya.

Akan halnya
konsepsi peribadatan Islam yang disebut syariat, saya melihatnya begitu
teratur dan sistematis. Saya berpikir seandainya sistemper ibadatan
yang seperti ini benar benar diterapkan, maka dunia yang sedang kacau
ini akan mampu di selamatkan.

Pada tahun 1982 itulah saya
benar-benar mencoba mendekati Islam. Selama satu setengah tahun saya
melakukar konsultasi dengan K.H. Kosim Nurzeha yang juga aktif di
Bintal (Pembinaan Mental) TNI-AD. Saya memang tidak ingin gegabah dan
tergesa-gesa, karena di samping saya seorang pendeta, saya juga seorang
perwira Bintal Kristen dilingkungan TNI-AD. Saya sudah dapat menduga
apa yang akan terjadi seandainya saya masuk Islam.

Tetapi, suara
batin saya yang sedang mencari kebenaran dan kedamaian tidak dapat
diajak berlama-lama dalam kebimbangan. Batin saya mendesak kuat agar
saya segera meraih kebenaran yang sudah saya temukan itu.

Oh,
ya, di samping Pak Kosim Nurzeha, saya juga sering berkonsultasi dengan
kolega saya di TNI-AD. Yaitu, Dra. Nasikhah M., seorang perwira Kowad
(Korps.Wanita Angkatan Darat) yang bertugas pada BAIS (Badan Intelijen
dan Strategi) ABRI.

Ia seorang muslimah lulusan UGM (Universilas
Gajah Mada) Yogyakarta, jurusan filsafat. Kepadanya saya sering
berkonsultasi tentang masalah-masalah pribadi dan keluarga. Ia sering
memberi saya buku-buku bacaan tentang pembinaan pribadi dan keluarga
dalam Islam. Saya seperti menemukan pegangan dalam kegundahan sebagai
duda yang gagal dalam membina rumah tangganya.

Akhirnya, saya
semakin yakin akan hikmah dibalik drama rumah tangga saya. Saya yakin
bahwa dengari jalan itu, Tuhan ingin membimbing saya ke jalan yang
lurus dan benar. Saya bertekad, apa pun yang terjadi saya tidak akan
melepas kebenaran yang telah saya raih ini.

Akhimya, dengan
kepasrahan yang total kepada Tuhan, pada tanggal 4 Mei 1984 saya
mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat dengan bimbingan Bapak K.H.
Kosim Nurzeha dan saksi Drs. Farouq Nasution di Masjid Istiqial. Allahu
Akbar. Hari itu adalah hari yang amat bersejarah dalam hidup saya. Han
saat saya menemukan diri saya yang sejati.

Menghadapi Teror

Berita
tentang keislaman saya ternyata amat mengejutkan kalangan gereja,
termasuk di tempat kerja saya di TNI-AD. Wajar, karena saya adalah
Kepala Bintal (Pembinaan Mental)Kristen TNI-AD dan di gereja, saya
adalah pentolan.

Sejak itu saya mulai memasuki pengalaman baru,
yaitu menghadapi tenor dan berbagai pihak. Telepon yang bernada ancaman
terus berdening. Bahkan, ada sekelompok pemuda gereja di Tanjung Priok
yang bertekad menghabisi nyawa saya, karena dianggapnya telah murtad
dan mempermalukan gereja.

Akan halnya saya, di samping
menghadapi teror, juga menghadapi persoalan yang menyangkut tugas saya
di TNI AD. DGI (Dewan Gereja Indonesia), bahkan menginim surat ke
Bintal TNT-AD, meminta agar saya dipecat dan kedinasan dijajaran ABRl
dan agar saya mempertanggungjawabkan perbuatan saya itu di hadapan
majelis gereja.

Saya tidak penlu menjelaskan secara detail
bagaimana proses selanjutnya, karena itu menyangkut rahasia Mabes ABRI.
Yang jelas setelah itu, saya menerima surat ucapan tenima kasih atas
tugas-tugas saya kepada negara, sekaligus pembebastugasan dan jabatan
saya di jajaran TNT-AD dengan pangkat akhir Mayor.

Tidak ada
yang dapat saya ucapkan, kecuali tawakal dan ménerima dengan ikhlas
semua yang tenjadi pada diri saya. Saya yakin ini ujian iman.

Saya
yang terlahir dengan nama Abraham David Mandey, setelah muslim menjadi
Ahmad Dzulkiffi Mandey, mengalami ujian hidup yang cukup berat.
Alhamdulillah, berkat kegigihan saya, akhirnya saya diterima bekerja di
sebuab perusahaan swasta. Sedikit demi sedikit kanin saya terus
menanjak. Setelah itu, beberapa kali saya pindah kerja dan menempati
posisi yang cukup penting. Saya pennah menjadi Manajer Divisi Utama FT
Putera Dharma. Pernah menjadi Personel/General Affairs Manager Hotel
Horison, tahun 1986-1989, Dan, sejak tahun 1990 sampai sekarang saya
bekerja di sebuah bank terama di Jakarta sebagai Safety & Security
Coordinator.

Kini, keadaan saya sudah relatif baik, dan saya
sudah meraih semua kebahagiaan yang selama sekian tahun saya rindukan.
Saya sudah tidak lagi sendiri, sebab Dra. Nasikhah M, perwira Kowad
itu, kini menjadi pendamping saya yang setia, insya Allah selama hayat
masih di kandung badan. Saya menikahinya tahun 1986. Dan, dan perikahan
itu telah lahir seorarig gadis kedil yang manis dan lucu, namariya
Achnasya. Sementara, Angelique, putri saya dari istri pertama, sampai
hari ini tetap ikut bersama saya, meskipun ia masih tetap sebagai
penganut Protestan yang taat.

Kebahagiaan saya semakin bertambah
lengkap, tatkala saya mendapat kesempatan menunaikan ibadah haji ke
Tanah Suci bersama istri tercinta pada tahun 1989.
Last Updated ( Monday, 14 January 2008 10:20 )

G.M. Sudarta : Kembali kepada Keagungan Islam
Monday, 13 June 2005 21:00 mualafindonesia
   
Nama
saya Geradus Mayela Sudarta, biasa disingkat G.M. Sudarta. Saya lahir
pada hari Rabu Kliwon di Desa Kauman, Klaten, Jawa Tengah tepatnya pada
20 February 1948. Saya putra bungsu dari pasangan Hardjowidjoyo dan
Sumirah.
Keluarga besar saya, separo Katolik dan separo Islam. Ayah
saya Islam Kejawen atau kebatinan, sedangkan ibu saya muslimah. Sejak
kecil sebenarnya saya sudah bersyahadat, tapi dalam bahasa Jawa. Meski
kemudian ketika menjelang remaja saya dipermandikan (dibaptis). Ini
mungkin karena pengaruh adik-adik ayah (paman) yang beragama Katolik.
Saya sering ikut ke Gereja bersama mereka. Karena seringnya ke Gereja,
saya pernah berujar, "Mendengarkan lagu Gregorian itu sama indahnya
seperi mendengar Adzan.".
Walaupun saya sudah dibaptis dan sering
diajak ke Gereja, namun saya seperti tidak beragama Kristen Katolik
saja, saya juga merasa sudah begitu akrab dengan agama Islam. Ibu dan
saudara-saudara ibu, juga berasala dari keluarga muslim, jadi dapat
saya katakan saya sudah begitu akrab dengan Islam.
Ketika saya di
SMP saya bahkan pernah menjadi Ketua Rating PII (Pelajar Islam
Indonesia) di sekolah. Ketika SMA, saya terlbat dalam pendirian Teater
Akbar bersama Deddy Soetomo. Kebetulan, anggotanya kebanyakan dari PII.
Teater yang saya dirikan sering menjuarai Festival HSBI (Himpunan Seni
Budaya Islam).
Teater kami sering membawakan naskah-naskah karya
ARifin C. Noer, salah satunya adalah naskah yang berjudul Amniah.
Naskah ini sering kami pentaskan. Bahkan dalam Kongres PII, Teater
Akbar menjadi juara pada festival seninya.
Akibat kemenangan ini,
sebuah surat kabar terbitan Semarang menulis, tidak semua anggota
Teater Akbar orang muslim. Posisi saya dalam teater ini menjadi serba
salah. Padahal saya hanya penata panggung dan kadang-kadang figuran.
Pernyataan surat kabar ini pastilah ditujukan kepada saya.
Bagi
saya, ini bukan masalah, dalam hal ini saya beruntung dibela oleh
sastrawan O’Galelano. Menurutnya yang penting adalah estetika nya.
Muslim atau bukan, yang penting bagus.
Selain aktif di dunia teater,
saya juga bergaul dengan teman-teman muslim. Dari sanalah saya mulai
membaca buku tentang keagamaan. Selain itu, saya juga membaca buku-buku
Tan Malaka dan sejenisnya, serta buku yang lebih bersifat
eksistensialis. Saya selalu bertanya, sehingga saya makin berfikir
untuk mencari sebab dan akibat kehidupan.
Saya hidup untuk apa ?
apalagi anggota Pelukis Rakyat banyak mempengarushi saya, sehingga saya
bersimpati pada perjuangan mereka, karena ada sebagian anggota yang
ikut menjawab pertanyaan saya. Tapi, itu tidak begitu lama. Akhirnya
saya terus berfikir untuk mencari tahu. Saya pernah berfikir, Tuhan
adxa atau tidak ada, tidak menjadi soal.

Sering Ziarah
Untuk
menjawab itu, saya sering pergi kebeberapa makan Sunan (Wali). Saya
sering tidur di makam Syekh Maulana Yusuf di Banten, makam Sunan Kudus,
bahkan sampai ke Gresik. Namun, pertanyaan itu makin gencar dalam hati
saya, walaupun saya sadar tidak akan terjawab. Saya banyak mencari-cari
terutama hal-hal yang musykil.
Perjalanan ziarah itu bukanlah untuk
mencari apa-apa. Bahkan saya tidak tahu untuk apa. Pertanyaan itulah
yang menuntun saya mengunjungi atau menziarahi makam para sunan, bahkan
sampai tidur disana. Yang jelas saya mencari pertanyaan yang tidak
pernah terjawab tentang Tuhan.
Dari perjalanan mengunjungi makam
para wali itu, saya pernah mengalaim kejadian aneh. Di saat saya
mengunjungi makan Syekh Maulana Yusuf di Banten, saya di datangi
seorang Arab berbaju putih dan bersorban, dengan logat yang kaku ia
berbicara tentang nabi Isa AS. Orangnya pintar sekali.
Selanjutnya
orang itu menjabat tangan saya, anehnya bau wanginya selama satu minggu
tidak hilang, walaupun sering saya cuci. Dari situ saya mencari orang
itu sampai ke Kudus dan tempat lain. Saya mencari orang itu tapi tidak
ketemu.
Walaupun saya bukan seorang muslim, namun mengunjungi makam
para wali sangat berarti bagi saya. Selain mencari jawaban atas hakikat
hidup, sekaligus juga untuk mencari inspirasi dalam usaha kerja saya
sebagai sorang kartunis (Aktif dalam Harian Kompas http://www.kompas.co.id , Red).
Dari
perjalan ziarah inilah, saya menemukan kedamaian dan ketenangan. Banyak
hal yang saya temukan. Yang jelas saya kini mendapatkan ketenangan.
Walaupun saya masih dalam tahap mempelajari Islam, namun saya sudah
mendapatkan karunia itu. Oleh Tuhan saya dititipi sepasang anak kembar.
Dari
semua itu semakin menyadarkan saya, bahwa pegangan yang sederhana
tetapi mempunyai kekuatan yang luar biasa adalah agama. dan doa kita
itu pasti diterima dan dikabulkan Tuhan.
Agama, inilah jawaban yang
saya terima dari perjalanan saya mengunjungi makam para wali untuk
mencari hakikat hidup. Saya benar-benar disadarkan akan pentingnya
sebuah pegangan hidup; Agama - yang menjadi pegangan mengarungi lautan
kehidupan.

Masuk Islam
Dari apa yang telah dititipkan Tuhan
pada saya — sepasang anak kembar — saya kembali disadarkan oleh rasa
keberagamaan saya. Aryo Damar, anak saya yang laki-laki, sejak berusia
tiga bulan sampai sekarang, bila ada adzan Magrib di televisi, ia tidak
mau melepaskan diri dari depan kaca televisi. Kalaupun sedang menangis,
ia berhenti dahulu untuk mendengarkan adzan. Kejadian ini saya rekam
dan saya abadikan dalam kaset video. Kelakuan anak saya ini semakin
memperingatkan dan membuat saya yakin bahwa pegangan paling sederhana
dan mempunyai kekuatan adalah Agama.
Akhirnya, saya putuskan untuk
menerima apa yang terjadi pada diri saya. Saya mengikrarkan diri
menjadi seorang muslim, dengan kata lain menerima Islam. Perpindahan
saya menjadi seorang muslim ini disambut baik oleh teman-teman saya dan
mereka memberi beberapa buku agama, tafsir Al-Qur’an dan buku Fiqih
Sunnah karya SAayid Sabiq lengka 12 jilid. Bahkan yang aneh ada teman
saya yang memberikan AL-Qur’an jauh sebelum saya mengucapkan dua
kalimah syahadat. Mungkin ia sudah mendapat firasat.
Selain itu,
banyak pula teman-teman saya yang menyatakan penyesalannya atas
keputusan saya itu. Mereka menyesali perubahan yang terjadi pada diri
saya. Namun itu tidak membuat saya mundur. Saya tetap berkeyakinan
untuk menjadi seorang muslim.
Islam bagi saya adalah agama yang
memiliki toleransi paling tinggi. Dengan Islam saya menjadi lebih
mantap memastikan pegangan hidup. Kini saya banyak belajar dari istri
untuk mendalami agama terutama belajar Al-Qur’an. Selain kepada
teman-teman saya juga sering mendiskusikan dengan para tokoh agama .
Hal ini saya maksudkan untuk memantapkan keimanan saya. (Hamzah,
mualaf.com)
Last Updated ( Saturday, 19 January 2008 11:00 )

sumber : www.mualaf.com

agamaislam wrote on Feb 3
KISAH2 MUALAF

Rahmat Purnomo mantan pendeta : Ujung Pencarian memperoleh Rahmat Islam
Friday, 14 September 2007 11:04 mualafindonesia
   
Ia
adalah seorang laki-laki keturunan, sang ayah Holandia dan ibu
Indonesia dari Kota Ambon yang terletak di pulau kecil di ujung timur
kepulauan Indonesia. Kristen adalah agama yang diwariskan keluarganya
dari bapak dan kakeknya. Kakeknya adalah seorang yang punya kedudukan
tinggi pada agama kristen yang bermadzhab protestan, bapaknya juga
demikian, namun ia bermadzhab Pantikosta. Sedangkan ibunya sebagai
pengajar injil untuk kaum wanita, adapun dia sendiri juga punya
kedudukan dan sebagai ketua bidang dakwah di sebuah Gereja Bethel Injil
Sabino.
Tidak terbetik dalam hatiku walau sedikit pun untuk
menjadi seorang muslim, sebab sejak kecil aku mendapatkan pelajaran
dari orang tuaku yang selalu mengatakan padaku bahwa Muhammad adalah
seorang laki-laki badui, tidak punya ilmu, tak dapat membaca dan
menulis.

Bahkan lebih dari itu, aku telah membaca buku Profesor
Doktor Ricolady, seorang nasrani dari Prancis bahwa Muhammad itu
seorang dajjal yang tinggal di tempat kesembilan dari neraka.
Demikianlah kedustaan itu dibuat untuk menjatuhkan pribadi Rasul
shallallahu ‘alaihi wa sallam, sejak itulah tertanam pada diriku
pemikiran salah yang mendorongku untuk menolak Islam dan menjadikannya
sebagai agama.

Pada suatu hari pimpinan gereja mengutusku untuk
berdakwah selama tiga hari tiga malam di Kecamatan Dairi, letaknya
cukup jauh dari ibu kota Medan yang terletak di sebelah selatan pulau
Sumatra Indonesia. Setelah selesai, aku hendak menemui penanggung jawab
gereja di tempat itu. Tiba-tiba seorang laki-laki muncul di hadapanku,
lalu bertanya dengan pertanyaan aneh, “Engkau telah mengatakan bahwa
Isa Al-Masih adalah tuhan, mana dalilmu tentang ketuhanannya?” Aku
menjawab, “Baik ada dalil ataupun tidak, perkara ini tidak penting
bagimu, jika kamu mau beriman berimanlah, jika tidak kufurlah.”

Namun,
ketika aku pulang ke rumah, suara laki-laki itu mengganggu pikiranku
dan selalu terngiang-ngiang di telingaku, mendorongku untuk melihat
Kitab Injil mencari jawaban yang benar dari pertanyaannya. Telah
diketahui bahwa di sana ada empat kitab Injil yang berbeda-beda, salah
satunya MATHIUS, yang lainnya MARKUS, yang ketiga LUKAS, dan yang
keempat YOHANNES, semuanya buatan manusia. Ini aneh sekali, aku
bertanya-tanya pada diriku, “Apakah Al Qur’an dengan nuskhoh yang
berbeda-beda juga buatan manusia?” Aku mendapatkan jawaban yang tak
bisa lari darinya yakni dengan pasti, “Bukan!”

Aku mempelajari
keempat Injil tersebut, lalu apa yang kudapatkan? Injil MATHIUS
berbicara apa tentang Al-Masih Isa ‘alaihis salam? Kami membaca di
dalamnya sebagai berikut, “Sesungguhnya Isa Al-Masih bernasab kepada
Ibrohim dan kepada Daud…” (1-1), lalu kalau begitu siapa Isa? Bukankah
ia anak manusia? Ya, kalau begitu dia manusia. Injil LUKAS berkata,
“Dialah yang merajai atas rumah Ya’kub untuk selama-lamanya.
Kerajaannya tidak akan berakhir.” (1-33). Dan Injil MARKUS berkata,
“Inilah silsilah yang menasabkan Isa Al Masih anak Allah.” (1). Dan
yang terakhir injil YOHANNES berbicara apa tentang Isa Al Masih? Ia
berkata, “Pada awalnya ia adalah kalimat, dan kalimat itu di sisi
Allah, maka kalimat itu adalah Allah.” (1:1). Makna dari nash ini dia
pada awalnya adalah Al-Masih dan Al-Masih di sisi Allah, maka Al-Masih
adalah Allah.

Aku bertanya pada diriku, “Berarti di sana ada
perbedaan yang jelas pada empat kitab ini seputar dzat Isa ‘alaihis
salam, apakah ia manusia ataukah anak Allah ataukah Raja ataukah Allah?
Hal itu telah menyulitkanku dan aku belum menemukan jawabannya. Di sini
aku ingin bertanya kepada teman-temanku orang-orang kristen, “Apakah
didapatkan dalam Al-Qur’an pertentangan antara satu ayat dengan yang
lainnya?” Pasti tidak! Kenapa? Karena Al-Qur’an datang dari sisi Allah
subhanahu wa ta’ala, adapun Injil-injil ini hanyalah buatan manusia.
Kalian tahu dan tidak ragu kalau Isa ‘alaihis salam sepanjang hidupnya
berdakwah kepada Allah di sana-sini, kita patut bertanya: apa landasan
awal yang dida’wahkan oleh Isa ‘alaihis salam?

Ini Injil MARKUS
berkata, “Seseorang datang dari Al Katbah, ia mendengar mereka
berbincang-bincang, ketika terlihat bahwa ia adalah (Al-Masih) mereka
menerimanya dengan baik, menanyainya tentang ayat wasiat pertama? Ia
menjawab sambil berjalan: Sesungguhnya wasiat yang pertama ialah
‘Dengarkan wahai Bani Israil! Rabb Tuhan kita adalah Rabb yang Esa.’”
(12: 28-29). Inilah pengakuan yang jelas dari Isa ‘alaihis salam, jadi
kalau Isa telah mengaku bahwa Allah adalah Tuhan yang Esa/Satu, maka
siapakah Isa kalau begitu? Jika Isa adalah Allah juga, maka takkan
pernah ada keesaan bagi Allah. Bukankah begitu?

Kemudian, aku
lanjutkan pencarianku dan aku temukan pada Injil YOHANNES nash-nash
yang menunjukkan doa dan ketundukan Isa Al-Masih ‘alaihis salam kepada
Allah subhanahu wa ta’ala. Aku bertanya pada diriku: Jika sekiranya Isa
adalah Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, lalu apakah ia
membutuhkan kepada ketundukan dan doa? Tentu tidak! Oleh karena itu,
Isa bukan tuhan tetapi dia adalah makhluk seperti kita. Simaklah
bersamaku doa yang terdapat dalam injil YOHANNES, inilah nash doanya:
“Inilah kehidupan yang abadi agar mengetahui bahwa Engkaulah Tuhan yang
hakiki, dan berjalanlah Al-Masih yang Engkau telah mengutusnya, aku
pekerjamu di bumi, amal yang Engkau telah berikan padaku ialah amalan
yang aku telah menyempurnakannya.” (17-3-4). Ini do’a yang panjang,
yang akhirnya berkata, “Wahai Rabbul Baar, sesungguhnya alam tidak
mengenalMu, adapun aku mengenalMu dan mereka telah mengetahui bahwa
Engkau telah mengutusku dan Engkau telah mengenalkan mereka akan namaMu
dan aku akan mengenalkan mereka agar pada mereka ada kecintaan seperti
Engkau telah mencintaiku.” (17-25-26).

Doa ini menggambarkan
pengakuan Isa ‘alaihis salam bahwa Allah Dialah Yang Maha Esa dan Isa
adalah utusan Allah yang diutus pada kaum tertentu, bukan pada seluruh
manusia, siapakah kaumnya itu? Kita baca dalam Injil MATHIUS (15:24) di
mana ia berkata, “Aku tidak diutus, melainkan pada kaum di rumah
Isra’il yang sasar.” Kalau demikian, jika kita gabungkan
pengakuan-pengakuannya ini dengan yang lainnya, sangat mungkin untuk
kita katakan bahwa, “Allah adalah Tuhan Yang Esa dan Isa adalah utusan
Allah kepada Bani Isroil.” Kemudian kulanjutkan pencarianku, maka aku
teringat saat aku sholat aku selalu membaca kalimat berikut: (Allah
Bapak, Allah Anak, Allah Roh Qudus, tiga dalam satu). Aku berkata pada
diriku: Perkara yang sangat aneh! Kalau kita bertanya pada siswa kelas
satu sekolah dasar “1 + 1 + 1 = 3 ?” Pasti akan menjawab “ya”.
Kemudian, jika kita katakan padanya, “Akan tetapi 3 juga = 1?” Tentu
dia takkan menyepakati hal itu, sebab di sana terdapat pertentangan
yang jelas pada apa yang kami ucapkan, karena Isa ‘alaihis salam
berkata dalam Injil seperti yang kami lihat bahwa Allah Esa tidak ada
serikat baginya.

Telah terjadi pertentangan kuat antara aqidah
yang menancap di jiwaku sejak kecil, yakni: tiga dalam satu, dengan apa
yang diakui Isa Al-Masih sendiri dalam kitab-kitab injil yang ada di
tengah-tengah kita sekarang bahwa sesungguhnya Allah itu satu tidak ada
serikat baginya. Mana dari keduanya yang paling benar? Belum ada
usahaku untuk mengikrarkannya waktu itu, namun yang benar dikatakan
bahwa sesungguhnya Allah itu Esa/satu. Kemudian, aku cari lagi dari
kitab injil dari awal, barangkali aku temukan apa yang kuinginkan.
Sungguh telah kutemukan dalam pencarianku nash berikut ini: “Ingatlah
wali-wali sejak dulu, karena sesungguhnya Aku adalah Allah, sedang yang
lainnya bukan tuhan dan tak ada yang menyerupaiku.” (46: 9).

Sungguh
perkara yang menakjubkan saat aku berpegang teguh dengan Islam, aku
mendapatkan dalam surat Al-Ikhlash firman Allah Ta’ala, “Dengan nama
Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Katakanlah Dialah Allah
Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung padaNya segala
sesuatu. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada
seorangpun yang setara dengan Dia.” Ya, selama kalam itu adalah kalam
Allah, maka tidak akan berbeda di manapun didapatkannya. Inilah
pelajaran pertama pada agamaku masihiyyah yang dulu, dengan demikian
“tiga dalam satu” tidak ada keberadaannya dalam jiwaku.

Adapun
pelajaran kedua dalam agama masihiyyah bahwa di sana ada yang disebut
dengan warisan dosa atau kesalahan awal, maksudnya ialah bahwa dosa
yang diperbuat Adam ‘alaihis salam ketika memakan buah yang diharamkan
dari pohon yang berada di surga, pasti seluruh anak manusia akan
mewarisi dosa ini. Sekalipun janin yang berada dalam rahim ibu akan
menanggung dosa ini dan akan lahir dalam keadaan berdosa. Apakah ini
benar atau salah? Aku cari tentang kebenaran hal tersebut. Aku merujuk
pada Perjanjian Lama, di tengah pencarianku, aku menemukan pada
hizqiyal sebagai berikut, “Seorang anak tidak menanggung dari dosa
seorang bapak. Seorang bapak tidak menanggung dari dosa seorang anak …”
(hizqiyal: 18: 20-21).

Barangkali yang cocok untuk kami sebutkan
di sini apa yang dikatakan Al-Qur’anul Karim pada masalah ini, “Dan
seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain …” Dan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Anak Adam
dilahirkan dalam keadaan fitroh, kedua orang tuanyalah yang akan
menjadikannya Yahudi atau menjadikannya Nashrani atau menjadikannya
Majusi.” Inilah dia kaidah dalam Islam dan menyepakatinya apa yang
ada/datang dalam injil, lalu bagaimana bisa dikatakan bahwa kesalahan
Adam akan berpindah dari satu generasi ke generasi lainnya, dan bahwa
manusia dilahirkan dalam keadaan berdosa?

Aku melanjutkan
pencarianku tentang beberapa hal yang berkaitan dengan keyakinan, pada
suatu hari kuletakkan Injil dan Al-Quran di depanku, kutujukan
pertanyaan pada Injil, “Apa yang engkau ketahui tentang Muhammad?”
Jawabannya: tidak ada, karena nama Muhammad tidak terdapat dalam Injil.
Kemudian kutujukan pertanyaan berikutnya pada Isa seperti Al-Quran
telah bercerita tentangnya, “Wahai Isa ibnu Maryam, apa yang engkau
ketahui tentang Muhammad?” Jawabannya: sungguh Al Quran telah
menyebutkan perkara yang tidak ada keraguan sedikit pun bahwa seorang
Rasul yang pasti akan datang setelahku namanya adalah Ahmad. Allah
berfirman atas lisan Isa ‘alaihis salam, “Dan ingatlah ketika Isa putra
Maryam berkata: Hai bani Isroil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah
kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku yaitu Taurot dan
memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang
sesudahku yang namanya Ahmad (Muhammad), maka tatkala Rasul itu datang
kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata:
Ini adalah sihir yang nyata.” (QS Ash Shaff: 6). Lihatlah! Mana yang
benar?!

Di sana ada satu Injil, yakni Injil BARNABAS, berbeda
dengan empat Injil yang telah kusebutkan sebelumnya, namun sayang para
pemuka-pemuka agamanya (Nashrani) mengharamkan pengikutnya untuk
mentelaahnya. Tahukah kenapa? Yang paling benar ialah karena inilah
satu-satunya Injil yang memuat kabar gembira tentang Muhammad, di
dalamnya terdapat beberapa tambahan dan penyimpangan yang sangat,
seperti halnya tedapat pula kenyataan yang sesuai dengan apa yang ada
dalam Al Quran Al Karim. Dalam Injil Barnabas (Ishaah: 163), “Waktu itu
para murid bertanya kepada Al Masih: Wahai guru! Siapa yang akan datang
sesudahmu? Al Masih menjawab dengan senang dan gembira: Muhammad utusan
Allah pasti akan datang sesudahku bagaikan awan putih akan menaungi
orang-orang yang beriman seluruhnya.”

Kemudian, kubaca lagi ayat
lainnya dari Injil Barnabas yakni ucapannya pada (Ishaah: 72), “Waktu
itu seorang murid bertanya kepada Al-Masih: Wahai guru! Saat Muhammad
datang apa tanda-tandanya hingga kami mengenalnya? Al-Masih menjawab:
Muhammad tidak akan datang pada masa kita, tetapi akan datang setelah
seratus tahun kemudian ketika Injil diubah (direkayasa) dan orang-orang
yang beriman kala itu jumlah mereka tidak sampai tiga puluh orang, maka
ketika itu Allah subhanahu wa ta’ala akan mengutus penutup para Nabi
dan Rasul-rasul, yaitu Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam.”

Telah disebutkan berulang-ulang yang demikian itu dalam
Injil Barnabas, aku telah menghitungnya dan kudapatkan sebanyak empat
puluh lima ayat menyebutkan tentang Muhammad. Aku sebutkan dua ayat di
atas di antaranya sebagai satu bukti.

Setelah ini semua, aku
berazzam untuk keluar dari gereja dan tidak akan pernah pergi lagi
padanya, saat ini tidak ada di hadapanku, kecuali Islam. (Lihat kitab
‘Uluwul Himmah, karya Muhammad Ahmad Ismail Al-Muqoddim).

Para
pembaca rahimakumullah demikianlah Islam yang dibawa oleh Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rahmat bagi semesta alam,
menuntut kita selaku para pemeluknya untuk bersyukur. Allah berfirman,
“Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu, dan
Dia tidak meridhoi kekafiran bagi hamba-Nya, dan jika kamu bersyukur
niscaya Dia meridhoi kesyukuranmu itu, dan seorang yang berdosa tidak
akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada tuhanmulah kembalimu lalu
Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan sesungguhnya Dia
Maha Mengetahui apa yang tersimpan di (dada)mu.” (QS Az Zumar: 7).

Di sini ada beberapa hal yang perlu untuk kita perhatikan, wallahul haadi ila sabilir rosyad.

Pertama:
manusia itu satu umat, memeluk agama yang satu. Allah berfirman,
“Manusia dahulunya hanyalah satu umat kemudian mereka berselisih, kalau
tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulu,
pastilah telah diberi keputusan di antara mereka tentang apa yang
mereka perselisihkan itu.” (QS Yunus: 19).

Kedua: Islam adalah
agama tauhid. Allah berfirman, “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada
Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan.
Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang
demikian itu) tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang
Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Sesungguhnya agama (yang diridhoi) di
sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah
diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka karena
kedengkian (yang ada) di antara mereka, barangsiapa yang kafir terhadap
ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisabnya. Kemudian
jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam) maka katakanlah:
Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang
yang mengikutiku. Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi
Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi, ‘Apakah kamu (mau) masuk
Islam?’ Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat
petunjuk, dan jika mereka berpaling maka kewajiban kamu hanyalah
menyampaikan (ayat-ayat Allah) dan Allah Maha Melihat akan
hamba-hamba-Nya.” (QS Ali Imron: 18-20).

Ketiga: Aqidah tauhid
adalah fitrah manusia. Allah berfirman, “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu
mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah
mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): Bukankah
Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab: Betul (Engkau Tuhan kami), kami
menjadi saksi. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat
kamu tidak mengatakan: Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang
yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan). Atau agar kamu tidak
mengatakan: Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan
Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang
(datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami
karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu.” (QS Al A’raaf:
172-173).

Keempat: Petunjuk Allah mutlak harus diikuti. Allah
berfirman, “… Katakanlah sesungguhnya petunjuk (yang harus diikuti)
ialah petunjuk Allah, dan (janganlah kamu percaya) bahwa akan diberikan
kepada seseorang seperti apa yang diberikan kepadamu, dan (jangan pula
kamu percaya) bahwa mereka akan mengalahkan hujjahmu di sisi Tuhanmu.
Katakanlah sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Allah memberikan
karunianya kepada siapa yang dikehendakinya. Dan Allah maha luas
karunianya lagi maha mengetahui.” (QS Ali Imron: 73).

Kelima:
Isa ‘alaihis salam adalah Nabi dan Rasul Allah. Allah berfirman, “Wahai
Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah
kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al
Masih Isa putra Maryam itu adalah utusan Allah dan (yang diciptakan
dengan kalimat-Nya) yang disampaikan-Nya kepada Maryam dan dengan
(tiupan roh) dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan
rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan, ‘(Tuhan itu) tiga’.
Berhentilah (dari ucapan itu). Itu lebih baik bagimu. Sesungguhnya
Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak. Segala
yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya, cukuplah Allah sebagai
pemelihara.” (QS An Nisaa: 171).

Walhamdulillahi robbil alamin.
Ditulis oleh Al Ustadz Abu Hamzah Al Atsari. Diambil dari Buletin
Al-Wala’ wal-Bara’(swaramuslim.net)
Last Updated ( Monday, 14 January 2008 09:53 )

Yahya Yopie dan Keluarganya, Mantan Pendeta Yang Memeluk Islam
Thursday, 14 June 2007 13:35 mualafindonesia
   
Warga
di kota Tolitoli di penghujung bulan Ramadan 1427 Hijriah belum lama
ini, dihebohkan dengan salah seorang pendeta bersama seluruh
keluarganya memeluk Islam. Di mana-mana santer dibicarakan soal Pendeta
Yahya Yopie Waloni dan keluarganya masuk Islam. Bahkan media internet
pun sudah mengakses kabar ini. Bagaimana aktivitas eks pendeta itu
setelah memeluk Islam. Berikut kisahnya:
PAGI menjelang siang hari
itu, nuansa Idul Fitri 1427 Hijriah masih terasa di Tolitoli. Hari itu
baru memasuki hari ke-9 lebaran. Kendati terik panas matahari masih
mengitari Tolitoli dan sekitarnya, tetapi denyut aktivitas warga tetap
seperti biasa.

Begitupun di sekitar Jalan Bangau, Kelurahan
Tuweley, Kelurahan Baru, Kabupaten Tolitoli. Aktivitas sehari-hari
warga berjalan seperti biasa. Kecuali di salah satu rumah kost di jalan
itu, pintunya tampak masih tertutup rapat. Di rumah kost inilah, Yahya
Yopie Waloni (36), bersama istrinya Lusiana (33) dan tiga orang anaknya
tinggal sementara.

“Pak Yahya bersama istrinya baru saja
keluar. Sebaiknya bapak tunggu saja di sini, sebelum banyak orang.
Karena kalau pak Yahya ada di sini banyak sekali tamunya. Nanti bapak
sulit ketemu beliau,” jelas ibu Ani, tetangga depan rumah Yahya kepada
Radar Sulteng.

Yahya bersama istrinya memeluk Islam secara sah
pada hari Rabu, 11 Oktober 2006 pukul 12.00 Wita melalui tuntunan
Komarudin Sofa, Sekretaris Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (NU)
Tolitoli. Hari itulah Yahya dengan tulus mengucapkan dua kalimat
syahadat.

Setelah memeluk Islam, nama Yahya Yopie Waloni
diganti dengan Muhammad Yahya, dan istrinya Lusiana diganti dengan
Mutmainnah. Begitupun ketiga anaknya. Putri tertuanya Silvana (8 tahun)
diganti dengan nama Nur Hidayah, Sarah (7 tahun) menjadi Siti Sarah,
dan putra bungsunya Zakaria (4 tahun) tetap menggunakan nama itu.

Mohammad
Yahya sebelum memeluk Islam, pernah menjabat Ketua Sekolah Tinggi
Theologia Calvinis di Sorong tahun 2000-2004. Saat itu juga ia sebagai
pendeta dengan status sebagai pelayan umum dan terdaftar pada Badan
Pengelola Am Sinode GKI di tanah Papua, Wilayah VI Sorong-Kaimana. Ia
menetap di Sorong sejak tahun 1997. Tahun 2004 ia kemudian pindah ke
Balikpapan. Di sana ia menjadi dosen di Universitas Balikpapan (Uniba)
sampai tahun 2006. Yahya menginjakkan kaki di kota Cengkeh, Tolitoli,
tanggal 16 Agustus 2006.

Sambil menunggu kedatangan Yahya, ibu
Ani mempersilakan Radar Sulteng masuk ke rumahnya. Sebagai tetangga,
Ibu Ani tahu banyak aktivitas yang terjadi rumah kontrakan Yahya. “Pak
Yahya pindah di sini kira-kira baru tiga minggu lalu. Sejak pindah, di
sini rame terus. Orang-orang bergantian datang. Ada yang datang dengan
keluarganya. Malah ada yang rombongan dengan truk dan Kijang pickup.
Karena rame sekali terpaksa dibuat sabua (tenda, red) dan drop kursi
dari kantor Lurah Tuweley,” cerita ibu Ani.

Hari pertama Yahya
pindah di Jalan Bangau itu, orang-orang berdatangan sambil membawa
sumbangan. Ada menyumbang belanga, kompor, kasur, telev