“Konsep Jihad Bukanlah Perang” oleh Dr. Tariq Ramadan

October 8th, 2008 by pipin234
SEOLAH sedang mengajar di depan kelas, itulah gaya Doktor
Tariq Ramadan ketika berbicara kepada wartawan Tempo. Dengan
gaya bicara yang tenang tetapi tegas, ia bertutur tentang
pandangan dan kritiknya terhadap Islam. Persis seperti
sedang berbicara kepada mahasiswanya, ia sesekali “meledak”
saat menyinggung ketertindasan muslim di berbagai belahan
dunia. Gaya serupa menyertai dia saat berdiskusi di forum
intelektual di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta sepanjang
pekan lalu.

Lahir di Swiss, 42 tahun silam, Tariq memang sosok yang
unik. Dialah cucu Hassan al-Banna, orang Mesir pendiri
Ikhwanul Muslimin yang kerap disebut sebagai organisasi
pelopor Islam fundamentalis. Pada 1928, sang kakek aktif
menggalang kekuatan Islam untuk memerangi kolonial. Kini,
cucunya yang melanjutkan perjuangan, namun dengan cara yang
sama sekali berbeda.

Sarjana filsafat (dengan tesis tentang Nietzsche) dan
Sastra Prancis ini meraih gelar Doktor dalam bidang Studi
Islam di University of Geneva. Saat ini, Tariq mengajar di
dua universitas bergengsi di Eropa, Genevan College dan
University of Fribourg. Ia berperan aktif dalam diskusi
tentang Islam di Eropa dan berbagai negara lain. Di saat
hubungan Islam dan Barat sedang morat-marit, Tariq tampil
sebagai jembatan. Melalui buku-bukunya, antara lain To Be
European Muslim (2000), Islam, the West, and the Challenge
of Modernity (2002) dan The Future of Islam in Europe
(2003), ia berbicara kepada dunia.

Ia tidak setuju dengan orang Islam yang mengisolasi diri.
Ia juga menolak orang Islam yang melebur dalam kehidupan
bangsa Eropa sehingga meninggalkan identitas keislamannya.
Karenanya, ia meluncurkan konsep Jalan Tengah: menjadi
muslim sejati sekaligus orang Eropa. Karena pandangannya
inilah ia terpilih sebagai salah satu inovator oleh majalah
Time edisi khusus awal 2000.

Jumat pekan lalu, ayah tiga anak yang fasih berbahasa
Prancis, Inggris, dan Arab ini menerima Andari Karina Anom
dan Qaris Tajudin dari Tempo di sebuah rumah mungil bergaya
Eropa di Bona Indah Garden, Lebak Bulus, Jakarta Selatan.
Berikut petikannya.


Menurut Anda, apa sebenarnya problem utama hubungan Islam
dengan Barat?

Problem utama umat Islam di Eropa karena mereka belum
terintegrasi sepenuhnya dengan masyarakat. Bagi orang Barat,
hanya ada dua kelompok Islam: moderat dan fundamentalis.
Pemahaman yang buruk dan representasi buruk kalangan Islam
tertentu mengakibatkan orang Barat menerapkan hukum secara
bias dengan standar ganda. Karena itu, seorang muslim harus
paham dengan baik tentang agamanya dan bisa beradaptasi
dengan lingkungan tempat kita tinggal. Dengan begitu, Islam
menjadi kontekstual. Sebagai muslim, kita tak hanya dituntut
memahami agama kita, tapi juga negara, hukum dan masyarakat
di tempat kita tinggal.

Anda menyebut orang Islam kerap disudutkan, misalnya
dalam hal apa?

Ada kesalahpahaman dalam memandang Islam sehingga
orang-orang Islam banyak yang menjadi korban.

Orang-orang menyerang dan menyalahkan Islam. Karenanya
harus ada gerakan dari kalangan muslim untuk menjelaskan
kesalahpahaman ini. Kita ada dalam situasi ini karena ada
orang-orang yang tak menyukai Islam dan menyalahkan Islam.
Kita harus mencegah upaya penyudutan ini dengan menjadi
bagian dari sistem, menjadi warga negara yang aktif dalam
masyarakat.

Bagaimana menerapkan budaya suatu negara tanpa kehilangan
nilai keislaman?

Dalam Islam, kita harus memajukan pendidikan yang setara
untuk laki-laki dan perempuan. Jika kita melihat di suatu
negara, ada perbedaan antara lelaki dan perempuan, maka itu
bukan Islam, tapi budaya negara tertentu, misalnya Maroko
dan Turki. Sebagai muslim, kita harus membedakan antara
budaya dan agama.

Selain itu, juga harus tahu lebih banyak dan terlibat
aktif di masyarakatnya. Bukan sekadar menerima segala
sesuatu, tapi juga aktif menuntut hak. Ini yang disebut
Revolusi Diam (Silence Revolution). Muslim di Barat sekarang
lebih sadar apa yang harus dilakukan untuk mengubah situasi
ini.

Itu sebabnya Anda menawarkan konsep Jalan Tengah, yaitu
tetap menjadi muslim dan menjadi warga negara yang baik?

Yang saya maksud sebagai Jalan Ketiga adalah in between,
tetap menjadi muslim yang baik, sekaligus warga negara Eropa
yang baik. Saya menolak muslim mengisolasi diri, tapi saya
juga menolak muslim melebur dalam kehidupan negaranya
sehingga menghilangkan identitas kemusliman. Ini adalah
tradisi reformis, bukan modernis, karena sebenarnya konsep
ini sudah cukup tua, setua agama Islam sendiri. Banyak
kalangan di Barat yang sejak lama mengatakan muslim tak
mungkin bisa dipersatukan. Namun, sekarang kita membuktikan
bahwa muslim bisa bersatu padu.

Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbanyak
sangat terpengaruh pemikiran Barat yang menyudutkan Islam.
Bagaimana menurut Anda?

Umat Islam di Indonesia memiliki masalah besar.

Ditinjau dari jumlah, Indonesia adalah negara dengan
penduduk muslim terbanyak. Namun, saya tidak yakin kalau
muslim di Indonesia adalah muslim by heart.

Mungkin hanya sebatas simbol dan identitas formal.

Kalangan Islam di Indonesia bahkan berani baku hantam
hanya untuk menunjukkan Anda muslim, tapi cuma di permukaan,
tidak dalam pengertian yang mendalam.

Dalam hal ini, Jalan Tengah apa?

Yang harus dilakukan di level akar rumput adalah
pendidikan populer. Islam membutuhkan orang-orang untuk
menjelaskan apa sebenarnya Islam, apa esensinya, sehingga
bisa menerangi hati kaum muslim di tempatnya berada. Hal-hal
seperti ini ada di masyarakat bukan di universitas. Saya
kira, banyak kalangan Islam di Indonesia yang mempraktekkan
agama secara formal dan hanya di permukaan. Orang-orang
Islam di Indonesia terlalu terpengaruh budaya Barat sehingga
kadang-kadang tak tahu siapa kita dan ke mana kita berpihak.
Kedua, Indonesia seharusnya memperkuat organisasi Islam yang
bekerja di level akar rumput, membantu orang-orang di
masyarakat dan memberi pemahaman yang dalam tentang
Islam.

Gerakan Islam yang populer itu misalnya apa?

Di Indonesia, tiap Jumat banyak orang datang ke masjid
untuk salat Jumat. Mereka menyadari pentingnya ibadah itu,
namun kadang-kadang mereka tak memahami Islam secara
mendalam. Karena itu, harus ada pendidikan Islam bagi
masyarakat supaya kalangan muslim sendiri memahami agamanya,
mengerti arti muamalat dan aktif menjalankan prinsip-prinsip
itu. Sebab, meski Anda tinggal di negara berpenduduk muslim
terbesar, Anda hidup di masyarakat yang multiagama. Kita
harus membantu orang memahami Islam secara betul. Banyak
kalangan di Indonesia yang menggunakan Islam sebagai senjata
politik.

Majalah Time bulan lalu menurunkan laporan utama tentang
misionaris yang berusaha mengkristenkan orang Islam. Menurut
Anda, bagaimana problem ini di Indonesia?

Ini bukan hanya problem di Indonesia, tapi juga di
Afrika. Orang-orang Kristen menyiarkan agama mereka dan
sebagian kalangan muslim bereaksi dengan berlebihan, padahal
mereka sendiri tak memahami Islam secara mendalam. Jika Anda
tak mau muslim berpindah ke Kristen, solusinya adalah kita
harus menjelaskan pada sesama muslim apa sebetulnya agama
Islam. Anda tak bisa memaksa mereka menjadi Islam, tapi Anda
harus menjelaskan kepada mereka apa sebetulnya Islam. Jika
pendidikan Islam terhadap kalangan muslim sendiri buruk,
maka orang Kristen memiliki lahan terbuka untuk beraksi. Dan
ini bukan kesalahan mereka.

Bagaimana dengan konsep jihad?

Jihad adalah konsep dengan banyak aspek. Untuk memahami
jihad, kita harus kembali ke diri sendiri.

Dalam diri kita ada godaan untuk melakukan kekerasan,
kemarahan, atau pertengkaran. Itu adalah nafsu-nafsu alami
manusia. Kita bisa melakukan kekerasan, tapi dengan
kesadaran penuh kita dapat mengontrol dorongan-dorongan
jahat itu…. Konsep jihad bukanlah perang, melainkan
perdamaian. Kalau kita bawa ke tingkat kolektif, sama saja.
Jihad bukanlah perang suci. Terminologi perang suci datang
dari Perang Salib Kristen. Bagi kita sekarang, jihad berarti
usaha untuk melawan. Ketika ada penindasan terhadap umat
Islam secara tidak adil, kita punya hak untuk melawan.

Itulah jihad. Bukan perang melawan Yahudi, Amerika, atau
Barat.

Berarti jihad mengandung konsep perlawanan?

Ya, namun konsep perlawanan yang ada sekarang sama sekali
salah. Banyak intelektual muslim yang menggunakan istilah
perang suci untuk menjelaskan jihad. Banyak muslim yang
menggunakan konsep jihad secara salah. Jihad adalah konsep
perlawanan dengan cara damai. Namun, mesti diingat, tak akan
ada perlawanan tanpa keadilan. Tak ada perdamaian tanpa
keadilan. Misalnya, saya mencuri sepeda Anda. Dua hari
kemudian saya mengaku mengambil sepeda Anda dan saya ingin
berdamai. Tentu saja Anda akan bilang, kembalikan dulu
sepeda saya baru kita bicara soal perdamaian. Hal inilah
yang dialami Palestina.

Pandangan negatif terhadap Islam kian menggila pasca-11
September dan bom Bali di Indonesia.

Bagaimana Anda memandang soal ini?

Perang melawan teroris adalah perang yang sulit
dijelaskan. Soalnya, tidak ada definisi resmi soal teroris
di lembaga internasional seperti PBB, NATO, dan lain-lain.
Itu sebabnya teroris sulit dijelaskan, apalagi ditumpas. Dan
yang jadi korban adalah orang Islam. Padahal, jika definisi
teroris adalah membunuh orang tak bersalah, maka kita harus
memerangi segala jenis teroris, termasuk terorisme negara.
Memang, kita tahu banyak kelompok muslim yang menyatakan
jihad berarti sah untuk memerangi Yahudi atau Amerika. Itu
tidak benar. Kita harus melawan pemikiran yang tak ada
hubungannya dengan ajaran Islam.

Artinya, orang Islam harus melakukan reformasi
besar-besaran untuk mengubah pandangan negatif itu?

Betul. Namun pertanyaannya, reformasi seperti apa?

Banyak saudara-saudara kita yang mempromosikan Islam
tanpa mengetahui Islam sebenarnya. Mereka mengajarkan bahwa
kita tak perlu salat, cukup berhubungan dengan Allah 24 jam
sehari. Ini bukan reformasi, tapi penghancuran. Jika ada
yang melakukan itu, mereka bukan reformis, tapi penghancur
Islam.

Bagaimana dengan konsep negara Islam. Apakah memang itu
suatu tujuan bagi gerakan-gerakan Islam di dunia, termasuk
Indonesia?

Yang sebetulnya dibutuhkan bukan negara Islam sebagai
sebuah negara yang melaksanakan prinsip-prinsip keadilan,
kesetaraan dan alternation (pergantian kepemimpinan yang
baik). Kita tidak punya model negara Islam karena kita
tinggal dalam masyarakat yang kompleks secara sosial,
politik, dan budaya. Namanya boleh apa saja, yang penting
negara itu menjalankan prinsip-prinsip universal seperti
yang saya kemukakan tadi. Kita jangan terobsesi oleh nama,
tapi praktek-prakteknya.

Source:
http://www.tempo.co.id/harian/wawancara/waw-TariqRamadan01.html


BIBEL, QUR-AN, dan Sains Modern oleh Bucaille

October 4th, 2008 by pipin234

BIBEL, QUR-AN, dan Sains Modern

Indeks Islam | Indeks Bucaille | Indeks Artikel | Tentang Penulis


ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

BIBEL, QUR-AN, dan Sains Modern Dr. Maurice Bucaille Judul Asli: La Bible Le Coran Et La Science Alih bahasa: Prof. Dr. H.M. Rasyidi Penerbit Bulan Bintang, 1979 Kramat Kwitang I/8 Jakarta
Indeks Islam | Indeks Bucaille | Indeks Artikel | Tentang Penulis

ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team

TAFSIR IBN KATHIR SURAH NO 112 AL IKHLASS

September 29th, 2008 by pipin234

» Tafsir Ibn Kathir

TAFSIR IBN KATHIR SURAH NO 112 AL IKHLASS

The Reason for the Revelation of this Surah and its Virtues

Imam Ahmad recorded from Ubayy bin Ka`b that the idolators said to the Prophet , “O Muhammad! Tell us the lineage of your Lord.” So Allah revealed

[قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ - اللَّهُ الصَّمَدُ - لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ - وَلَمْ يَكُنْ لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ ]

(Say: “He is Allah, One. Allah He begets not, nor was He begotten. And there is non comparable to Him.”) Similar was recorded by At-Tirmidhi and Ibn Jarir and they added in their narration that he said,

[الصَّمَدُ]

“(As-Samad) is One Who does not give birth, nor was He born, because there is nothing that is born except that it will die, and there is nothing that dies except that it leaves behind inheritance, and indeed Allah does not die and He does not leave behind any inheritance.

[وَلَمْ يَكُنْ لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ ]

(And there is none comparable to Him.) This means that there is none similar to Him, none equal to Him and there is nothing at all like Him.” Ibn Abi Hatim also recorded it and At-Tirmidhi mentioned it as a Mursal narration. Then At-Tirmidhi said, “And this is the most correct.”

A Hadith on its Virtues

Al-Bukhari reported from `Amrah bint `Abdur-Rahman, who used to stay in the apartment of `A’ishah, the wife of the Prophet , that `A’ishah said, “The Prophet sent a man as the commander of a war expedition and he used to lead his companions in prayer with recitation (of the Qur’an). And he would complete his recitation with the recitation of `Say: He is Allah, One.’ So when they returned they mentioned that to the Prophet and he said,

«سَلُوهُ لِأَيِّ شَيْءٍ يَصْنَعُ ذَلِكَ؟»

(Ask him why does he do that.) So they asked him and he said, `Because it is the description of Ar-Rahman and I love to recite it. So the Prophet said,

«أَخْبِرُوهُ أَنَّ اللهَ تَعَالَى يُحِبُّه»

(Inform him that Allah the Most High loves him.)” This is how Al-Bukhari recorded this Hadith in his Book of Tawhid. Muslim and An-Nasa’i also recorded it. In his Book of Salah, Al-Bukhari recorded that Anas said, “A man from the Ansar used to lead the people in prayer in the Masjid of Quba’. Whenever he began a Surah in the recitation of the prayer that he was leading them, he would start by reciting `Say: He is Allah, One’ until he completed the entire Surah. Then he would recite another Surah along with it (after it). And used to do this in every Rak`ah. So his companions spoke to him about this saying; `Verily, you begin the prayer with this Surah. Then you think that it is not sufficient for you unless you recite another Surah as well. So you should either recite it or leave it and recite another Surah instead.’ The man replied, `I will not leave it off. If you want me to continue leading you (in prayer), I will do this; and if you all do not like it, I will leave you (i.e., I will stop leading you).’ They used to consider him to be of the best of them to lead them in prayer and they did not want anyone else to lead them other than him. So, when the Prophet came they informed him of this information and he said,

«يَا فُلَانُ، مَا يَمْنَعُكَ أَنْ تَفْعَلَ مَا يَأْمُرُكَ بِهِ أَصْحَابُكَ، وَمَا حَمَلَكَ عَلَى لُزُوم هَذِهِ السُّورَةِ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ؟»

(O so-and-so! What prevents you from doing what your companions are commanding you to do, and what makes you adhere to the recitation of this Surah in every Rak`ah) The man said, `Verily, I love it.’ The Prophet replied,

«حُبُّكَ إِيَّاهَا أَدْخَلَكَ الْجَنَّة»

(Your love of it will cause you to enter Paradise.) This was recorded by Al-Bukhari, with a disconnected chain, but in a manner indicating his approval.

A Hadith that mentions this Surah is equivalent to a Third of the Qur’an

Al-Bukhari recorded from Abu Sa`id that a man heard another man reciting

[قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ]

(Say: “He is Allah, One.”) and he was repeating over and over. So when morning came, the man went to the Prophet and mentioned that to him, and it was as though he was belittling it. The Prophet said,

«وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآن»

(By He in Whose Hand is my soul, verily it is equivalent to a third of the Qur’an.) Abu Dawud and An-Nasa’i also recorded it. Another Hadith Al-Bukhari recorded from Abu Sa`id, may Allah be pleased with him, that the Messenger of Allah said to his Companions,

«أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَقْرَأَ ثُلُثَ الْقُرْآنِ فِي لَيْلَةٍ؟»

(Is one of you not able to recite a third of the Qur’an in a single night) This was something that was difficult for them and they said, “Which of us is able to do that, O Messenger of Allah” So he replied,

«اللهُ الْوَاحِدُ الصَّمَدُ ثُلُثُ الْقُرْآن»

(”Allah is the One, As-Samad” is a third of the Qur’an.) Al-Bukhari was alone in recording this Hadith.

Another Hadith that its Recitation necessitates Admission into Paradise

Imam Malik bin Anas recorded from `Ubayd bin Hunayn that he heard Abu Hurayrah saying, “I went out with the Prophet and he heard a man reciting `Say: He is Allah, the One.’ So the Messenger of Allah said,

«وَجَبَت»

(It is obligatory.) I asked, `What is obligatory’ He replied,

«الْجَنَّة»

(Paradise.)” At-Tirmidhi and An-Nasa’i also recorded it by way of Malik, and At-Tirmidhi said, “Hasan Sahih Gharib. We do not know of it except as a narration of Malik.” The Hadith in which the Prophet said,

«حُبُّكَ إِيَّاهَا أَدْخَلَكَ الْجَنَّة»

(Your love of it will cause you to enter Paradise.) has already been mentioned.

A Hadith about repeating this Surah

`Abdullah bin Imam Ahmad recorded from Mu`adh bin `Abdullah bin Khubayb, who reported that his father said, “We became thirsty and it had become dark while we were waiting for the Messenger of Allah to lead us in prayer. Then, when he came out he took me by my hand and said,

«قُل»

(Say.) Then he was silent. Then he said again,

«قُل»

(Say.) So I said, `What should I say’ He said,

[قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ]

وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ حِينَ تُمْسِي وَحِينَ تُصْبِحُ ثَلَاثًا، تَكْفِكَ كُلَّ يَوْمٍ مَرَّتَيْن»

(Say: “He is Allah, One,” and the two Surahs of Refuge (Al-Falaq and An-Nas) when you enter upon the evening and the morning three times (each). They will be sufficient for you two times every day.)” This Hadith was also recorded by Abu Dawud, At-Tirmidhi and An-Nasa’i. At-Tirmidhi said, “Hasan Sahih Gharib.” An-Nasa’i also recorded through another chain of narrators with the wording,

«يَكْفِكَ كُلَّ شَيْء»

(They will suffice you against everything.)

Another Hadith about supplicating with it by Allah’s Names

In his Book of Tafsir, An-Nasa’i recorded from `Abdullah bin Buraydah, who reported from his father that he entered the Masjid with the Messenger of Allah , and there was a man praying and supplicating saying, “O Allah! Verily, I ask you by my testifying that there is no God worthy of worship except You. You are the One, the Self-Sufficient Sustainer of all, Who does not give birth, nor were You born, and there is none comparable to Him.” The Prophet said,

«وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ سَأَلَهُ بِاسْمِهِ الْأَعْظَم، الَّذِي إِذَ

A Hadith about seeking a Cure by these Surahs

Al-Bukhari recorded from `A’ishah that whenever the Prophet would go to bed every night, he would put his palms together and blow into them. Then he would recite into them (his palms), `Say: He is Allah, One’, `Say: I seek refuge with the Lord of Al-Falaq’, and `Say: I seek refuge with the Lord of mankind.’ Then he would wipe whatever he was able to of his body with them (his palms). He would begin wiping his head and face with them and the front part of his body. He would do this (wiping his body) three times. The Sunan compilers also recorded this same Hadith.

[بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـنِ الرَّحِيمِ ]

In the Name of Allah, the Most Gracious, the Most Merciful.

[قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ - اللَّهُ الصَّمَدُ - لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ - وَلَمْ يَكُنْ لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ ]

(1. Say: “He is Allah, One.”) (2. “Allah As-Samad.”) (3. “He begets not, nor was He begotten.”) (4. “And there is none comparable to Him.”) The reason for the revelation of this Surah has already been mentioned. `Ikrimah said, “When the Jews said, `We worship `Uzayr, the son of Allah,’ and the Christians said, `We worship the Messiah (`Isa), the son of Allah,’ and the Zoroastrians said, `We worship the sun and the moon,’ and the idolators said, `We worship idols,’ Allah revealed to His Messenger ,

[قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ]

(Say: “He is Allah, One.”) meaning, He is the One, the Singular, Who has no peer, no assistant, no rival, no equal and none comparable to Him. This word (Al-Ahad) cannot be used for anyone in affirmation except Allah the Mighty and Majestic, because He is perfect in all of His attributes and actions. Concerning His saying,

[اللَّهُ الصَّمَدُ ]

(Allah As-Samad.) `Ikrimah reported that Ibn `Abbas said, “This means the One Who all of the creation depends upon for their needs and their requests.” `Ali bin Abi Talhah reported from Ibn `Abbas, “He is the Master Who is perfect in His sovereignty, the Most Noble Who is perfect in His nobility, the Most Magnificent Who is perfect in His magnificence, the Most Forbearing Who is perfect in His forbearance, the All-Knowing Who is perfect in His knowledge, and the Most Wise Who is perfect in His wisdom. He is the One Who is perfect in all aspects of nobility and authority. He is Allah, glory be unto Him. These attributes are not befitting anyone other than Him. He has no coequal and nothing is like Him. Glory be to Allah, the One, the Irresistible.” Al-A`mash reported from Shaqiq, who said that Abu Wa’il said,

[الصَّمَدُ]

(As-Samad.) is the Master Whose control is complete.”

Allah is Above having Children and procreating

Then Allah says,

[لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ - وَلَمْ يَكُنْ لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ ]

(He begets not, nor was He begotten. And there is none comparable to Him.) meaning, He does not have any child, parent or spouse. Mujahid said,

[وَلَمْ يَكُنْ لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ ]

(And there is none comparable to Him.) “This means He does not have a spouse.” This is as Allah says,

[بَدِيعُ السَّمَـوَتِ وَالاٌّرْضِ أَنَّى يَكُونُ لَهُ وَلَدٌ وَلَمْ تَكُنْ لَّهُ صَـحِبَةٌ وَخَلَقَ كُلَّ شَىْءٍ]

(He is the Originator of the heavens and the earth. How can He have children when He has no wife He created all things.) (6:101) meaning, He owns everything and He created everything. So how can He have a peer among His creatures who can be equal to Him, or a relative who can resemble Him Glorified, Exalted and far removed is Allah from such a thing. Allah says,

[وَقَالُواْ اتَّخَذَ الرَّحْمَـنُ وَلَداً - لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئاً إِدّاً - تَكَادُ السَّمَـوَتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنشَقُّ الاٌّرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدّاً - أَن دَعَوْا لِلرَّحْمَـنِ وَلَداً - وَمَا يَنبَغِى لِلرَّحْمَـنِ أَن يَتَّخِذَ وَلَداً - إِن كُلُّ مَن فِى السَّمَـوَتِ وَالاٌّرْضِ إِلاَّ آتِى الرَّحْمَـنِ عَبْداً - لَّقَدْ أَحْصَـهُمْ وَعَدَّهُمْ عَدّاً - وَكُلُّهُمْ ءَاتِيهِ يَوْمَ الْقِيَـمَةِ فَرْداً ]

(And they say: Ar-Rahman has begotten a son. Indeed you have brought forth (said) a terrible evil thing. Whereby the heavens are almost torn, and the earth is split asunder, and the mountains fall in ruins, that they ascribe a son to Ar-Rahman. But it is not suitable for Ar-Rahman that He should beget a son. There is none in the heavens and the earth but comes unto Ar-Rahman as a slave. Verily, He knows each one of them, and has counted them a full counting. And all of them will come to Him alone on the Day of Resurrection.) (19:88-95) And Allah says,

[وَقَالُواْ اتَّخَذَ الرَّحْمَـنُ وَلَداً سُبْحَانَهُ بَلْ عِبَادٌ مُّكْرَمُونَ - لاَ يَسْبِقُونَهُ بِالْقَوْلِ وَهُمْ بِأَمْرِهِ يَعْمَلُونَ ]

(And they say: “Ar-Rahman has begotten a son. Glory to Him! They are but honored servants. They speak not until He has spoken, and they act on His command.) (21:26-27) Allah also says,

[وَجَعَلُواْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجِنَّةِ نَسَباً وَلَقَدْ عَلِمَتِ الجِنَّةُ إِنَّهُمْ لَمُحْضَرُونَ ]

سُبْحَـنَ اللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ-]

(And they have invented a kinship between Him and the Jinn, but the Jinn know well that they have indeed to appear before Him. Glorified is Allah! (He is free) from what they attribute unto Him!) (37:158-159) In Sahih Al-Bukhari, it is recorded (that that the Prophet said),

«لَا أَحَدَ أَصْبَرُ عَلَى أَذًى سَمِعَهُ مِنَ اللهِ، يَجْعَلُونَ لَهُ وَلَدًا، وَهُوَ يَرْزُقُهُمْ وَيُعَافِيهِم»

(There is no one more patient with something harmful that he hears than Allah. They attribute a son to Him, while it is He Who gives them sustenance and cures them.) Al-Bukhari also recorded from Abu Hurayrah that the Prophet said,

«قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: كَذَّبَنِي ابْنُ آدَمَ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ، وَشَتَمَنِي وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ، فَأَمَّا تَكْذِيبُهُ إِيَّايَ فَقَوْلُهُ: لَنْ يُعِيدَنِي كَمَا بَدَأَنِي، وَلَيْسَ أَوَّلُ الْخَلْقِ بِأَهْوَنَ عَلَيَّ مِنْ إِعَادَتِهِ، وَأَمَّا شَتْمُهُ إِيَّايَ فَقَوْلُهُ: اتَّخَذَ اللهُ وَلَدًا، وَأَنَا الْأَحَدُ الصَّمَدُ، لَمْ أَلِدْ وَلَمْ أُولَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لِي كُفُوًا أَحَد»

(Allah the Mighty and Majestic says, “The Son of Adam denies Me and he has no right to do so, and he abuses Me and he has no right to do so. In reference to his denial of Me, it is his saying: `He (Allah) will never re-create me like He created me before.’ But the re-creation of him is easier than his original creation. As for his cursing Me, it is his saying: `Allah has taken a son.’ But I am the One, the Self-Sufficient Master. I do not give birth, nor was I born, and there is none comparable to Me.”) This is the end of the Tafsir of Surat Al-Ikhlas, and all praise and blessings are due to Allah.

Yahudi Bani Qoinuqa’ dan Yahudi Bani Quraidzah

September 29th, 2008 by pipin234

Yahudi Bani Qoinuqa’

Pada saat itu ummat tengah menghadapi pengepungan kaum Quraish di luar Madinah. Nabi Muhammad memandang suku Yahudi menjadi sebuah resiko keamanan. Jika bala tentara Mekkah hendak berkemah di selatan Madinah, yang merupakan wilayah dua suku paling berpengaruh, para tentara Yahudi dapat dengan mudah bergabung dengan Quraisy, yang mereka anggap sebagai sekutu. Jika Quraisy menyerang kota dari utara, yang merupakan pilihan terbaik mereka, suku Yahudi dapat menyerang Muslim dari belakang sehingga mereka benar-benar terkepung. Nabi Muhammad menyadari bahwa dia harus menghentikan pertikaian ini. Orang Yahudi yang telah beralih ke Islam memberinya informasi bahwa Bani Qoinuqa’, suku terkecil di antara mereka, adalah yang paling keras terhadap ummat. Sebelum hijrah mereka merupakan sekutu Ibnu Ubbay dan setelah perang Badar mereka memutuskan perjanjian mereka dengan Nabi Muhammad dan menghidupkan kembali persekutuan lama untuk membesarkan oposisi dan menyingkirkan Nabi. Wilayah mereka lebih dekat ke pusat “kota” Madinah. Tak seperti dua suku lainnya, mereka bukan petani melainkan pandai besi dan tukang kayu. Segera setelah Badar dan pembelotan Ka”ab ke Mekkah, Nabi Muhammad mengunjungi mereka di wilayah mereka dan mendesak mereka agar menerimanya sebagai nabi demi tradisi agama mereka yang sama. Yahudi suku Qoinuqa’ mendengarkan dakam keheningan dan menjawab bahwa mereka tak bermaksud tinggal dalam ummat: “Oh Nabi Muhammad, tampaknya engkau berpikir bahwa kami adalah orang-orangmu. Jangan menipu diri sendiri karena engkau telah berperang di Badar tanpa sedikit pun pengetahuan tentang perang dan memenangkannya; karena demi Tuhan jika kami memerangimu, akan kau lihat bahwa kami adalah laki-laki sejati!” Setelah ancaman ini, Nabi Muhammad menarik diri dan menunggu perkembangan.

Beberapa hari kemudian terjadi sebuah insiden di pasar Qoinuqa’. Salah seorang pandai besi Yahudi mengganggu seorang perempuan Muslim yang tengah berdagang di sana. Dengan diam-diam dia mengaitkan ujung rok bawah perempuan itu di bagian belakang ke bagian atas pakainnya, sehingga ketia berdiri, sebagian tubuh bagian bawah perempuan itu akan terekspos. Perasaan terpendam antara ummat Muslim dan Yahudi Qoinuqa’ agaknya sudah begitu memuncak, sehingga ketika salah seorang Anshar melompat ke arah pandai besi itu dengan teriakan kemarahan, langsung terjadi perkelahian mengerikan antara kedua kelompok, menewaskan seorang Muslim dan seorang Yahudi. Dengan demikian jumlah korban seimbang. Nabi Muhammad dipanggil, dalam kapasitasnya sebagai hakim perselisihan, untuk mengembalikan perdamaian. Namun kaum Yahudi menolak arbitrasinya, membuat barikade ke benteng mereka, dan menyeru pada sekutu Arab untuk membantu mereka. Qoinuqa’ memiliki sekitar 700 orang siap tempur. Jika sekutu Arab mereka menjawab panggilan itu sambil membawa kekuatan mereka untuk berhadapan dengan Nabi Muhammad, mereka akan sulit dikalahkan. Ibnu Ubbay sangat bersemangat untuk menolong Qoinuqa’ dan berkonsultasi dengan sekutu mereka yang lain, Ubadah bin Shamit. Namun Ubadah adalah adalah seorang Muslim yang taat dan dia menunjukkan bahwa persekutuan lamanya dengan ummat Yahudi telah dibatalkan begitu mereka menandatangani perjanjian dengan Nabi Muhammad. Ubnu Ubbay menyadari bahwa dia tak sanggup membantu karena sebagian orang Arab tetap berdiri kukuh di belakang Nabi. Qoinuqa’ berharap memimpin pemberontakan melawan Nabi Muhammad dan para sahabat Muhajirin, namun malahan, mereka terkepung oleh suku-suku Arab yang ada di Madinah. Selama dua minggu mereka menunggu Ibnu Ubbay melaksanakan janjinya, namun akhirnya mereka terpaksa menyerah tanpa syarat.

Seketika itu juga Ibnu Ubbay mendatangi Nabi Muhammad dan memohon agar Nabi memperlakukan mereka dengan baik. Ketika Nabi tidak menjawab, Ubbay menarik kerah bajunya. Nabi Muhammad menjadi sangat marah. Ibnu Ubbay tetap pada pendiriannya : bagaimana dia dapat meninggalkan sahabat ­sahabat lamanya, yang telah sering membantunya di masa lalu? dia tahu bahwa Nabi Muhammad berhak, sesuai konvensi Arab, untuk menghabisi seluruh suku, namun Nabi Muhammad membiarkan orang-orang Qainuqa’ hidup dengan catatan mereka harus meninggalkan oase. Ibnu Ubbay diminta untuk menemani mereka keluar Madinah. Begitu mereka mengerti bahwa Ibnu Ubbay tak lagi memiliki kekuatan untuk menolong mereka, Qainuqa’ siap meninggalkan tempat tinggalnya. Berikut ini ungkapan Karen Amstrong tentang hubungan Nabi dengan kaum Yahudi di Madinah:

“Sangat sulit bagi orang Barat menanggapi hubungan Nabi Muhammad dengan kaum Yahudi di Madinah, karena hal ini mengangkat terlalu banyak hal memalukan dari masa lalu kita sendiri. Namun perjuangan Nabi Muhammad menghadapi tiga suku utama Yahudi di oase amat berbeda dengan kebencian rasial dan agama yang menyerang ummat Kristen Eropa selama hampir seribu tahun. Terror irasional yang dirasakan ummat Kristen menemukan ekspresi finalnya dalam perang salib secular Hitler terhadap Yahudi. Nabi Muhammad tak memiliki fantasi dan hal menakutkan itu. Dia tak memiliki kehendak untuk menjadikan Madinah sebagai Judenrein. Perselisihannya dengan Qainuqa’ murni politis dan tak pernah diteruskan pada klan-klan kecil Yahudi di Madinah yang tetap setia pada Perjanjian dan hidup bersama kaum Muslim dalam damai”.

Yahudi Bani Quraidzah

Pada bulan Maret 627, orang-orang Mekah dan para sekutu mereka sedang menuju Madinah dengan tentara beranggotakan 10.000 orang. Sedang Rasulullah hanya berhasil mengumpulkan 3.000 orang dari Madinah dan para sekutu Badui. Maka tak mungkin memaksakan diri menghadapi mereka seperti yang pernah dilakukan dalam perang Uhud. Semua kaum Muslim memberikade diri ke dalam “kota” Madinah tak sulit dipertahankan. Kota ini dikelilingi jurang curam dan batu-batuan vulkanis di tiga sisi. Relatif lebih mudah untukmelewati jalan daripada berlari melalui wilayah sulit ini menuju oase. Dari sisi utaralah pertahanan Madinah paling lemah dan Rasulullah menemukan cara untuk hal ini. Setelah mereka berhasil mengumpulkan hasil panen dari wilayah luar kota, sehingga tentara penyerbu tak akan mendapatkan makanan bagi ternak mereka. Kemudian seluruh penduduk ummat membangun parit besar di sekeliling wilayah utara oase. Selama kurang lebih satu bulan, parit tersebut dapat dipertahankan dalam serangkaian huru-hara. Kemudian beberapa orang Badui terbujuk untuk meninggalkan atau mencampakkan kaum Quraisy, dan seluruh pasukan akhirnya mulai putus asa. Kaum Quraisy hanya bisa secara difensif menunggu gerakan-gerakan Muhammad.

Satu suku Yahudi di Madinah yang masih menolak Islam dan kepemimpinan Rasulullah, Banu Quraidzah, yang tetap netral selama masa pertahanan parit, tetapi setelah dibujuk oleh orang Quraisy, mereka mendukung pasukan koalisi tersebut dan memasukkan mereka ke dalam kota. Tetapi kaum Quraisy sendiri mulai kepayahan. Dan sulit untuk mempertahankan pengepungan karena mereka tak memiliki cadangan pangan, ‘manusia dan kuda-kuda kelaparan. Semangat mereka mulai patah ketika cuaca tiba-tiba berubah, dan kaum Quraisy  meninggalkan tempat pengepungan. Kemudian Rasulullah  menyerang Banu Quraidzah, tetapi tidak mengizinkan mereka untuk pergi dalam pengasingan seperti Banu Nadlir, dan menyuruh mereka menyerah tanpa sarat. Dalam adat Arab, ketika tawanan-tawanan musuh ditangkap, wanita-wanita dan anak-anak dijadikan hamba, tetapi laki-laki dewasanya dibunuh atau ditahan sebagai tebusan, Karena mereka tidak handal sebagai budak. Kini Rasulullah tidak mengizinkan tebusan dan menyuruh laki-laki, sekitar enam ratus orang, dibunuh.

Mungkin sulit bagi kita untuk tidak menghubungkan kisah ini dengan kekajaman Nazi. Kisah ini memang akhirnya menjauhkan orang banyak dari Nabi Muhammad untuk selamanya. Namun terpelajar Barat seperti Maxime Rodinson dan W Montgomery Watt berpendapat, tidak benar menghakimi kejadian itu dengan standar abad ke-20. ini adalah masyarakat yang amat primitif jauh lebih primitif daripada masyarakat Yahudi dimana Yesus pernah hidup dan menyebarkan gospel ,:pengampunan dan cinta kasih kira-kira 600 tahun sebelumnya. Pada tahap ini bangsa Arab tak memiliki konsep hukum alam Yang universal, yang sulit -mungkin mustahil - bagi orang-orang kecuali ada sedikit tata tertib, seperti yang diberlakukan oleh kerajaan besar di dunia kuno. Pada masa Nabi Muhammad, Madinah mungkin lebih seperti Jerussalem di masa Raja Dawud. Dawud merupakan pembasmi besar musuh-musuh Tuhan, dan pada suatu peristiwa menghabisi 200 kaum Palestina, memotong kemaluan mereka, dan mengirimkan potongan menjijikkan itu ke raja mereka. Banyak Mazmur yang mengisahkan Dawud pada kenyataannya disusun berabad-abad kemudian - sebagian bahkan pada tahun 550 S.M. - namun mereka masih menggambarkan dalam rincian yang mengerikan kejadian­kejadian mencekam yang ingin dilakukan bangsa Israel kepada musuh-musuh mereka. Pada awal abad ke-7, seorang kepala suku Arab tak dapat diharapkan memberikan pengampunan pada pengkhianat seperti Quraizhah.

Ummat Muslim berhasil lolos dari pemusnahan dan emosi masih terasa tinggi. Quraizhah nyaris menghancurkan Madinah. Jika Nabi Muhammad mengizinkan mereka pergi, suatu ketika mereka akan membesarkan posisi Yahudi di Khaibar dan mengorganisisr serangan baru ke Madinah. Lain kali, Muslim mungkin tidak beruntung dan perjuangan berdarah untuk bertahan akan terus terjadi, dengan lebih banyak kematian dan penderitaan. Hukuman mati itu mengesankan para musuh Nabi Muhammad. Tak seorangpun terkejut oleh eksekusi itu, dan kaum Quraizhah sendiri telah menerimanya. Hukuman mati itu mengirim pesan suram bagi kaum Yahudi di Khaibar. Para suku Arab mencatat bahwa Nabi Muhammad tak takut akan pembalasan dendam dari kawan atau sekutu Quraizhah atas kematian dalam pertupahan darah itu. Itu merupakan symbol kekuatan luar biasa Nabi Muhammad yang dicapainya setelah pengepungan. Dia telah menjadi pemimpin kelompok paling berpengaruh di Arab.

Pembantaian Quraizhah ini mengingatkan kondisi gawat Arab selama hidup Nabi Muhammad. Tentu kita merasa benar untuk mengutuknya, namun itu bukan sebuah kejahatan besar seperti bila terjadi di masa sekarang. Nabi Muhammad tidak bekerja dalam kerajaan yang memberlakukan tata tertib secara meluas, atau dengan salah satu tradisi agama yang mapan. Dia tak memiliki sesuatu seperti Sepuluh Perintah Tuhan (meskipun Musa memerintahkan bangsa Israel untuk membantai seluruh populasi Kana’an sesaat setelah dia berkata kepada mereka: “Kalian tidak boleh membunuh.”). yang dimiliki Nabi Muhammad hanya moral kesukuan lama, yang membolehkan cara ini untuk mempertahankan kelompok. Masalahnya adalah kenyataan bahwa kemenangan Nabi Muhammad telah menjadikannya pemimpin paling berpengaruh di Arabia. Dia adalah kepala kelompok yang tidak dibentuk berdasarkan kesukuan konvensional. Dia telah melebihi tribalisme (kesukuan) dan berada di tanah tak bertuan antara dua tahap perkembangan social yang penting.

Namun penting dicatat bahwa awal tragis ini tidak secara permanen mewarnai sikap Muslim terhadap Yahudi. Ketika kaum Muslim telah membangun kerajaan mereka sendiri dan perlahan­lahan membangun Hukum Suci yang berisikan etika yang lebih canggih dan lebih manusiawi, mereka akan membangun suatu system toleransi yang telah lama berlaku di bagian-bagian beradab di Timur Tengah. Di bagian Oikumene, berbagai kelompok agama telah hidup berdampingan. Anti-Semit merupakan perbuatan Kristenitas Barat, bukan Islam. Kita harus ingat itu jika kita tergoda untuk melakukan generalisasi tentang insiden mengerikan di Madinah ini. Bahkan pada masa Nabi Muhammad sendiri, beberapa kelompok Yahudi kecil tetap tinggal di Madinah setelah tahun 627 dan diizinkan hidup dengan damai tanpa balas dendam lebih jauh. Tampak bahwa bagian kedua dari Perjanjian Madinah, yang berhubungan denga populasi Yahudi di pemukiman, disusun setelah masa ini. Di kerajaan Islam, ummat Yahudi dan Kristen mendapatkan kebebasan beragama. Kaum Yahudi tinggal di sana dalam damai sampai terbentuknya Negara Israel pada abad kita sekarang. Kaum Yahudi di kerajaan Islam tidak mengalami penderitaan Seperti kaum Yahudi di kerajaan Kristen. Mitos anti-Semit di Eropa diperkenalkan ke Timur Tengah pada akhir abad yang lalu oleh para misionaris Kristen dan biasanya dicemooh oleh masyarakat setempat.

Di Barat, Nabi Muhammad sering ditampilkan sebagai panglima perang, yang mendesakkan Islam kepada dunia yang enggan menerimanya dengan kekuatan militer. Namun kenyataannya sungguh berbeda. Nabi Muhammad berperang untuk mempertahankan nyawanya, sambil mengembangkan sebuah teologi peperangan demi keadilan menurut Al Quran, dan tidak pernah memaksa siapa pun untuk berpindah ke agamanya. Al Quran pun dengan tegas menyatakan bahwa “tak ada paksaan dalam beragama.” Di dalam Al Quran perang dipandang sebagai sesuatu yang mesti dijauhi: satu-satunya perang yang diizinkan adalah perang untuk mempertahankan diri. Kadangkala perang diperlukan untuk menegakkan nilai­nilai yang pantas, sebagaimana orang Kristen meyakini tentang perlunya perang melawan Hitler.

Al Quran mengajarkan bahwa perang selalu buruk sekali. Kaum Muslim dilarang memulai kekerasan, karena satu-satunya perang yang dibolehkan adalah berperang karena membela diri. Namun sekali mereka berada dalam perang, kaum Muslim harus bertempur dengan komitmen mutlak agar perang berakhir sesegera mungkin. Jika musuh telah mengajukan gencatan senjata atau menunjukkan arah ke perdamaian, muslim diperintahkan oleh al-Quran untuk mengakhiri kekerasannya segera, sejauh syarat-syarat perdamaiannya tidak melanggar moral dan kehormatan. Namun al Quran juga berempati dengan menganggap tugas sakral untuk membawa konflik bersenjata ke penyelesaian secepatnya dan menghadapi musuh dengan gagah. Segala tindakan ragu-ragu yang dapat membuat konfliknya berlarut-larut tanpa batas waktu jelas harus dihindari.

Tujuan setiap perang haruslah untuk mengembalikan perdamaian dan harmoni secepat mungkin. Mungkin berdiri bulu roma kita melihat pemandangan mengerikan di pasar Madinah di bulan Mei 627 itu. Namun ada pembelaan bahwa itu, secara murni politis, adalah keputusan tepat. Kejadian itu merupakah akhir kekejaman sejenis, menandai permulaan dari akhir fase terburuk jihad. Nabi Muhammad telah mengalahkan salah satu tentara Arab terbesar yang pernah dipersatukan melawan musuh tunggal di Perang parit. Beliau telah menggagalkan oposisi dari tiga suku Yahudi paling berpengaruh dan menunjukkan bahwa beliau tak akan membiarkan pengkhianatan lebih lanjut atau perencanaan melawan ummat. Beliau telah membuktikan bahwa beliau kini adalah manusia paling berpengaruh di Arabia, yang telah membawa dengan cepat akhir yang pasti dari konflik berdarah yang dapat berlanjut bertahun-tahun.

Fathu Makkah

Di dalam perjanjian Hudaibiya antara lain sudah menentukan, bahwa barang siapa yang ingin masuk ke dalam persekutuan dengan Nabi Muhammad boleh saja, dan barangsiapa ingin masuk ke dalam persekutuan dengan pihak Quraisy juga boleh. Ketika itu Khuza’a masuk bersekutu dengan konfederasi Nabi Muhammad sedang Banu Bakr dengan pihak Quraisy Sebenarnya antara Khuza’a dengan Banu Bakr ini sudah lama timbul permusuhan yang baru reda setelah ada perjanjian Hudaibiya, masing-masing kabilah menggabungkan diri dengan pihak yang mengadakan perdamaian itu.

Pada akhir tahun, orang Mekkah melanggar perjanjian dengan menyerang Banu Khuza’a pada malam hari di wilayah mereka sendiri dalam serangan mendadak. Tampaknya sebagian orang Quraisy membantu dan bersekongkol dengan mereka dalam serangan ini. Mereka memberi senjata pada Bakr dan konon Shafwan bahkan ikut ambil bagian dalam pertempuran. Khuza’ah langsung membalas dendam dan terjadi pertempuran antara dua suku ini diwilayah suci Mekkah, sehingga Khuza’ah memohon bantuan pada Nabi Muhammad dan dia setuju datang membantu. Jadi bukan Nabi Muhammad yang telah melanggar perjanjian tersebut sebagaimana yang dituduhkan oleh Dr. Robert Morey.19

Inilah titik balik selanjutnya, Nabi Muhammad berparade ke Mekkah dengan pasukan berkekuatan 10.000 orang. Berhadapan dengan kekuatan sangat besar tersebut, sebagai seorang pragmatis dan menyadari apa yang akan terjadi, suku Quraisy mengaku kalah, membuka pintu gerbang kota, dan Nabi Muhammad mengambil alih Mekkah tanpa setetes darah pun yang tumpah. Dia menghancurkan patung-patung di seputar Ka’bah, mempersembahkan tempat itu hanya untuk Allah, Tuhan Yang Esa, dan mengubur upacara pemujaan berhala dan menggantinya dengan ibadah haji sesuai ajaran Islam. Tidak ada seorang pun suku Quraisy yang dipaksa masuk Islam. Ketika Nabi Muhammad wafat pada tahun 632, hampir semua suku Arab telah bergabung dengan umat Islam dalam konfederasi atau telah masuk Islam. Karena anggota umat tidak boleh saling menyerang, maka lingkaran mengerikan dari perang suku, dan saling balas dendam telah berakhir. Seorang diri Nabi Muhammad telah membawa perdamaian di Arab yang terpecah­belah oleh perang.

Kehidupan dan jasa Nabi Muhammad akan mempengaruhi pandangan spiritual, politik, dan etika umat Islam untuk selamanya. Mereka mengekspresikan pengalaman “keselamatan” Islam, yang tidak akan tercapai dengan penebusan “dosa bawaan” yang dilakukan Adam dan hak memasuki kehidupan abadi, tetapi akan tercapai dengan prestasi masyarakat dalam melaksanakan perintah Tuhan. Ini tidak hanya menyelamatkan umat Islam dari neraka politik dan social yang ada di Arab pra ­Islam, tetapi juga memberi mereka konteks yang membuat mereka lebih mudah berserah diri sepenuh hati kepada Tuhan. Nabi Muhammad menjadi contoh mendasar dari penyerahan diri yang sempurnya kepada Tuhan, dan Muslim berusaha menyesuaikan kehidupan social dan spiritual mereka dengan standar tersebut. Nabi Muhammad tidak pernah dimuliakan sebagai figur Tuhan, tetapi dia dianggap sebagai Manusia Sempurna. Penyerahan dirinya kepada Tuhan sangat menyeluruh sehingga dia bisa mengubah masyarakat dan memungkinkan bangsa Arab hidup berdampingan dengan damai. Dalam etimologi, kata Islam berhubungan dengan salam (perdamaian), dan Islam memang menawarkan kesatuan dan kerukunan.

Nabi dan Harta

Suatu hari, orang Quraisy memutuskan untuk mencoba sebuah cara baru dan mengirimkan Utbah bin Rabi’ah dari klan Abdi Syams untuk melakukan kesepakatan dengan Nabi Muhammad: kalau dia berjanji untuk diam, mereka akan memberinya apa saja yang dia inginkan: uang, jabatan -bahkan kemungkinan menjadi raja. Jika ini benar, ini tanda keputusasaan mereka: uang hampir merupakan nilai suci bagi kebanyakan orang Quraisy dan mereka telah membangun ketidaksukaan pada otoritas utama dan lembaga semacam raja. Nabi Muhammad menunggu sampai Utbah selesai berbicara, kemudian dia berkata: “sekarang, dengarkan aku.” Utbah duduk, tangannya dibelakang punggung, dan badannya condong ke depan, mendengarkan dengan seksama ketika Nabi Muhammad mulai mengutip Surat 41, yang menggambarkan tentang pembatas yang diletakkan oleh sebagian kaum Quraisy di hati mereka untuk mencegah masuknya pesan Ilahi ke dalam jiwa mereka. Setelah dia kembali pada teman-temannya di Majelis, mereka seketika melihat bahwa dia telah mengalami suatu pengalaman yang sangat mempengaruhinya. Utbah kesulitan untuk menjelaskan apa yang terjadi padanya, ketika dia mendengarkan keindahan wahyu. Dia hanya dapat mengatakan hal-hal yang tidak seperti kelihatannya. Akhirnya Utbah mengingatkan orang Quraisy: “Terimalah nasihatku dan lakukan apa yang kulakukan, dan jangan ganggu pria ini, karena, demi Tuhan, wahyu yang baru kudengarkan akan menyebar ke luar negeri.20

Apabila benar memang Rasulullah tamak akan harta sebagaimana yang dituduhkan Dr. Robert Morey21 maka tidak perlu beliau bersusah payah dikejar-kejar orang kafir Quraisy sehingga hijrah ke luar Mekkah. Karena beliau adalah seorang pedagang yang secara materi telah tercukupi, dan dari penawaran Utbah di atas tidak perlu nabi bersusah payah membacakan ayat suci al Quran bila memang beliau tamak akan harta.

NOTES

12. Munawar Cholil, hal 58 juz II

13. Ibnu Ishak, dalam Karen Amstrong, Muhammad sang Nabi, hal 186.

14. Karen Amstrong, Ibid., hal 190

15. Karen Amstrong, Ibid., hal 194

16. Munawar Cholil, sejarah nabi, hal 109

17. Karen Amstrong, a short History, hal 17

18. Karen Amstrong, Muhammad sang Nabi, Op. cit., hal 240­

241

19. Robert Morey, op. cit., hal : 92

20. Karen Amstrong, Muhammad sang Nabi, Op. cit., hal 166

21. Robert Morey, hal 93

sumber : buku islam dihujat karangan irene handono

APPENDIX (INDEKS BIBLE)

September 28th, 2008 by pipin234

APPENDIX
(INDEKS BIBLE)

 

APPENDIX

 
 

INDEKS AL-KITAB
 

Kitab agama ini adalah milik umat Kristiani, dikenal dengan sebutan Alkitab atau Bibel (Inggris : Bible, Jerman : Bijbel), terdiri dari dua bagian kitab, yaitu Kitab Perjanjian Lama (PL) dan Kitab Perjanjian Baru (PB). Di dalam Perjanjian Lama Tuhan pernah berfirman bahwa orang-orang Israel itu sangat durhaka dan hobi merubah-rubah kitab suci (baca : Kitab Mikha 3:1- 12 dan Ulangan 31:27). Akibatnya, kitab suci ini menjadi bercampur-baur antara kebenaran ilahi dan kesalahan-kesalahan manusiwai yang ditulis oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Maka Alkitab tidak boleh dibaca dengan doktrin yang harus diterima apa adanya bahwa Alkitab itu pasti baik dan benar, karena Tuhan telah mengaruniakan akal budi kepada setiap manusia. Akal budi inilah yang mendatangkan karunia (Amsal 13:15). Tanpa akal budi mengakibatkan kebodohan dan kebinasaan (Amsal 10:21). Gunakanlah akal untuk menguji dan menyaring Alkitab antara ayat-ayat firman Tuhan dan ayat-ayat buatan manusia. Sesuai dengan perintah berikut :”Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik” (I Tesalonika 5: 21).

 

AYAT-AYAT ILLAHI

 

Tuhan itu Esa (monotheisme), bukan Trinitas

 

1.       Tauhid Nabi Musa (Ulangan 4: 35, Ulangan 6: 4, Ulangan 32: 39).

2.       Tauhid Nabi Daud (II Samuel 7: 22, Mazmur 86: 8).

3.       Tauhid Nabi Sulaiman (I Raja-raja 8: 23).

4.       Tauhid Nabi Yesaya (Yesaya 43: 10-11, Yesaya 44: 6,Yesaya 45: 5-6, Yesaya 46: 9).

5.       Tauhid Yesus (Markus 12: 29, Yohanes 5: 30, Yohanes 17: 3).

 

Yesus bukan Tuhan dan tidak sama dengan Tuhan

 

1.       Yesus lebih kecil daripada Tuhan (Yohanes 10: 29).

2.       Tuhan lebih besar dari pada Yesus (Yohanes 14: 28).

3.       Yesus duduk di sebelah kanan Tuhan (Markus 16: 19, Roma 8: 4).

4.       Yesus berdiri di sebelah kanan Tuhan (Kisah Para Rasu17:

5.       Allah tahu kapan datangnya kiamat, sedang Yesus tidak tahu (Matius 24: 36).

6.       Yesus bersyukur kepada Tuhan (Matius 11: 25, Lukas 10:21).

7.       Yesus berteriak memanggil Tuhan (Matius 27: 46, Markus 15: 34).

8.       Yesus menyerahkan nyawanya kepada Tuhan (Lukas 23: 44-46, Yohanes 19: 30).

9.       Yesus disetir oleh Tuhan (Yohanes 5: 30).

 

Yesus adalah utusan Tuhan (Rasul Allah)

 

Dalil: Markus 9: 37, Yohanes 5: 24, 30, 7: 29, 33, 8: 16,18, 26, 9: 4, 10: 36, 11: 42, 13: 20, 16: 5, 17: 3, 8, 23, 25.

 

Tidak ada dosa waris dan Penebusan dosa

 

Para nabi Allah tidak ada yang mengajarkan Dosa Waris dan Penebusan Dosa. Risalah Allah yang dibawa oleh semua nabi-Nya itu pada hakekatnya sam saja, yaitu Tauhid dan amal shalih. Semua nabi menekankan adanya tanggung jawab individu atas segala perbuatan setiap manusia (Yehezkiel 18: 20, Ulangan 24: 16, Matius 16: 27, Yeremia 31: 29-30, II Tawarikh 25: 4).

 

Nubuat akan datangnya seorang nabi akhir setelah Yesus

 

Dalam Alkitab masih dapat ditemukan nubuat-nubuat para nabi yang memberikan sinyalemen akan datangnya seorang nabi terakhir yang menutup keberadaan para nabi sebelumnya. Keberadaan nabi terakhir yang pamungkas ini sangat penting artinya untuk kesempurnaan ajaran Tuhan kepada manusia di muka bumi.

Namun, nubuat itu disampaikan dalam bentuk sandi-sandi bahasa yang dapat dipahami dengan penafsiran yang membutuhkan pemikiran akal yang tinggi.

 

Ayat-ayat yang dimaksud adalah :

1.        Ulangan 18: 18-20, tentang nabi diluar bani Israel dengan ciri-ciri: nabi seperti musa, tidak mati terbunuh dan semua perkatannya terjadi.

2.        Habakuk 3: 3 jo. Ulangan 33; 1-3, tentang nabi yang berhasil menegakkan syariat agama di tanah Arab.

3.        Yesaya 29: 12, nabi yang tidak bisa membaca.

4.        Yesaya 41: 1-4, nabi yang bisa perang, punya keturunan dan sudah lama ditunggu-tunggu oleh bangsa yang tertindas sebagai pembebas dan penyelamat dari penindasan kaum yang zalim.

5.        Yesaya 42: 1-4, nabi yang menegakkan hukum kepada bangsa-bangsa lain dan tidak pernah berteriak dengan suara nyaring.

6.        Yeremia 28: 9, tentang nabi yang membawa damai.

7.        Kejadian 49: 1, 10 dan Matius 21: 42-43, nabi tersebut keturunan nabi Ismail.

8.        Yohanes 1: 19-25, datangnya setelah zaman Yahya dan Yesus.

9.        Yohanes 16: 7-15, nabi yang mendapat julukan “Penolong yang lain” dengan ciri-ciri: manusia biasa, memiliki gelar `penghibur’ dan `al-amin/orang benar jujur terpercaya’, tidak berkata-kata dari dirinya sendiri dan memuliakan nabi Isa dengan alaihisalam.

10.     Dan lain-lain.

AYAT-AYAT BUATAN MANUSIA

 

Ayat-ayat Porno (cabul)

1.        Yehezkiel 23: 1-21, ayat-ayat jorok tentang seksual. Diceritakan di dalamnya penyimpangan seksual yang sangat berbahay bagi perkembangan psikologis bila dibaca oleh anak-anak di bawah umur. Ada kalimat-kalimat yang sangat cabul dengan menyebut buah dada, buah zakar, menjamah-jamah, memegang-megang, birahi, dan lain­lain.

2.        Yehezkiel 16: 22-38, ayat porno yang bugil-bugil. “….Waktu engkau telanjang bugil sambil menendang­nendang dengan kakimu….(ay. 22). “….. dan menjual kecatikanmu menjadi kekejian dengan meregangkan kedua pahamu bagi setiap orang yang lewat, sehingga persundalanmu bertambah-tambah” (ay. 25. “Engkau bersundal dengan orang Mesir, tetanggamu, si aurat besar itu…..”(ay. 26). “engkau bersundal juga dengan orang Asyur, oleh karena engkau belum merasa puas ya, engkau bersundal dengan mereka, tetapi masih belum puas” (ay. 28) . “Betapa besar hawa nafsumu itu, demikianlah firman Tuhan ALLAH” (ay. 30). “….engkau yang memberi hadiah umpan kepada semua yang mecintai engkau sebagai bujukan, supaya mereka dari sekitarmu datang kepadamu untuk bersundal” (ay. 33). “….. Aku akan menyingkap auratmu di hadapan mereka, sehingga mereka melihat seluruh kemaluanmu: (ay. 37).

3.        Ulangan 23: 1-2, Tuhan menyebut “Buah Pelir”.

4.        Hosa 3: 1, nabi Hosea disuruh Tuhan untuk mencintai perempuan yang suka bersundal (pelacur) dan berzinah. Jika benar bahwa Tuhan pernah menyuruh nabi-Nya untuk mencintai pelacur, semua laki-laki akan rebutan menjadi nabi. Dan, semua wanita akan rebutan untuk menjadi pelacur, supaya dicintai oleh nabi Allah.

5.        Kidung agung 4: 1-7, puisi rayuan yang memuji kecantikan dengan menyebut buah dada dan susu.

6.        Kejadian 38: 8-9, kisah asal-usul onani (masturbasi) oleh leluhur Yesus.

7.        Kidung Agung 7: 6-13. Puisi Kenikmatan Cinta yang memuji kecantikan dan cinta yang memakai kata-kata seksual, yakni keindahan buah dada dan keinginan untuk memegang-megang buah dada. “Sosok tubuhmu seumpama pohon korma dan buah dada gugusannya. Aku ingin memanjat pohon korma itu dan memegang gugusan­gugusannya. Kiranya buah dadamu seperti gugusan anggur.

Pelecehan Alkitab (Bibel) kepada Tuhan

1.        Tuhan menyesal dan pilu hati? (Kejadian 6: 5-6, Keluaran 32: 14).

2.        Tuhan mengah-mengah, megap-megap, dan mengerang seperti perempuan yang melahirkan? (Yesaya 42: 13).

3.        Roh Tuhan melayang-layang (terapung-apung) di atas permukaan air? (Kejadian 1: 1-2).

4.        Tuhan jorok, menyuruh makan tahi? (Yehezkiel4: 12-15).

5.        Tuhan kelihatan alas kaki-Nya? (Kleuaran 24: 10).

6.        Tuhan merasa jenuh/jemu/bosan? (Yeremia 15: 6).

7.        Tuhan petak umpet dengan Adam? ( Kejadian 3: 8-10).

8.        Tuhan besanan dengan manusia? (Kejadian 6: 2).

9.        Tuhan kalah dalam duel melawan Yakub? (Kejadian 32: 28).

10.     Tuhan bersiul memanggil manusia? (Zakharia 10: 8).

11.     Tuhan bersuit? (Yesaya 7: 18, Yesaya 5: 26).

12.     Tuhan menengking? (Yeremia 25: 30).

13.     Tuhan lelah kepayahan dan kecapaian? (Keluaran 31: 17).

14.      Tuhan menyuruh mencintai pelacur? (Hosea 3: 1).

15.     Tuhan kelihatan punggungnya-Nya? (Keluaran 33: 23).

Pelecahan Alkitab (Bibel) kepada Para Nabi Allah

1.        Nabi Nuh mabuk-mabukan sampai teler dan telanjang bugil (Kejadian 9: 18-27).

2.        Nabi Luth menghamili kedua putri kandungnya sendiri dalam dua malam secara bergiliran (Kejadian 19: 30-38). Heboh… ! ! ! Skandal seks ayah dan anak kandung oleh nabi??

3.        Nabi Daud melakukan slandal seks dengan Batsyeba, istri anak buahnya sendiri. Setelah Batsyeba mengandung suaminya dibunuh oleh Daud, kemudian Batsyeba dinikahi Daud diboyong ke istana (II Samuel 11: 2-27).

4.        Ketika sudah tua, Nabi Daud tidur dengan perawan yang masih muda (I Raja-raja 1: 1-3).

5.        Nabi Yakub bekerja sama dengan ibu kandungnya untuk membohongi dan menipu ayah kandungnya, supaya Israel diberkati (Kejadian 27: 1-46).

6.        Yehuda (putra Nabi Yakub) menghamili menantunya sendiri (Kejadian 38: 13-19). Skandal seksa ayah dan menantu dalam kitab suci !?

7.        Absalom (putra Nabi Daud) memperkosa gundik ayahnya sendiri (II Samuel 16: 21-23). Perselingkuhan anak dengan ibu (gundik ayah) dalam Kitab Suci?!

8.